Its My Family

Tidak Mudah Mengganti Posisi Ayah

oleh arpan

21 February 2018

iT’s Me- Aku tinggal di sebuah daerah bagian timur indonesia, aku anak ke tiga dari lima bersaudara dan aku terlahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi lemah. Ayahku seorang pegawai biasa di salah satu sekolah dasar negeri dengan gaji perbulanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan kelima anaknya. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga, masa itu kami masih bergantung kepada ayah. Dari lima bersaudara hanya aku yang laki-laki, tiba kami harus merelakan sosok ayah yang begitu baik, santun dan penyabar. Kami semua harus ikhlas melepas kepergiannya, berat! Namun tidak ada pilihan selain tetap tegar.

Kepergian ayah mengharuskan aku menjadi pengganti dalam menafkahi ibu, dan adik-adik yang masih belajar di bangku sekolah dasar. Aku berupaya mendapatkan pekerjaan tetap untuk dapat mencukupi kebetuhan mereka, melamar sebagai pegawai negeri hingga jadi karyawan di perusahaan pembiayaan, namun baru beberapa bulan bekerja sudah di PHK. Akhirnya aku berpikir untuk membangun perusahaan, tapi terkendala di modal awal. Meskipun dalam kenyataannya mustahil untuk membangun perusahaan, karena untuk makan saja aku kesusahan, tapi aku tetap kokoh pada pendirianku.

Aku mulai menyampaikan ideku ke beberapa teman, bagiku mereka mau turut serta atau tidak itu terserah. Paling tidak mereka mau mendengar ide-ideku membangun sebuah perusahaan, dan alhamdulillah salah satu teman tertarik dengan ide yang aku lontarkan kepadanya. Akhirnya kami memulai dengan modal pinjaman dari teman-teman dekat, terkadang kami harus melakukan sedikit trik dengan pihak pemerintah agar perusahaan kami tetap jalan, karena izin perusahaan kami yang masih kurang dan kami harus mengumpulkan uang terlebih dahulu untuk dapat melengkapi izin tersebut. Disisi lain pihak pemerintah belum sepenuhnya mengizinkan perusahaan kami beroperasi.

Tidak mudah mengganti posisi ayah, banyak rintangan dalam mengemban tanggung jawab menjadi seorang ayah. Enam tahun perusahaan kami beroperasi tetap belum menunjukkan hasil yang kami harapkan, penghasilan perusahaan hanya mampu membeli perlengkapan alat tulis,meja dan kursi. Di tahun ke tujuh kami mendapatkan bantuan dalam bentuk fasilitas perusahaan yang sangat lengkap, dan bagi kami itu adalah anugerah besar dalam perjalanan kami menghidupi perusahan ini. Aku sangat bersyukur dengan kondisi tersebut, kondisi perusahaan kami semakin membaik dengan adanya fasilitas yang lengkap dan benar-benar mengantarkan perusahaan ini dari tidak jelas sampai beroleh status hukum yang jelas. Berkat niat yang sungguh-sungguh dan tekad kuat, alhamdulillah aku bisa menghidupi keluargaku dengan baik. Yang terpenting adalah jangan luput dari rasa syukur.

Aku selau mengajarkan ke empat anakku untuk belajar mandiri sedari kecil, dan cara yang aku gunakan adalah dengan mengajarkan mereka berbisnis alias cari duit jajan sendiri. Kadang aku sudah siapkan mereka beberapa ratus¬† modal, lalu merekalah yang keliling menjual dodol tersebut. Mereka hanya perlu mengembalikan modal yang aku kasih, kemudian keuntungan buat mereka. Aku selalu memiliki cara agar mereka bisa mendapatan duit jajan sendiri. Mungkin bagi sebagaian orang, apa yang aku lakuan adalah hal yang memalukan terhadap anak-anakku. Tetapi begitulah caraku mendidik mereka, agar mereka berbeda dari kebanyakan anak zaman now.¬† Jika menginnginkan sesuatu maka harus berusaha mendapatkannya, tidak sepenuhnya bergantung kepada kedua orangtua. Semoga apa yang aku ajarkan kepada anak-anakku, membekas sampai mereka benar-benar dewasa! –Surahmad I Sakula

arpan