Featured, Its My Life

Tentang Politisi Kita

oleh Ali Romdoni

27 November 2018

Politik merupakan usaha perbaikan manusia (tatanan sosial) untuk menuju jalan yang menyelamatkan, baik di dunia maupun akhirat. Pengertian politik yang bersumber dari Kitab Ahkamus Sulthaniyah karya Imam Al-Mawardi ini ditegaskan kembali oleh Kiai Haji Dimyati Rois, pengasuh pondok pesantren Al-Fadlu wal Fadilah Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah dalam satu ceramahnya.

Mencermati definisi politik di atas, di sana ada dua kata kunci dalam berpolitik. Dua faktor ini seyogyanya bisa menjadi pertimbangan seorang politikus dalam setiap langkahnya. Pertama, langkah nyata untuk memperbaiki tatanan sosial di masyarakat. Kedua, seorang politikus sebisa mungkin menghindari perilaku yang bisa menjadikan diri dan rakyat di belakangnya terjerumus ke dalam jurang nista, hari ini dan kapan pun.

Dalam konteks ini, dunia politik adalah jalan untuk menggerakkan sekelompok manusia menuju kondisi yang lebih baik. Dengan demikian, politikus adalah subjek penting karena menjadi motor penggerak rakyat banyak ke arah yang lebih baik. Pilihan menjadi seorang politikus adalah jalan bergelombang bagi terwujudnya sebuah nilai, visi dan misi kerakyatan.

Kita bisa belajar berpolitik dalam pengertian di atas dari putra-putri terbaik yang pernah dimiliki bangsa Indonesia. Misalnya, bagaimana kegesitan Presiden Soekarno dalam menahan serangan dan tipu daya Amerika Serikat yang menginginkan Indonesia bubar, beberapa tahun setelah memproklamasikan kemerdekaanya (Kurnia Illahi, Sindonews.com, 16 Agustus 2015).

Saat itu, Presiden Seokarno dengan segenap jiwa-raga memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia agar terbebas dari rongrongan bangsa lain.

Cerita bermula ketika seorang anggota lembaga intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA) bernama Allen Pope ditembak jatuh oleh tentara Indonesia di Pulau Morotai. Peristiwa ini sontak menimbulkan kepanikan pemimpin Amerika Serikat. Dwight D Eisenhower atau Ike John sangat kuatir bila kedok Amerika Serikat dan CIA yang mendalangi pemberontakan separatisme di Indonesia akan terbongkar.

Di sisi lain, tertangkapnya Allen Pope seakan menampar muka Amerika Serikat. Soekarno dengan sigap memainkan kesempatan itu untuk masuk dan melakukan negosiasi (tawar-menawar) dengan Amerika Serikat, tentu demi kepentingan dalam negeri. Apalagi Indonesia sedang membutuhkan banyak hal, terutama peralatan perang untuk menghadapi Belanda yang mengangkangi Irian Barat.

Konon, dalam keadaan panik Ike John merayu Soekarno agar mau melepaskan pilotnya yang telah ditawan tentara Indonesia. Presiden AS ke-34 itu juga mengundang Presiden Soekarno ke negeri Paman Sam pada Juni 1960.

Proses negosiasi berjalan alot, bahkan hingga memakan waktu empat tahun. Pasalnya Soekarno tidak mau diatur oleh Ike John.

Celah perdamaian mulai ada ketika Ike John digantikan penerusnya, John F Kennedy. Rupanya Kennedy lebih paham, bahwa Soekarno memiliki kepribadian yang kuat dan tidak suka didikte. Model pendekatan pribadi yang dilakukan Kennedy akhirnya membawa hubungan persahabatan bagi kedua pemimpin negara Indonesia dan AS.

Tidak hanya mengundang Soekarno pelesiran ke negaranya, Kennedy juga mengajak Soekarno melihat dari dekat pabrik pesawat Lockheed di Burbank, California. Buah dari kunjungan ini, Soekarno dibantu dalam pembelian 10 pesawat Hercules tipe B yang terdiri atas delapan cargo dan dua tanker. Kelak, pesawat Hercules ini akan menjadi cikal-bakal lahirnya armada Hercules Angkatan Udara Republik Indonesia atau AURI (sekarang TNI AU).

Karena Kennedy dinilai bisa bekerjasama dan menghargai kedaulatan bangsa Indonesia, Soekarno akhirnya memerintahkan untuk membebaskan Allen Pope. Menurut satu keterangan, pembebasan dilakukan secara diam-diam pada waktu subuh di bulan Februari 1962.

Berkat kepiawaian politik Soekarno pula, Amerika Serikat akhirnya menyudahi embargo ekonomi, dan memberikan ‘hibah’ dana ke Indonesia. AS juga menggelontorkan 37 ribu ton beras, masih ditambah ratusan persenjataan yang dibutuhkan Indonesia pada waktu itu.

Iya, politik cerdas Presiden Indonesia berhasil mempertontonkan sebuah diplomasi dan negosiasi tingakt elit, sekaligus mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata orang-orang AS.

Selain mencermati langkah-langkah Soekarno, kita juga bisa belajar dari upaya yang ditempuh oleh Kiai Haji Wahid Hasyim dalam menghadang para penjajah. Putra Kiai Haji Hasyim Asy’ari itu mengkoordinir kekuatan dunia pesantren yang membentang dari Jawa Barat hingga ke wilayah timur Pulau Jawa, dan menyeberang ke Madura. Kelak, upaya ini membuahkan hasil luar biasa, para kiai dan santri bersatu dan terlibat aktif dalam perlawanan bersenjata mengusir tentara penjajah hengkang dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mengenai peran Kiai Haji Wahid Hasyim dalam perjuangannya melawan penjajah bisa Anda temukan dalam buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren karya Kiai Haji Saifuddin Zuhri (2001).

Lalu bagaimana dengan para politisi di Indonesia hari ini. Mengertikah mereka dengan jejak sepak terjang para pendahulunya. Mungkinkah dalam alam pikiran mereka terdapat itikad untuk membela kepentingan rakyat. Atau, jangan-jangan tujuan mereka hanya mencari keuntungan materi, layaknya para kuli.

Hari ini, masih pantaskah para anggota dewan yang terhormat itu menyandang predikat sebagai wakil rakyat. Atau, mereka tidak lebih sebagai gerombolan perebut aset rakyat. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdoni

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.