Its My Life

SURAT UNTUK UKHTI: Melihat Agama Dari Sudut Pandang Yang Lain

oleh arpan

5 March 2019

Berbahagialah orang yang lapar akan kebenaran dan keindahan, sebab kelaparan mereka akan membawa roti, dan kehausan mereka akan membawa air yang sejuk. Berbahagialah orang yang murah hati, sebab mereka akan dihibur oleh kemurahan hati mereka sendiri. Berbahagialah orang yang suci hatinya, sebab mereka akan bersama dengan Tuhan. Berbahagialah orang yang suka mengampuni, sebab ampunan akan menjadi milik mereka. (Kahlil Gibran)

Tiga orang yang menyebabkan rusaknya agama: Imam yang tidak adil, orang saleh yang jahil dan ulama yang jahat. (Ali Bin Abi Thalib)

Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling pada manusia, diserahkan padanya sesuap dua suap, sebutir dua butir kurma. Tapi orang miskin adalah orang yang tidak mendapatkan orang kaya yang memenuhi kebutuhannya, tidak peduli kepadanya sehingga ia bersedekah kepadanya dan tidak berdiri dan meminta pada manusia. (Muhammad SAW)

Segera saya menulis surat ini karena rasa malu padamu. Kau ragukan perjuanganku. Kau mengatakan sia-sia apa yang telah aku lakukan. Kau muak dengan petualangan yang katamu omong kosong sehingga melupakan Tuhan. Kau gampang untuk berprasangka dan gampang menuduhku sesat karena berbicara tentang Karl Max, Bakunin, Che Guevara, Ali Syariati dan lainnya.  kau kutuk aku dan kau bilang aku perlu di sucikan. Seolah ucapanmu adalah perintah Tuhan yang membawa pada kedamaian. Di masjid kudengar ceramahmu dengan indah kau lantunkan ayat-ayat dari kitab suci, tapi sering juga kulihat kau berjalan mengitari bilik-bilik mall untuk belanja kepuasan duniamu. Katamu berjuang untuk petani ini buang-buang waktu tapi kulihat juga kau menghambur-hamburkan uang demi kepuasan belanja hingga kau lupa memberi makan orang-orang yang kelaparan.

Aku harus bagaimana? Apa aku harus duduk diam mendengarkan ceramahmu dan mendengarkan ceramah ustadmu yang dibayar untuk tampil dengan membawa ayat yang dikutip dari kitab suci sedang dia lupa bahwa ada orang lapar di samping masjid tempat dia berceramah? Tidakkah kau melihat para Nabi itu hidup dengan kesederhanaan? Apakah kau lupa bahwa Nabi Muhammad tidak hanya sholat dan berdzikir saja? Padahal dia juga ikut berperang. Perang melawan kedhaliman, melawan ketimpangan, memperbaiki tatanan sosial, serta berjuang untuk kemanusiaan. Lihatlah perjuangan Rasul. Lihatlah bagaimana dia mengangkat derajat perempuan yang saat itu perempuan dianggap hina dan dibunuh. Apakah kau lupa dengan kisah dibebaskannya Bilal dari perbudakan. Apakah kau kirang membaca sejarah, bahwa Nabi Muhammad melarang ummatnya menumpuk harta dan memanfaatkannya sendiri. Nabi melarang sifat keserakahan pada ummatnya saat itu. Tapi olehmu malah kau praktikan tindakan yang merugikan itu. Maaf, bukan aku mengkritik dan menyindirmu melainkan aku ingin menceramahimu. Seperti kamu yang selalu menceramahiku di dalam forum kajian religi.

Selalu aku mendengar ceramahmu. Uniknya aku hanya bisa mendengar saja dan tidak boleh membantah. Sebab kau selalu menyebutkan ayat-ayat suci. Pikirmu aku orang sesat jika menentang ayat-ayat suci itu. Namun baru kusadari bahwa akupun bisa membantahmu atau menentangmu. Aku bisa melatunkan ayat-ayat suci juga. Ayat yang menyeru untuk kita membela orang miskin. Ayat untuk yang membicarakan tentang keadilan.

