iT’s Me- Alhamdulillah puasa kurang lebih 14 hari lagi, saya merasa puasa bulan ini tidak jauh beda dengan puasa-puasa sebelumnya. Hanya saja puasa bulan ini penatnya lebih terasa, karena tenaga habis untuk mengurusi anak yang kadang rewel, khususnya di hari libur. Puasa saat bujangan jauh lebih ringan dibanding puasa setelah menikah dan saya harus tetap fokus serta ikhlas menjalaninya, sebab puasa bukan hanya soal menahan haus dan lapar.

Bagi saya puasa mengajarkan rasa empati, belajar jujur terhadap diri sendiri dan komitmen dalam menggapai kehidupan yang harmonis, tenggang rasa, dan cinta kasih. Tentu tidak mudah dalam mencapai goal yang di harapkan. Dalam kehidupan sehari-hari terutama di bulan ramadhan banyak hal yang bisa saja membuat saya lengah, hal umum seperti warung-warung yang buka di siang bolong, begitu juga dengan mereka yang tidak berpuasa muslim maupun non muslim. Setiap hari saya berhadapan dengan hal-hal seperti ini, kata mereka sebagai umat mayoritas saya berhak marah atau menegur.

Saya bersyukur warung-warung dan orang-orang yang dengan leluasa makan dan minum tidak mampu membuat saya marah dan kesal dalam hati. Karena saya merasa puasa hanya akan ternoda jika saya fokus memikirkan warung yang buka di siang hari atau memikirkan mereka yang dengan leluasanya makan dan ngopi di mall-mall. Menurut saya mereka bukan lagi anak kecil, saya pun bukan lagi anak-nak yang tidak paham dengan situasi dan kondisi  bulan ramadhan, mereka paham yang sesungguhnya dan tidak harus menejelaskan semua. Apa yang mereka lakukan adalah keinginan mereka. Sebagai orang yang berpuasa saya yakin kepada diri sendiri bahwa saya bukan orang lemah yang puasanya harus dihormati, saya bukan orang lemah yang dengan gampang tergoda masakan-masakan warteg atau restoran-restoran di mall.

Rasa empati, jujur kepada diri sendiri dan komitmen saya rasakan saat mampu menahan  amarah bahkan kepada yang saya anggap baik dan tidak seharusnya orang lain lakukan, khsusnya di bulan ramadhan. Saya percaya bahwa ramadhan tidak akan ternoda oleh mereka yang saya anggap kurang baik, ramadhan akan tetap suci meski orang-orang yang menjalankannya lalai. Saya melihat banyak orang yang katanya menjaga kesucian ramadhan tetapi tidak ada rasa empati, penuh amarah dan bahkan ada yang tidak jujur dengan diri sendiri.

“Katanya aksi Bela Kesucian Ramadhan, pagi-pagi sampai siang bolong sidak sana-sini, negur sana-sini. Cek and ricek tanpa sadar sisa tulang ikan masih nyangkut digigi dan masih terasa segar.” Dan ternyata nyangkutnya di gigi saya sendiri, tapi itu dulu! Terlalu sibuk “membela” kesucian bulan ramadhan hingga lupa menjaga kesucian hatinya.



Latest posts by arpan (see all)