Its My Life

Terimalah Kekalahan itu dengan Ikhlas

oleh DerielHD

28 June 2019

Berapa kali manusia harus bangkit dan terus berusaha mencapai tujuan dan potensi terbaiknya? Kapan terakhir kali sobat gagal dalam mencapai sesuatu? Mungkin sobat sudah berusaha dan memberikan 100% kemampuan obat, namun keadaan tidak berjalan sesuai dengan apa yang sobat harapkan. Haruskan sobat berhenti untuk berusaha?

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan hasil pilpres 2019. Memang ada pihak yang kalah dan yang menang, itu harus. Namanya sebuah kompetisi, bukan hanya politik saja akan tetapi hampir disemua sisi kehidupan manusia, tetap saja harus ada pihak yang menang dan yang kalah.

Pagi ini penulis menyaksikan pertandingan Copa America 2019 yang mempertemukan tuan rumah Brasil melawan Paraguay. Pertandingan berlangsung dengan sangat seru, namun hingga akhir menit ke 90+, kedudukan tetap bertahan seri alias 0 – 0. Apakah pertandingan langsung berhenti di kedudukan seri itu? TIDAK! karena ini pertandingan penentu untuk bisa melanjutkan ke babak selanjutnya, pertandingan harus dilanjutkan ke adu penalty. Sejarah pertemuan kedua negara menuliskan bahwa Brazil belum pernah menang adu penalty melawan Paraguay dan pemain-pemain Brazil sepertinya begitu tertekan. Tetapi Brazil yang saat ini bukan Brazil yang kemaren. Mereka akhirnya memenangkan pertandingan dengan skor 3-2 pada adu penalty.

Dari pertandingan antara Brazil dan Paraguay saja kita bisa belajar bahwa dalam sebuah pertandingan memperebutkan piala, harus ada yang menang dan kalah. Piala tidak bisa dibagi menjadi dua bagian. Bahkan, jika perlu pertandingan akan terus dilanjutkan sampai ada yang mencetak gol atau yang memenangkannya.

Memang begitu dan sudah dari jaman dahulu kala seperti itu.

Nah kalo urusan menerima kekalahan itu urusan lain lagi ya sobat. Semua orang bisa mau dan bisa bertanding dan menang, akan tetapi tidak semua mau dan siap untuk menerima kekalahan. Bahagia dan bangga rasanya ketika memenangkan sebuah kompetisi dan mendapatkan piala, namun sebaliknya, rasanya berat bagi seseorang untuk menerima kekalahan. Malu? Iya pasti! Jangan tanya kenapa, karena setiap orang memiliki alasannya sendiri.

Tidak seperti kemenangan yang manis (meskipun tidak selalu), Semua orang harus belajar untuk merasakan pahitnya kekalahan. Mengapa? Karena dari kekalahan kita bisa belajar untuk ikhlas dan terus berusaha untuk mencapai potensi terbaik, sesuatu yang semua orang harapkan.

Sangat penting untuk bisa mengajarkan kepada anak muda, generasi penerus bangsa, untuk memiliki kebesaran hati, keihklasan, dan semangat untuk terus berusaha –dengan cara yang positif tentunya- sehingga apa yang diharapkan atau dicita-citakan bisa mereka dapatkan. Disinilah pendampingan orang tua sangat diperlukan, terutama bagi mereka yang masih sangat kecil, labil, rapuh, dan gampang sekali terbawa pengajarang yang salah. Bukan tugas sekolah ataupun instansi pendidikan manapun, itu hanyalah pelengkap. Orang tualah yang memiliki peranan penting untuk menjamin anak-anaknya memiliki karakter dan mental yang baik untuk masa depannya yang lebih baik.

Sobat, jika hari ini kamu kalah, jangan malu. Terimalah itu dengan lapang dada, ikhlas, tegakkan dada, dan teruslah semangat. Ucapkanlah selamat kepada lawanmu, karena mereka sedang mengajarkanmu hal baik yang bisa menjadi modalmu dimasa yang akan datang ketika kamu kembali mengikuti kompetisi itu. Bangkitlah dan teruslah berlatih, hingga suatu masa dimana kamu berhasil meraih apa yang kamu harapkan.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis