Its NOT Me

Untuk Menjadi Tuan, Politisi Menampilkan Diri Seperti Pelayan, Benarkah?

oleh arpan

28 June 2018

“Untuk menjadi Tuan, para politisi menampilkan diri seperti pelayan”. Kira-kira seperti itulah kata seorang filsuf Yunani, plato. Dan memang jika kita melihat sepak terjang para politisi khususnya di indoneia, hanya beberapa orang yang benar-benar mampu memposisikan dirinya sebaga pelayan rakyat. Tidak perlu di sebutkan namanya karena masing-masing orang tetap akan mengarah pada pilihannya, begitu pun sebaliknya. Hari ini pemerintah daerah melakukan segala cara untuk menarik hati rakyatnya untuk memilih adlah karena beberapa orang memang sudah muak dengan kinerja beberapa politisi, mungkin mereka bosan di jadikan branding selama masa kampanye, dan pada akhirnya mereka tidak merasa adanya perubahan nyata. Salah satu branding paling laku saat kampanye adalah “Bela orang miskin, bela agama, bela islam dan masih banyak lagi”. Segala macam cara di gunakan, menyesuaikan dengan isu yang berkembang, dan lucunya banyak juga yang memilih bukan karena kinerjanya hanya karena tampilan dan identitas.

Lalu bagaimana dengan daerah serambi madinah Gorontalo? Berdasarkan hasil quick count count pilwako sementara ini unggul No urut 2 yaitu pasangan Marthen Taha dan Ryan Kono (MATAHARI), mereka mempeolehan suara 42,134 atau 41,25 persen, sementara pasangan nomor urut 1 Adhan Dambea-Hardi Hemeto memperoleh suara 36,762 atau 35,99 persen. Kemudian calon nomor urut 3 Rum Pagau-Rusliyanto Monoarfa peroleh 23,333 atau 22,75 persen. Sisa 2 TPS terakhir yang belum dari total TPS 258 kota gorontalo. Kemenangan quick count adalah hasil dari semua pihak bukan atas kehebatan mereka atau partai politik bukan juga tim sukses kami, kemenangan nomor urut 2 adalah kemenangan masyarakat. Kira-kira begiu katanya. Kandidat yang unggul juga berharap kepercayaan dari semua pihak ini akan di jaga dan bisa amanah untuk melanjutkan pembagunan di kota gorontalo. Dan tetap menungu hasil dari tiap kecamatan dan teakhir dari KPU kota gorontalo.

Terlepas dari pro dan kontra kemenangan dalam sebuah pesta demokrasi pada akhirnya kita akan sampai pada kesipulan bawah “Kecintaan masyarakat kota gorontalo kepada Pemenang sebagai walikota masih menempel kuat dibenak rakyat, masyarakat melihat dari berbagai segi perbaikan kota, pembangunan dan lain-lain atau juga program-program yang di tawarkan sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat. Dan hasil dari kemenangan ini adalah bukti kecintaan rakyat. Masyarakat sangat antusias untuk datang mendengarkan penyampaian calon wali kota yang memperoleh suara terbanyak!”. Tentu pihak kalah akan berpikir bahwa ungkapan-ungkapan seperti ini hanyalah pencitraan! Dalam politik respon-respon kurang mengenakkan itu biasa, terpenting adalah masing-masing pihak bisa menahan emosi agar tidak terjadi kegaduhan, dan jika hasil mutlak telah di putuskan, maka semua rakyat dan khsusnya yqng buksn pendukung harus menghargai keputusan hasil demokrasi, tidak boleh ada dendam.

Bagi kandidat di seluruh indonesia, yang menang maupun yang kalah harus tetap bersatu agar program-program kandidiat terpilih bisa berjalan baik, kemudian kandidat terpilih tidak boleh pilih kasih, pembangunan harus di sama ratakan, begitupun dengan bantuan. Siapa yang lebih membutuhkan entah dia pendukung atau tidak sudah menjadi kewajiban bagi pemimpin terpilih yang notabene adalah pelayan rakyat memberikan hak-hak mereka, tanpa pandang bulu. Kalaupun ada pihak yang tidak rela dengan kekalahannya maka sebaiknya menggunakan jalur-jaur hukum yang baik, karena undang-undag sudah mengatur semuanya. Tidak perlu menggunakan cara-cara premanisme atau bahkan demo berjus-jus. Ingat pesan Presiden indonesia “pengorbanan para pahlawan mempersatukan bangsa ini sangat besar, jangan di rusak hanya karena perbedahan pilihan”, kira-kira begitu!

Moh.Rizky Mantulangi/sajaddahlive

arpan