iT’s Me- Kurang Lebih tujuh belas tahun usia pernikahan saya dan istri. Tak terasa kami telah menjalani hari-hari bersama melewati waktu yang sudah begitu lama. Banyak cerita hidup baik suka dan duka yang telah kami lalui bersama. Syukur alhamdulilah Allah memberi kami kemampuan untuk dapat melewatinya bersama. Tiga buah hati yang diamanahkan Allah kepada kami pun telah bertumbuh dewasa menjadi anak-anak yang manis. Atas semua ini, hanya doa dan ucapan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah merahmati pernikahan kami dengan segala kebaikan.

Tujuh belas tahun bukanlah waktu yang pendek bagi kami mengayuh bahtera rumah tangga ini. Ada ombak dan badai kadang hadir silih berganti menerpa namun alhamdulilah sejauh ini kami masih bersama dalam ikatan suci ini. Ini bukan karena kami memiliki sisi kesamaan kepribadian yang lebih dominan, justru sebaliknya kami memiliki begitu banyak perbedaan dari sisi kepribadian masing-masing. Secara usia, istri saya selisih 4 tahun lebih tua dari saya. Dari sisi kepribadian, Saya lebih menyukai segala sesuatu yang teratur dan tertata apik sementara istri saya tidak. Dari segi minat, saya menyukai semua yang berbau teknologi sementara istri saya gaptek.

Ditempat tidur, saya ingin langsung tidur saja namun istri saya lebih suka mengobrol terlebih dahulu bahkan ia menceritakan hal-hal sepele secara mendetail seperti bagaimana hari itu ia berbelanja cabe sekilo dipasar, harganya naik Rp.1000, harga telur naik Rp. 2000, penjualnya mengeluh ini dan itu dan lain sebagainya. Istri saya begitu sabar bahkan kadang kelewat sabar sementara saya tidak. Jika di buat tabel perbandingan antara persamaan dan perbedaan maka hampir dipastikan perbedaanlah yang begitu menonjol.

Namun walau diantara kami berdua ada begitu banyak daftar perbedaan tapi satu hal penting yang membuat kami terus bersama hingga lima belas tahun kini, yaitu Cinta. Ya, hingga saat ini kami tetap disatukan oleh cinta yang terus menerus bertumbuh dari waktu ke waktu. Cinta lah yang merekatkan kami menjadi satu. Cintalah yang membuat kami saling memahami dan menerima perbedaan itu sebagai satu keunikan dari masing-masing kami. Kami sadar sedari awal kami berjumpa hingga akhirnya menikah, kami adalah dua hati yang menjadi satu bukan dua hati yang menjadi sama. Kami adalah dua yang disatukan bukan dua yang disamakan. kami memiliki sifat dan karakter yang berbeda namun disatukan oleh cinta dalam ikatan yang bernama pernikahan.

Menyadari bahwa pasangan kita memilki sifat dan karakter serta kepribadian yang berbeda dengan kita adalah sebuah hal baik dalam sebuah pernikahan. Karena dengan begitu maka kita tidak akan menjadikan perbedaan itu sebagai satu momok utama dalam hubungan kita. Justru sebaliknya kita akan belajar bagaimana bisa menerima dan menghargai perbedaan itu.

Selama tujuh belas tahun kami belajar bahwa upaya keras untuk mencoba membuat pasangan kita menjadi sama dengan kita adalah upaya yang justru membuat hubungan itu menjadi semakin renggang. Sebaliknya ketika kita berupaya untuk memahami perbedaan pasangan kita, hal itulah yang justru semakin menyatukan kita.

Satu hal yang saya pelajari dari kesalahan yang saya lakukan pada tahun-tahun awal pernikahan kami, adalah terus berupaya menjadikan istri saya menjadi pribadi yang seperti apa yang saya mau. Saya selalu berupaya supaya istri saya menjadi seperti saya dan ternyata hasilnya kami mengalami masa-masa yang suram. Saya akhirnya menyadari bahwa ternyata sifat, karakter dan kepribadian saya pun tidak lebih baik dari dirinya. Saya adalah orang yang tidak sabaran, emosional, boros, dan masih banyak segudang hal buruk lainnya. Olehnya upaya menjadikan istri saya sama seperti saya hanyalah upaya menambah volume ketidak baikan dalam hubungan pernikahan kami.