Its My Family

Suamiku, Waktumu Untuk Aku Dan Anak Kita Kemana?

oleh arpan

29 April 2018

Mungkin ini hanya perasaanku saja, ketika aku merasa seperti kembali sendiri. Masih bebas melakukan apa yang aku inginkan, berkumpul bersama teman teman dan melakukan pekerjaan tanpa harus berpikir seperti saat ini. Aku bisa kerja fokus, untuk diriku sendiri. Masa masa sendiri atau jomblo adalah waktu yang ideal untuk meningkatkan kualitas diri, memaksimalkan pekerjaan yang kita tekuni. Seperti yang aku rasakan dulu, tetapi aku tidak bisa lagi seperti itu. Sekarang aku sudah memiliki tanggungjawab lain. Pikiranku tidak bisa lagi hanya bertumpu pada kerja kerja dan kerja, seperti kata presiden Joko Widodo. Memang semuanya berhubungan, namun rasanya benar benar berbeda. Jomblo tidak akan mengerti! Saat sudah berkeluarga semua pikiran akan tertumpu pada istri dan anak. Dan kebetulan beberapa bulan belakangan ini aku memang sibuk, kadang aku berpikir mungkin ini hanya perasaanku saja. Ternyata, istriku juga merasakan hal yang sama. Bahkan, seminggu belakangan ini beberapa kali aku mendapat pertanyaan  “Yang… waktu kamu untuk aku dan anak kita kemana?” Mendengarkan pertanyaan itu, membuatku kembali berpikir, sebenarnya apa yang aku lakukan, inikah yang dinamakan tuntutan pekerjaan? Atau istriku yang berlebihan?

Setelah mendengar pertanyaan itu, aku mulai bermuhasabah. Kadang aku ingin tidak ada yang terbengkalai, tanggungjawab atas apa yang aku kerjakan dan tanggungjawab kepada anak istriku dalam hal kedekatan emosional seharusnya lebih baik. Ternyata aku belum mampu membuatnya seimbang, aku akan selalu lebih berat diantara salah satunya. Sebelumnya aku selalu ingin istriku mengerti dengan apa yang aku kerjakan, ya…aku bersyukur ia mampu mengerti. Kemudian aku terlena dengan pengertiannya, aku justru lebih banyak menghabiskan waktu di luar, entah itu pekerjaan atau hanya bersama teman. Tanggungjawab yang aku emban, pekerjaan maupun anak dan istriku tidak bisa di hindari. Kata orang semua itu penting, kedua keduanya berhubungan. Itu benar, tetapi selalu ada yang lebih utama. Sepertinya aku harus mulai berbenah, lebih memanfaatkan waktu-waktu yang mungkin sekain singkat bersama istri dan anakku kedepan.

Jangan saapai  pekerjaan membuat  istri dan anak kita terabaikan, aku tidak ingin itu. Namun, aku tetap harus menejalani keduanya. Entah bagaimanapun caranya, biarkan waktu menjawab. Aku akan tetap berjuang dan berharap keluara kecilku tidak mengalami situasi rumit karena pekerjaan. Dan kalau pun  terjadi maka sudah jelaslah jawabannya! Kehilangan satu pekerjaan adalah hal yang wajar dalam kehidupan setiap manusia dan pasti bisa teratasi. Tetapi kehilangan keluarga untuk sebuah pekerjaan tidak harus terjadi, jangan biarkan terjadi. Ketika istriku bertanya tentang kenapa waktuku  tidak lagi sama seperti dulu, sebenarnya aku ingin menjawab bahwa aku kerja juga untuk mereka juga, tentu ini adalah jawaban sangat ampuh. Tetapi hal yang tidak bisa terpungkiri bahwa memang aku tidak ada lagi dirumah bersama mereka. Istri dan anak adalah penyemangat hidup super ampuh, jadi jangan biarkan mereka lemah dan merasa di abaikan. Mungkin tidak bermaksud mengabaikan tetapi apa yang mereka rasakan adalah penentu dari apa yang sebenarnya kita lakukan. Meskipun pekerjaan yang membuat kita sibuk adalah untuk mereka, tetapi  sesibuk apapun itu, wajib untukku dan untuk para suami  meluangkankan waktu berkualitas serta kasih sayang kepada istri dan anak kita. Karena tidak selamanya tangan ini bisa mendekap serta membelai anak dan istri kita dan tidak selamanya  juga raga kita mampu  menjaga dan bersama mereka. Setiap yang bernyawa akan merasakan mati!

arpan