Its My Life

Toleransi, siapa memaklumi siapa?

oleh DerielHD

22 December 2018

Toleransi, apa yang ada dibenak sobat pembaca ketika mendengar atau membaca kata ini? Kerukunan? Saling menghargai? Saling menghormati? Mementingkan kepentingan banyak orang ketimbang kepentingan pribadi? Ya, semuanya benar. Akan tetapi pertanyaannya sekarang adalah, apakah semua sikap toleransi yang ada di pikiran kita sudah teraplikasi dalam kehidupan kita? Apakah semua sikap toleransi tersebut sudah secara adil diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat?

baca juga : Amal perbuatan (seseorang) tidak akan membuatnya masuk surga, bahkan Rasulullah?

Saya masih ingat ketika tinggal di suatu daerah di jawa, ketika lebaran tiba, semua masyarakat entah itu yang merayakan atau yang tidak merayakan, semuanya terlibat dalam kegiatan. Mulai dari bersih-bersih lingkungan hingga bersilaturahmi dari rumah ke rumah. Begitu juga sebaliknya ketika hari Natal tiba, atau Lebaran Kristen, begitu yang dikatakan oleh umat Muslim. Dan kerukunan itu terus terjaga hingga kini, meskipun akhir-akhir ini isu sara sangat kental menggema di seluruh Indonesia, apalagi dengan suhu politik yang kian memanas.

Benar bahwa Toleransi itu artinya adalah sebuah sikap yang menyebabkan kerukunan. Toleransi adalah hubungan dan komunikasi dua arah antara pihak yang satu dengan pihak yang lainnya. Namun, sekali lagi saya bertanya, apakah benar semuanya itu sudah terlihat dalam kehidupan bersosial di bangsa kita? Masih ingat ketika ada kelompok yang berteriak soal dilarang memilih pemimpin yang bukan dari kaummnya? Atau yang tidak mau mendoakan jenazah salah satu pendukung calon pemimpin tertentu? Atau yang teriak-teriak mengkafirkan agama tertentu? Atau juga yang membubarkan sebuah acara keagamaan tertentu? Kalau sudah seperti itu, sikap toleransinya dibagian mananya?

Sebenarnya dengan sikap toleransi, dunia ini bisa menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni, jauh dari oknum-oknum egois yang hendak menguasai, jauh dari sikap membenci sesama manusia.

Contoh kasus jika kita bersahabat dengan orang yang merokok misalnya. Bersama mereka sobat nongkrong ke sebuah restoran atau kafe. Siapa yang harus bertoleransi? sobat yang tidak merokok atau si sahabat yang merokok? apakah sobat harus memesan ruangan yang khusus untuk merokok atau yang tidak merokok?

baca juga : Bahagia itu sederhana, Berbahagialah!

Terbayang sebuah suasana yang sangat nyaman dimana semua orang hidup berdampingan dengan rukun dan damai, tidak ada yang alergi melihat salib, tidak ada yang risih dengan kerasnya suara adzan yang berkumandang, dengan bau dupa yang dibakar saat sembayang, hingga berbagai macam perayaan dan atribut dari agama tertentu.

Bagaimana dengan toleransi beragama? Mungkin ini hanya ulah segelinti oknum saja, namun Kejadian di Jogja kemaren, dimana ada tanda salib di kuburan dipaksa untuk dipotong (supaya tidak terlihat seperti salib), atau jenazah yang ditolak untuk dishalatkan, sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa di negara yang begitu luas ini masih banyak oknum-oknum yang egois yang tidak senang akan kerukunan dan kedamaian.

“Akan tiba masanya, dimana semua orang dari berbagai bangsa akan datang dan menyembah Tuhan dengan berbagai macam kebudayaan berbeda”, Kata seorang sahabat waktu itu. Dan saya yakin itu bukan sebuah pernyataan omong kosong belaka. Memang akan tiba masanya dimana hal itu akan terjadi, akan tetapi kapan dan bagaimana itu akan terjadi semuanya tergantung kita, apakah kita sudah cukup rendah hati atau kita masih terlalu egois untuk melihat dunia ini dengan labih luas.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis