iT’s me – Tidak banyak ide yang menarik untuk dituliskan disini, akhir-akhir ini, dan seperti menghadapi jalan yang buntu, itulah yang aku rasakan. Tetapi ada satu hal yang hingga saat ini selalu terbayang dipikiranku. Oernahkah kita memiliki sesuatu, dan kemudian kita berusaha menjaga sesuatu itu sedemikian rupa, dan melindunginya agar tidak dirampas atau dilukai oleh siapapun? bagi yag sudah berkeluarga, kita sudah melihat bagaimana ketika anak kita memiliki sesuatu yang sangat disukainya, dan tidak mengijinkan siapapun untuk merampas itu darinya.

Kita kita memiliki saudara atau adik dan kakak, kita juga bisa merasakan bagimana marahnya mereka ketika kita mengambil sesuatu yang merupakan miliki mereka. Jika hanya berbicara mengenai barang, tentunya (mungkin) dampak yang akan ditimbulkan mungkin akan biasa-biasa saja, dan mungkin akan hilang hanya dalam waktu yang singkat. Akan tetapi bagaimana jika kita membicarakan Hati?

Benar, Hati. Kita tidak akan membicarakan salah satu organ tubuh, akan tetapi hati yang akan kita bicarakan adalah sebuah “wadah” dalam jiwa seseorang yang menyimpan berbagai macam perasaan. Senang, susah, gembira, duka, semuanya tersimpan disana, menunggu saat yang tepat untuk diekspresikan. “Siapa yang tidak mengenal hati, menolak pengetahuan” atau setidaknya itulah yang dikatakan oleh orang bijak dahulu. Dari jaman dahulu hingga saat ini, semua orang sepertinya berlomba-lomba untuk menjaga hati.

“Mereka pikir mereka itu siapa? Memangnya tidak ada hati yang lain apa?”

Melebihi apapun yang ada didunia ini, memiliki hatimu merupakan hadiah dan anugerah terindah yang pernah aku miliki, aku tahu bahwa hidup ini hanya sementara, oleh karena itu akan kuusahakan dengan sekuat tenaga untuk selalu menjaga hatiku dan hatimu sehingga tetap berpadu dan selaras dalam menjalani segala macam suka dan duka dalam kehidupan ini.

Lebih gampang berkata-kata deripada melakukan, YA! Akan tetapi tidakkah kita mau untuk tetap mempertahankan dan menjaga hati kita yang rapuh agar tetap utuh? Aku tahu bagaimana rapuhnya sebuah hati, tidak perduli bagaimana kita menggambarkan betapa kuatnya hati kita, bagian yang satu ini tetaplah bagian yang paling rapuh dari hidup.

“Maafkan aku.. Tidak ada pilihan bagiku.. sama sekali tidak ada.. Hatimu adalah satu-satunya hal yang aku miliki…”

Menjaga hati itu sama seperti kita menjaga sebuah telur ayam mentah yang sangat rapuh. Bayangkan kita mendapatkan sebuah telur ayam dengan cuma-cuma, kita genggam telur itu dan menjaganya dengan baik. Namun ditengah perjalanan ada berbagai kendala yang kita hadapi, tantangan demi tantangan, mungkin akan ada orang yang ingin merampas telur itu dari tangan kita, atau kita menjadi terlalu sayang dengan telur itu sehingga ketika telur itu akan terlepas dari genggaman, kita malah semakin menguatkan genggaman kita untuk menjaga telur itu.

Semakin kuat dan rapat genggaman kita, maka semakin besar kemungkian telur itu justru akan pecah ataupun hancur. Tentunya kita tidak mau hal itu terjadi. Bagaimanapun juga, kita hanya manusia biasa, usaha apapun yang kita lakukan untuk menjaga dan mempertahankannya, kita harus melakukannya sebaik mungkin. Maafkan aku jika genggamanku terlalu kencang sehingga mengakibatkan rasa sakit dan sesak didalam hatimu.. Maafkan aku jika karena perasaan memiliki dan rasa sayang ini, terkadang membuatmu harus merubah sedikit kebiasaan yang ada di hidupmu…

Maafkan aku.. Tidak ada pilihan bagiku.. sama sekali tidak ada.. Hatimu adalah satu-satunya hal yang aku miliki, melebihi apapun yang ada didunia ini. Bahkan memilikimu adalah segalanya. Terkadang sifat egoisku muncul dan aku sepertinya akan marah apabila ada yang coba mendekatimu atau mencoba untuk merayu dan merampas hatimu dariku.. Ya, tidak ada yang boleh datang dan mencoba untuk dekat-dekat dengan hatimu..



DerielHD

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media
DerielHD

Latest posts by DerielHD (see all)