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil) dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan (QS Al-Fajr 17-20)

Prof. Dr. Yusuf Qaradhawi menjelaskannya dalam bukunya yang berjudul Teologi Kemiskinan bahwa; ringkasnya bagi kelompok ini, upaya untuk mengentaskan kemiskinan adalah dikembangkan pada konsep atau pemikiran perlunya sedekah sunnat dan kebaikan individualistic yang tidak mengikat.

Dari ayat-ayat suci akupun belajar memahami agama. Sama sepertimu. Bedanya aku memandang agama itu menyeru untuk menolong orang-orang miskin. Bersedekah dan juga melawan kapitalisme.

…dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya (QS AL-Hadid 7)

…dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kamu (QS An-Nur 33)

…dan nafkahkanlah (di jalan Allah) sebahagiaan dari rizki yang telah Kami berikan kepada kalian.  (QS Al-Baqarah 254)

Allah memperingati kita dengan bahasa-Nya yang indah. Berulang Allah memerintahkan kita untuk bersedekah. Bersedekah adalah cara untuk melawan kapitalisme, dengan tidak menumpuk harta yang hanya kamu konsumsi sendiri atau dengan cara memberi makan orang-orang lapar. Padahal sudah kamu tahu peringatan ini. Namun masih saja kekayaanmu kau tanamkan pada prodak-prodak kapitalis. Dengan bangganya kamu masuk mall dan berbelanja sehingga kau biarkan saudara-saudaramu yang miskin kelaparan. Padahal kamu lebih mengerti daripada aku. Hakikatnya harta benda ialah titipan Allah. Allah maha adil bukan? Tapi kamu tidak.

Sungguh aku kecewa pada sikapmu dan rombonganmu yang diam melihat adanya penindasan. Sekaligus kecewa pada kalian sering mempraktikan cara-cara kapitalis dalam mengeksploitasi. Tak hanya itu, sering kudengar beberapa oknum yang membawa nama Tuhan untuk mempraktikan kekerasan. Sering kubertanya, apakah agama menghalalkan kekerasan serta penindasan? Jika agama yang kau ceramahkan seperti itu maka lebih baik aku tak beragama. 

Marilah melihat agama dengan sudut pandang yang lain. Kusarankan kamu untuk tidak menerima agama sebagai doktrin. Sehingga kamu menolak untuk mencari tahu kebenaran lain yang tersembunyi dalam agamamu sendiri. Janganlah hanya mendengarkan satu ustad saja. Apalagi ustad-ustad yang tak banyak membaca. Ustad yang hanya menjual kitab suci untuk amplop tebal agar tersimpan di kantongnya. Cobalah membaca kitab-kitab para ulama terdahulu, ada banyak ulama dimasa lalu yang pemikirannya hebat yang namanya gelap tersembunyi disebabkan fatwa-fatwa ulama yang melarang untuk mempelajarinya. Sesekali cobalah mengenal Ibn Rusyd. Tokoh islam yang mengkonsepkan filsafat dan islam. Atau Ali Shariati, seorang filsuf islam yang mengenalkan islam sosialisme. Di negeri kita juga ada sosok seperti Ali Shariati. Dia dikenal dengan nama haji Misbach. Juga ada guru bangsa yang religious. Dia menulis buku tentang sosialisme islam. Kita mengenalnya Cokroaminoto. Apakah kalian mengenal mereka? Pasti asing ditelinga kalian. Sebab sangat jarang kalian untuk membaca.

Banyaklah membaca tentang kisah tokoh-tokoh hebat yang berjuang atas nama Tuhan. Sudahkah kalian mengetahui para nabi yang melawan kekejaman raja yang rakus serta penindas? Mari kukenalkan kau pada nabi Musa. Mungkin kamu sudah lebih tau tentangnya daripada aku. Tapi apakah kau sudah tau tentang kisahnya bahwa Nabi Musa adalah sang martir yang melawan penindasan?

