Its My Family

Untuk Suamiku Tersayang..

oleh arpan

14 April 2018

Aku minta maaf atas segala sikap dan perkataan kasarku, maaf atas segala emosi yang tidak seharusnya aku lampiaskan kepadamu. Demi Allah, aku 100% percaya kepadamu, aku percaya kesetiaanmu dan aku yakin kamu tidak akan bermain hati dengan wanita lainnya. Tapi aku mohon…jangan sepelehkan perasaanku ini, tidakkah kau sadar, selama kita bersama aku tidak pernah mempersoalkan semua aktifitasmu. Dan tidak sedikit pun aku curiga kepadamu.

Suamiku sayang….. Jangan karena aku diam, lantas tidak kamu perdulikan perasaan dan pendapatku. Kamu seenaknya buat janji, melakukan apapun tanpa bertanya dan meminta izin kepadakau. Aku sangat paham kau adalah imamku, pemimpin dalam rumah tangga ini. Namun apa salahnya jika merendahkan hatimu, sekedar memberitahuku. Tidak ada satupun wanita di dunia ini yang bahagia melihat suaminya lebih peduli kepada wanita selain istrinya, bahkan wanita yang “setuju” dengan poligami sekalipun. Bohong jika tidak sedikitpun terbesik rasa sakit di hatinya saat tahu suaminya akan berbagi kasih kepada wanita lain.

Suamiku sayang….. Aku tidak cemburu, tapi aku kecewa dengan sikap “tenangmu” kepadaku, seolah-olah perasaanku ini tidak penting untuk kau hargai. Di sisi lain aku menyesal dengan segala tindakanku yang membuatmu sangat marah dan malu, tetapi aku mohon pahami kebutuhanku. Sebisa mungkin aku pendam kekecewaan ini karena aku menghargaimu sebagai kepala rumah tangga, tetapi kamu juga harus paham, wanita perlu di ajak bicara untuk meluapkan emosinya.

Jika aku marah dan tidak ada penjelas darimu, sementara tidak ada yang aku percaya untuk membagi keresahanku. Lalu aku harus bagaimana agar pikiranku benar-benar tenang. Beban tidak akan hilang hanya dengan kata “MAAF”, wanita perlu kepastian bukan sekedar janji. Kamu adalah suamiku, kamu bukan wakil rakyat yang mulutnya berbusa-busa dengan janji-janji palsu. Jadi jangan perlakukan aku seperti rakyat miskin yang kau sanjung saat ada maunya saja.

Sesulit itukah menunjukkan rasa penyesalanmu kepadaku, aku pernah bilang… Apa yang kau lakukan kepdaku, itu juga yang aku perbuat kepadamu. Bukan untuk melampiaskan kekecewaanku, tetapi mungkin itu salah satu cara agar kamu paham betapa tidak enaknya di perlakuan sepert itu. Aku mohon…. Hargai posisi aku sebagai istrimu, yang masih membutuhkan banyak bimbingan darimu. Ajak aku bicara, bukan memutuskan segala sesuatunya sendiri.

Suamiku sayang….. Luangkan sedikit waktumu untukku, aku masih butuh perhatian darimu. Tunjukkan rasa sayangmu yang dulu, agar aku mengerjakan bagianku dengan penuh semangat dan ikhlas. Agar aku benar-benar bisa mengerjaan semua dengan dasar cinta, bukan karena terpaksa. Aku tahu, kamupun pasti sadar kalau aku berubah, tidak seperti kemarin-kemarin. Aku masih ingin seperti dulu, saat pertama kali kita bertemu. Ayo kita perbaiki semuanya, aku ingin kamu yang dulu. Aku rIndu sosokmuĀ  yang sekarang pelahan-lahan hilang.

Suamiku sayang…. Terlepas semua rasa yang berkecamuk, aku akan tetap berusaha menerimamu apa adanya, bahkan semua perubahanmu. Aku sadar, tidak ada satupun di dunia ini yang kekal, bahkan kebahagian itu. Semoga apa yang terjadi kepada pernikahan kita adalah pelangi selepas hujan. Membuat kita semakin dewasa dalam menyikapi persoalan, dan peka terhadap perasaan masing-masing. Ini adalah awal dari kita, apa yang sudah terjadi adalah pelajaran berharga untuk kita berdua. Jangan biarkan anak kita kelak melihat semua kisah ini. Aku berharap, kepada yang aku percayakan menulis ini dan kepada pembaca, akan mendapat pelajaran berharga dari kisah kita! –w

arpan