iT’s Me- Ada perasaan gembira di pagi (5 Oktober 2017) itu. Rencananya, saya dan keluarga akan menghadiri pesta pernikahan seorang dosen di Harbin, China. “Berada di antara tamu undangan sembari menyaksikan prosesi pernikahan dengan tata cara dan adat istiadat yang berbeda, terlebih lagi di lain negara, tentu akan menjadi pengalaman menarik,” pikirku dalam hati.
Sekitar pukul 09.30 saya bersama empat puluhan mahasiswa dan beberapa dosen tiba di lokasi. Oleh pihak yang punya hajat, kami dipersilahkan naik ke lantai tiga di gedung itu. Begitu masuk ruangan, saya melihat tatanan meja dengan kursi melingkar, yang lebih dari separuhnya telah terisi tamu undangan.

Seorang petugas memandu mencarikan tempat duduk bagi kami yang baru datang, terlebih untuk tamu undangan yang muslim. Iya, sejak beberapa minggu sebelumnya pihak mempelai pengantin pria sudah memastikan, di pesta itu akan disediakan satu meja khusus dengan hidangan menu makanan dan minuman halal. Empat orang dari Indonesia, satu orang dari Kazakhstan, satu orang dari Rusia, tiga orang dari Nepal dan seorang lagi dari Amerika. Kami bersepuluh duduk di kursi melingkar, menghadap satu meja. Di atas meja terdapat tulisan berbahasa China, Liuxuesheng Heilongjiang Daxue – Qingzhen (artinya, “mahasiswa internasional Universitas Heilongjiang – Muslim”).

Sebenarnya hanya ada enam orang undangan Muslim. Tetapi kerena tidak mengonsumsi makanan yang berasal dari daging (vegetarian), teman dari Nepal dan Amerika tadi duduk bersama kami, di meja berlabel hidangan halal. Sekitar pukul 10.30 tahap-tahap prosesi pernikahan perpaduan adat China-Eropa dimulai. Setelah berlangsung selama kurang lebih tujuh puluh menit, tiba saatnya cara jamuan makan. Di atas meja di depan kami terhidang aneka masakan yang menggugah selera. Beberapa jenis ikan, daging ayam, dan aneka sayuran yang dimasak dengan bumbu dan olahan khas China. Meja penuh dengan hidangan.

Kepada saya, seorang teman dari Kazakhstan berkata, dia tidak akan menyentuh sedikit pun makanan-makanan itu. “Tuan rumah memang sudah mengetahui, kita seorang Muslim. Dia juga telah memastikan bahwa hidangan yang dia berikan tidak ada unsur dari daging haram (babi, dan sejenisnya). Dia juga tahu, kita tidak minum bir. Tetapi kita tidak tahu, makanan itu dimasak secara terpisah atau tidak,” katanya memberikan argumen. Saya bisa memahami keragaman ekspresi cara beragama teman-teman mahasiswa Muslim yang berasal dari berbagai negara itu. Terlebih lagi, saya sudah bergaul dengan mereka selama lebih dari setahun. Kejadian seperti ini tidak yang pertama kali. Di antara mereka juga ada yang masih meragukan, misalnya ‘kebenaran’ status halal masakan-masakan yang dijual di restoran Muslim di dalam kampus kami. Jadi, yang seperti ini sudah biasa.

Saya melihat, ada dua faktor yang melatar-belakangi keragaman ekspresi beragama seseorang. Pertama, tradisi keagamaan di lingkungan keluarga. Bagaimana para orang tua dan kerabat terdekat memberikan keteladanan, maka perilaku seperti itulah yang akan diekspresikan seorang anak ketika mereka berada jauh dari tempat asalnya. Kedua, pengetahuan ilmu agama yang dimiliki seorang Muslim. Semakin luas wawasan ilmu agama seseorang, dia akan memiliki variasi pilihan (berdasarkan pertimbangan keislaman) dalam menyikapi kondisi di depannya. Bila kita membuka literatur fikih, misalnya, di sana ada beberapa pendapat ulama dalam menyikapi (cara mensucikan) alat-alat yang digunakan untuk memasak atau tersentuh oleh najis (daging babi). Termasuk bagaimana seyogyanya seorang Muslim merespon undangan perjamuan makan dari saudaranya yang ‘berbeda’.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)