Dikisahkan pada zaman Nabi Musa, raja yang berkuasa pada saat itu adalah Fir’aun. Raja yang tamak yang mengaku dirinya adalah Tuhan. Di wilayah kekuasaannya perbudakan menjadi pemandangan setiap hari.  Semua orang diambil kebebasannya. Nyawa tidak berharga. Yang berharga adalah kekuasaan, kekayaan dan orang-orang istimewa seperti raja dan keluarganya serta pejabat istananya. Musa menjadi keluarga kerajaan. Di kerajaan itu dia hidup mewah hingga usia dewasa dan menyaksikan langsung kejamnya Fir’aun. Dengan adanya perbudakan tiap harinya bangkitlah kesadaran Musa. Dia tak sanggup melihat penindasan yang terus terulang tiap hari. Hingga akhirnya melepas kekayaan kemudian berjuang untuk keadilan. Fir’aun melihatnya sebagai penghianat kerajaan. Musa pun diburu layaknya aktivis politik yang menentang rezim kekuasaan. Hingga musa keluar dari kerajaan Fir’aun. Musa lari bukan sebagai pengecut, melainkan sebagai pejuang yang harus menyusun strategi meruntuhkan kekuasaan otoriter. Hingga saat pelariannya Musa diangkat menjadi  sang pembawa pesan Tuhan yang kita kenal dengan istilah Rasul

Selain Musa juga ada Harun saudaranya yang menjadi Rasul. Musa percaya Harun seorang yang memiliki lidah yang fasih dan mempunyai pengetahuan serta argument yang hebat. Retorikanya lebih indah daripada Musa. Harun layaknya sang orator yang menggetarkan hati banyak rakyat yang mendengar dan musa sebagai konseptor. Di Indonesia kita mengenal Sukarno, bapak revolusi yang ketika dia berpidato rakyat terpaku kagum mendengar.

 Mereka berdua menjadi rekan saudara untuk menjalankan tugas kenabian. Kekejaman Fir’aun semakin membesar. Musa dan Harun sadar. Bahwa penindasan takkan berhenti jika mereka hanya diam dan tidak melawan. Segera mereka menyusun strategi untuk melawan. Keduanya pun datang bertemu dengan Fir’aun untuk memperingatinya dan untuk membawanya ke jalan yang benar. Tentu ini juga perintah Tuhan. Mereka menyadarkan Firaun bahwa dia bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa yang berkuasa yang nanti kekuasaannya akan jatuh jika dia tetap mempraktikan penindasan.

Firman Tuhan disampaikan oleh sang Rasul. Fir’aun memasang tampang penguasa otoriter. Kejam, penindas dan wajah yang mengerikan serta rakus kekuasaan.  Mereka berdialog. Fir’aun bernostalgia bersama musa dengan menceritakan kehidupan enak Musa di istana. Al-Quran menulisnya dengan bahasa yang indah.

…Bukankah kami telah memelihara kau sejak kecil di tengah-tengah kami dan kau tetap bersama kami selama bertahun-tahun dalam hidupmu? Dan engkau mengerjakan perbuatan yang kau buat itu tanpa kenal terimakasih. (QS  26 20-22)

Musa pun mengkritik Firaun. Dia memperingatinya bahkan kini mereka bukan lagi keluarga. Musa bukan lagi penghuni istana yang mengikuti jalan sesatnya Firaun. Kerajaan kelam itu sudah ditinggalkan olehnya. Kini Musa datang sebagai seorang utusan Tuhan yang mengajak Firaun ke jalan yang benar. Memerintahkan Firaun untuk tidak lagi memperbudak, menindas dan mengambil hak-hak kaum lemah dan menganggap dirinya sebagai penguasa tertinggi.  Firaun pun terkejut berita Musa sebagai utusan Tuhan karena dia menganggap sebagai raja segala raja atau Tuhan.

Firaun merasa dihina dan direndahkan oleh Musa dan Harun. Diutuslah penyihir untuk membunuh mereka. Namun itu tak membuat para utusan Tuhan gentar dan takut. Sebab keberanian mereka datang karena Tuhan yang maha kuasa.

Musa dan Harun membawa pesan-pesan kebenaran. Mereka mendapatkan solidaritas dari masyarakat yang tertindas. Banyak yang mengikuti Musa sebagai oposisi yang menentang Firaun. Musa dan pengikutnya segera meninggalkan kerajaan firaun. Banyaknya masyarakat yang tertindas menjadi barisan pengikut jalan kebenaran Musa. Bergeraklah mereka melalui jalur Sinai yang menuju laut merah. Laut inilah yang menjadi kuburan Firaun dan pengikutnya.

