Its NOT Me

Wowo, Si Penghutang yang hobi ngomongin hutang

oleh DerielHD

30 July 2018

Lagi heboh soal hutang desa nih, dan Kawanku si Wowo sedang menjadi perbincangan tetangganya. Bukan tanpa sebab, karena kawanku ini senang banget mengomentari soal urusan hidup orang lain, apalagi jika orang lain tersebut memiliki hutang. Memang, kelihatannya tidak ada orang lain di dunia ini yang sangat mengerti soal hutang selain kawanku ini.

Pertanyaannya, siapa si Wowo kawanku ini dan apa kehebatannya atau jabatannya? Nggak ada yang penting sih sebenarnya. Kawanku ini memang adalah pimpinan sebuah komunitas di kampungnya, kemudian pernah menjabat sebagai pemimpin kelompok tani juga, dan disela-sela kesibukannya, kawanku ini senang memelihara kambing. Dia sangat senang dengan kambing-kambingnya. Bahkan saking sayangnya, si Wowo dan kambing-kambingnya sering terlihat berjalan bersama.

Bisa dikatakan si Wowo sebenarnya bukanlah siapa-siapa, tetapi karena kekayaannya, dia ingin dipandang sebagai seseorang yang berguna.

Kembali lagi soal hutang. Nah si Wowo ini seneng banget ngomongin hutang desa yang katanya udah sangat menumpuk dan bisa membuat desa tempat dia tinggal itu bangkrut dan akhirnya dikuasai oleh desa tetangga. Kemudian si Wowo juga bilang kalo banyak tenaga kerja dari desa tetangga yang sudah merampas lahan pekerjaan di desanya. Terus makin kesini, katanya kalo asset desa dan sumber kekayaan desa sudah mulai dijual dan dikuasai oleh pihak desa tetangga. Dengan data-data itulah hingga akhirnya si Wowo bahkan sudah meramalkan bahwa sebentar lagi desanya akan lenyap dari peta kecamatan.

baca juga : Angka kemiskinan dibawah 10%? Seriously?

Si Wowo memang ahli. Berkali-kali si Wowo mencoba untuk melamar dan mencalonkan diri menjadi kepala desa, akan tetapi si Wowo selalu kalah. Mungkin akibat dari sering kalah dalam pemilihan kepala desa membuat kawanku ini semakin beringas. Comot data desa yang gak tau dari mana, teriak-teriak desa mau bubar, bahkan membanggakan dirinya sebagai satu-satunya penyelamat desa.

Apa iya? Ah si Wowo.. hutangnya di warteg aja belum dia lunasi.. orang kerja dipabrik tempe mendoannya saja sudah hamper 5 tahun belum dia gaji, kok bisa dia jadi ahli hutang? Tapi bisa juga sih.. kan si Wowo juga suka ngutang..

Denger-denger, si wowo mau mencalonkan lagi di pemilihan kepala desa edisi berikutnya, si Wowo mulai merapat sana-sini, data-data desa mulai dia kumpulkan lagi supaya bisa menjadi senjatanya dalam bertarung dalam Pilkades nanti.. Tapi bukannya melakukan hal baik yang bermanfaat, si Wowo malah sibuk teriak-teriak soal hutang desa. Mungkin menyenangkan bagi pencintanya, tapi bagi orang lain, suara si Wowo bagaikan tong kosong yang bunyinya memekakkan telinga.

baca juga : Cara sukses menurut Alquran

Itulah kisah si Wowo, kawan saya. Apa yang bisa kita pelajari dari si Wowo? Kegigihannya! Berulang kali dia gagal dalam Pilkades, akan tetapi dia terus mencoba. Mungkin karakter pantang menyerah itu memang dia dapatkan selama pendidikan siskamling waktu dia masih muda. Keburukan si Wowo? Ya, si Wowo terlalu pusing dengan hal yang tidak penting. Ngomongin hutang desa padahal hutangnya sendiri belum bisa dia bayar. Ngomongin cinta desa tapi malah menimbulkan perpecahan.

Jangan ditiru ya sobat. Mungkin kisah ini hanyalah fiksi belaka, kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin hanya menjadi sisi kreatif saya sebagai penulis untuk mendramatisir kisah hidup tokoh dalam cerita ini. Akan tetapi, dari kisah ini kita bisa menarik sebuah garis besar bahwa tidak baik terlalu banyak ngomongn orang sementara hidup kita sendiri belum memberikan makna bagi orang lain disekitar kita. Mungkin sudah bagi pendukung kita, tetapi bagaimana dengan orang lain? Oleh karena itu, jadilah manusia yang memanusiakan manusia lainnya tanpa memperdulikan apa sukunya, agamanya, bahasanya, bahkan perbedaan pendapatnya.. jadilah Berguna!

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis