Its NOT Me

Tahun Baru, Menjadi Kafir Dalam Semalam?

oleh arpan

25 December 2018

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum Maka ia termasuk bagian dari mereka” (HR. Abu Dawud)

Ini adalah hadits popular di media sosial setiap menjelang tahun baru, tujuannya agar generasi islam tidak terjerumus, katanya. Dalam menyambut tahun baru, entah itu muslim atau nonmuslim, dari tua sampai muda sulit untuk melewatkan perayaan tahun baru dengan bermacam-macam bentuknya, ada yang merayakannya dengan tiup terompet, petasan atau sekedar jalan jalan hingga dini hari, yang lagi-lagi di haramkan, katanya. Mesipun himbauan hadits, sejarah bahkan Qur’an menjadi peringatan agar tidak merayakan tahun baru setiap tahunnya. Tetapi tetap saja ada yang merayakan dan melanggar himbauan yang di maksud.

Sebenarnya di Indonesia tidak dilarang untuk merayakan tahun baru, asalkan tidak mengundang kericuhan. Iya  menjadi pro dan kontra jika di kaitkan dengan paham agama, salah satu contoh adalah hadits di di atas. Kesahihan Hadits Riwayat Abu Dawud ini masih menjadi perdebatan para ulama. Ada yang mengatakan sahih ada juga yang tidak. Namun banyak pengguna media sosial tidak mempermasalahkan apakah hadits ini sahih atau tidak. Karena bagi mereka ini adalah momen yang tepat untuk menyebarkan hadits tersebut. Tapi saat peletusan petasan serentak rame-rame keluar dan menikmatinya indahnya warna warni kembang api memenuhi langit malam, atau mungkin ada juga yang ikutan tiup terompet. Setelah itu baru sadar kalau berepa jam lalu dia memposting tentang larangan bertahun baru. Mungkin!

Berdasarkan laman NU inline bahwa isu larangan tahun baru menyerupai nonmuslim yang tiidak pernah habisnya. Perbedaan pendapat tersebut dapat di lihat dari penjalasan di bawah:

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan perbedaan pendapat ini dikarenakan perawi bernama ‘Abdul Rahman Ibn Tsabit Ibn Tsauban. Ulama berbeda pendapat dalam menilai ‘Abdul Rahman ini. Sebagaimana dicatat al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala’, al-Nasa’i mengatakan ‘Abdur Rahman laysa bi tsiqah; Ahmad Ibn Hanbal berpendapat riwayat hadisnya munkar; Yahya Ibn Ma’in menilai laysa bihi ba’s; Ibnu ‘Adi mengatakan hadisnya tetap ditulis sekali pun dhaif.

Nah, inilah alasan kenapa hadits ini masih menjadi pembahasan dan di putuskan oleh natizen dan beberapa ustadz. Kemudian jika hadits ini sahih, bisakah dijadikan landasan dalil larangan merayakan tahun baru dalam hal ini menyerupai non muslim yang berujung pada kaya kafir? Dalam hadits HR: Al-Bukhari yang artinya “Sesungguhnya Rasulullah SAW menyukai untuk menyamai Ahlul Kitab dalam hal yang tidak diperintahkan (di luar masalah keagamaan)” (HR: al-Bukhari)”. Memang ada hadits yang mengatakan  (berbedalah dengan orang Yahudi). Namun, hal yang perlu kita ketahui bahwa konteks hadits ini muncul masa perang muslim dan nonmuslim. Jika kita cermati dengan baik kondisi negara kita Indonesia, apakah kita berada di situasi perang antar agama? Meski ada beberapa kericuhan atas nama agama, tetapi kita semua sadar bahwa tidak ada agama yang membenarkan perang, apalagi dalan konteks NKRI. Bagi mereka yang merayakan tahun baru tetapi tidak menimbulkan kericuhan tentu tidak ingin di sebut kafir, karena mungkin tidak pernah terlintas dipikiran kalau mereka melakukan tradisi kaum tertentu, dan bisa saja niatnya hanya bergembira dengan caranya masing-masing.

Jika kita berpikir logis, maksiat bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, maksiat tidak mengenal momen. Dan pilihan ada pada kita masing-masing. Apakah ingin menghabiskan tahun baru dengan hal negatif atau postif, yang pasti setiap perbuatan tidak akanluput dari catatan malaikat  Tuhan. Tentu berbagai agenda akan terjadi dalam menyambut tahun baru, ada dzikir, konser, ngumpul-ngumpul di rumah atau sekedar nongrong dan menikmati petasan dan bisingnya bunyi terompet.  Silahkan pilih, kitalah yang menentukan akan jadi apa malam tahun  baru 2019 nanti! MASIH PENTINGKAH KITA BERBEDA?

arpan