Segera musa menyebrangi laut merah bersama rombongannya. Di belakang sana Firaun mengejarnya dengan kekuatan tempur yang berbahaya. Allah memberikan Musa mukzizat. Dipukullah tongkatnya ke laut hingga laut itu terbelah menunjukan jalan penyebrangan Musa dan rombongannya. Hampir sampai Musa di seberang lautan. Firaun bersama pengikutnya yang kejam penuh nafsu dan hasrat membunuh mengejar Musa menyebrangi belahan lautan. Setelah sampai Musa dan pengikutnya diseberang kembali laut menutup tubuhnya. Atas izin Allah laut itu menelan Firaun dan pengikut sesatnya. Firaun mati dengan mengenaskan dan diikuti runtuhnya kekuasaannya.

Tamatlah kisah tentang Firaun. Tuhan memperingati kita dengan kisah Musa dan Firaun. Bahwa telah ada kekuasaan yang rakus dan penindas. Kekuasaan yang tidak menghargai kemanusiaan. Tuhan mengetahui bahwa penguasa seperti Firaun tidak hanya ada pada zaman Musa saja. Kisah mereka akan terus berlanjut sampai pada masa depan. Sekarang kita banyak melihat praktik-praktik kekuasaan Firaun. Pemimpin-pemimpin otoriter yang sewenang-wenangnya memandang rendah kemanusiaan. Dari kisah inilah aku ingin mengajak kamu bermental serta berperilaku seperti musa sang pejuang yang membela kaum tertindas serta menentang perbudakan. Aku ingin mengajakmu melawan penindas. Seperti Musa yang mempunyai Harun yang mengalahkan Firaun. Musa mengajarkan kita untuk melawan kita harus bekerja secara kolektif.

Kisah Musa menjadi menarik untuk kita lakukan dizaman sekarang. Tentu kita akan berperan sebagai Musa. Berjuang, membebaskan, melawan segala bentuk tirani. Banyaknya peristiwa penindasan di negeri ini memaksa kita yang punya keimanan untuk menjadi musa. Yang membawa api suluh agar tetap menyala di lubuk hati orang miskin atau menjadi nyawa kedua bagi mereka yang dirampas hak kemanusiaannya. Musa mengajarkan kita menghargai kebebasan hidup dan kemanusiaan. Memperjuangkan manusia juga bentuk ibadah.

Gandhi menyatakan bahwa nasionaliamenya adalah kemanusiaan. Musa mengalami situasi itu sebagai bentuk kritik pada kekuasaan Fir’aun. Bahwa kekuasaan yang tak menghargai kemanusiaan akan runtuh kemudian.

Bukalah matamu, lihatlah imammu, ustad-ustad yang bergentayangan dalam majelis, berceramah hanya niatan materi dan mencari massa. Sangat jarang ada penceramah yang mengajak kita untuk sama-sama berjuang. Menegakkan keadilan serta peduli pada orang-orang miskin. Seperti kata Sukarno: Tuhan berada di lubuk hati orang-orang miskin. Lihatlah ustadmu, apakah dia masih sering mengkafirkan orang yang tidak sependapat dengan golongannya? Sama sepertimu yang pernah mengkafirkanku. Jika seandainya ulama-ulama terdahulu mengetahui pengkafiran ini, sungguh mereka akan marah dan menendang ustadmu. Betapa susahnya perjuangan ulama terdahulu dalam mengislamkan banyak manusia dan dengan mudahnya kalian mengkafirkannya.

Diakhir surat ini aku ingin menyampaikan maaf padamu, maaf bukan karena aku menyinggungmu. Melainkan maaf karena keterlambatan surat ini. Harusnya surat ini sudah lama aku kirimkan padamu. Tentu sebelum kau sinis terhadapku.

Aku harap melalui surat ini kau tak lagi memandang rendah perbuatanku. Aku ingin kau memahami agama dengan sudut pandangku. Bahwa berjuang melawan penindasan merupakan perintah Tuhan. Oleh karena itu, masjid bukan satu-satunya tempat untuk beribadah. Melawan penindasan juga merupakan ibadah. Wassalamualaikum.  – Surya Habibie

 

arpan