Its NOT Me

Yahya Waloni, Guru atau?

oleh DerielHD

25 August 2019

Tulisan ini bukan untuk menjelekkan satu pihak atau juga untuk menghina. Tulisan ini bertujuan untuk membuka pola pikir kita semua. Mohon pengertiannya, terima kasih.

Siapa Yahya Waloni atau Yang bernama lengkap Yahya Yopie Waloni atau juga Ust. Muhammad Yahya Waloni? Menurut beberapa sumber, Nama Yahya Waloni mendadak viral setelah kembali muncul sebagai ‘Pahlawan’ yang membela UAS karena menurutnya UAS sedang dizalimi oleh kelompok minoritas yang dalam beberapa ceramahnya menyebut kaum minoritas dengan sebutan kafir (sumber).

Sebenarnya penulis sudah mengetahui UYW ini sejak lama, apalagi ketika berita mengenai dirinya menjadi mualaf itu viral. Namun baru kali ini penulie berkesempatan untuk menulis karena menurut penulis UYW sudah sangat melampaui batas. Dalam beberapa kesempatan ceramah, sering kali menggunakan kata-kata kasar yang cenderung menghina atau merendahkan orang lain. Maka tak heran ketika ditahun 2018 kemaren, Yahya Waloni sempat dilaporkan ke pihak kepolisian atas hinaan terhadap Ibu Megawaty Sukarnoputri, Kyai Ma’aruf Amin, dan TGB atau Tuan Guru Bajang.

Yahya Waloni, pria kelahiran Manado, 30 November 1970 dengan nama lengkap Yahya Yopie Waloni sempat mengaku pernah lulus dari Sekolah Tinggi Teologi Calvinis, di Manado, kemudian menjadi Pendeta di GKI (Gereja Kristen Indonesia) selama 16 tahun, juga mengaku pernah menjabat rector di UKIP, Papua. Namuan setelah videonya viral, belakangan banyak yang berkata bahwa Yahya Waloni tidak pernah menjadi rector akan tetapi hanya pernah ikut pemilihan rector namun tidak pernah terpilih.

Bukan hanya itu saja, setela videonya yang berceramah dan melakukan pembelaan terhadap UAS serta tantangan terhadap pendeta-pendeta dan petinggi gereja, sudah ada beberapa Pendeta yang siap menerima untuk berdebat dengannya namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari Yahya Waloni.

Oke… sudah cukup mengenai perkenalan singkat Yahya Waloni yang penulis yakin sobat pembaca itsme juga sudah banyak yang mengetahui. Pertanyaannya sekarang adalah, jika kita semua sudah melihat siapa sosok UYW (disingkat aja ya, biar mudah), bagaimana perasaan kita melihat UYW merendahkan dan menghina agamanya yang sebelumnya? Teriak-teriak di setiap ceramah bahwa Bible atau alkitab itu palsu dan penuh kebohongan (bisa nonton kembali videonya), atau kita kembali mundur ke beberapa tahun lalu ketika ada seorang suster yang menjadi mualaf kemudian dengan bangganya berceramah dan menurutnya ‘membongkar’ kepalsuan ajaran saudara-saudara kita yang dari nasrani?

Sobat, tidak ada kemuliaan yang didapat dari sebuah hinaan. Yang ada hanyalah rasa malu dan perpecahan. Mengenai siapa UYW, saudara-saudara dari Nasrani sudah cukup sabar menghadapi ceramah beliau yang merasa paling tahu dan paling benar, sementara umat yang mendengarkan ceramahnya manggut-manggut seakan mengerti tanpa sadar nalarnya sedang dicuri. Begi mereka yang pikirannya terbuka, ceramah UYW tidak lebih dari ceramah seorang yang pernah sangat kecewa dengan agama sebelumnya (mungkin saja kecewa dengan oknum) sehingga akhirnya dipenuhi dengan cacian dan hinaan, sementara bagi mereka yang pengetahun agamanya belum tinggi, ceramahnya bagaikan pelajaran berharga yang sulit untuk dilupakan.

Berapa lama UYW akan bertahan? Sampai kapan UYW akan bangga dengan agama yang dianutnya saat ini jika dengan agama sebelumnya saja UYW begitu bencinya? Apakah ada yang menjamin UYW akan setia dengan kayakinannya saat ini? Hanya Allah yang mengetahuinya.

Sekali lagi, tidak ada kemuliaan yang didapat dari sebuah hinaan terhadap umat pemeluk agama lain. Kita sebagai umat dan masyarakat, sebaikna mulai mandiri dan membuka pikiran kita untuk pengajaran-pengajaran baru yang lebih baik sehingga kita bisa membedakan yang mana yang berasal dari Tuhan atau yang mana yang jahat dan menyesatkan.

sumber lain :
https://akurat.co/news/id-736505-read-jadi-sorotan-karena-bela-uas-5-fakta-sosok-ustaz-yahya-waloni

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis