Its My Family

Tidak ada yang abadi.. mengapa bersedih?

oleh DerielHD

3 August 2018

Abadi? Apakah ada sesuatu atau seseorang di dunia ini yang abadi? Di bawah kolong langit ini memang tidak ada sesuatupun yang abadi. Harta, hidup, hubungan, semuanya pada akhirnya akan punah dan sirna ditelan waktu. Jika ada usaha manusia yang diklaim bisa membuat sesuatu menjadi abadi, pada akhirnya, sekali lagi, tidak bisa bertahan jika berperang melawan jahatnya waktu.

Entah kenapa saya ingin menuliskan ini, akan tetapi beberapa hari ini hati saya dilanda kegalauan tinggi. Kemarin saya bermimpi aneh mengenai anak yang aru saja bergabung dengan keluarga kami. Orang tua kandungnya datang dan menjemputnya kembali, dan benar saja, keesokan harinya saya mendapat kabar bahwa tidak akan lama lagi waktunya, anak kami ini akan segera kembali ke pangkuan orang tua kandungnya. Hati ini rasanya sedih sekali. Baru beberapa minggu anak ini bergabung bersama kami, namun akan segera pergi lagi.. baru saja saya menulis mengenai betapa bahagianya menjadi orang tua baru, namun saya harus kembali menuliskan pengalaman kehilangan lagi.. ingin rasanya hati ini berteriak dan bertanya “Mengapa?”…

baca juga : Menjadi orang tua beru, betapa Bahagianya

Berapa banyak lagi kesedihan yang harus kami tanggung? Bagaimana dengan perasaan malu? Kami sudah terlanjur memperkenalkannya ke oma dan opanya, om dan tantenya, abang dan kakaknya, kepada keluarga besar.. tak terbayangkan perasaan malu yang harus kami tanggung. Perasaan malu itu sedang menanti untuk menghampiri kami, dan seakan semakin menambah bahan olokan dari orang-orang yang tidak menyukai kami.. oh Tuhan, apa yang harus kami lakukan?

Ingin rasanya, setelah menyerahkan anak itu kembali ke kedua orang tuanya, kemudian kami langsung menghilang ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang mengenal kami. Memutus semua kontak dengan orang yang sudah terlanjur mengetahui kami dan anak itu, kalau bisa, menghilang dari dunia ini saja. Tetapi keadaan tetap menahan kami untuk melakukannya.

Mungkin memang sudah takdir kami untuk terus menerus menanggung rasa sakit hati dan rasa malu. Mungkin ini cara Tuhan untuk menguji seberapa besar kesetiaan kami kepadaNya. Klise ya? Emang! Hanya itu kalimat penghiburan yang bisa kami katakan kepada diri kami masing-masing. Minimal untuk terus menyemangati diri kami sendiri disaat duka itu datang menghantui.

baca juga : Yang harus dilakukan orang tua saat mengetahu anaknya mengalami depresi

Tidak, kedua orang tuanya tidak salah jika menginginkan anaknya kembali. Mungkin memang benar bahwa mereka masihlah anak-anak yang butuh bimbingan dan saran. Mengambil anak mereka kembali, Itu hak mereka karena bagaimanapun juga merekalah orang tua yang sah bagi anak itu, secara hukum kami tidak punya dasar untuk mempertahankan anak itu bersama kami. Dan atas dasar itu, tidak ada sedikitpun perasaan marah atau bahkan benci kepada kedua orang tua dari anak itu. Hanya doa terbaik untuk mengiringi kepergian anak kami ini nantinya. Tidak ada hal lain lagi yang bisa kami lakukan untuknya. Saat ini, biarlah anak kami ini merasakan kebahagiaan dan merasakan keutuhan keluarga bersama mama dan papa yang menemaninya, walaupun hanya sesaat.

Yah, ini skenario terburuknya. Di Dunia ini, idak ada sesuatupun yang abadi. Kami hanya bisa menyerahkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Biarlah segala yang terjadi dihari depan nanti adalah benar-benar merupakan kehendakNya, dan kiranya kami selalu mendapatkan kekuatan dan kebahagiaan dalam menjalani setiap proses hidup ini, karena semua yang dari Tuhan, itu baik adanya.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis