Its My Life

Spiritualitas Perjalanan dan Sindrom Kurang Piknik

oleh Ali Romdhoni, MA

30 November 2017

iT’s Me- Tiga minggu lalu saya di Beijing mengikuti pertemuan pelajar Indonesia di China. Bersama beberapa teman, kami kemudian mengunjungi salah satu tujuan wisata yang paling diburu para pelancong dunia, Tembok Besar (Great Wall) China.

Kami memilih datang ke Badaling Great Wall yang lokasinya berada paling dekat dari ibu kota Negeri Tirai Bambu. Di Badaling Great Wall kami juga bertemu dengan para wisatawan dari Indonesia. Senang sekali rasanya.

Berada di antara para pengunjung Great Wall, saya berusaha menyerap cerita yang menyatu dengan tembok legendaris itu. Orang-orang menyebutnya ‘tembok besar’. Masyarakat China memanggilnya dengan ‘Changcheng’ (artinya, tembok panjang; kota panjang).

Bagaimana pun, pagar raksasa yang panjangnya diperkirakan mencapai 21.196,18 kilo meter (Kompas.com, 11 Juni 2012) itu berhasil menyambungkan kisah kehidupan manusia di masa silam dengan generasi masa kini. Iya, karena keberadaan tembok raksasa, masyarakat China saat ini setidaknya menjadi semakin yakin, bahwa nenek moyang mereka bukan orang sembarangan.

Leluhur bangsa China adalah orang-orang yang memiliki semangat bekerja demi kelangsungan hidup dan masa depan yang baik bagi anak-cucunya. Terbukti, karya mereka berupa tumpukan batu dan batu bata yang direkatkan dengan bahan khusus mampu bertahan selama ribuan tahun, melewati musim demi musim yang datang silih berganti.

Hari ini, Tembok Besar China juga telah menjadi media (ruang) yang memungkinkan bagi bertemunya manusia dari berbagai bangsa, suku dan kebudayaan. Dari semua penjuru, para pecinta rekreasi (piknik) yang sejak lama penasaran ingin melihat Great Wall bergerak menuju benteng pertahanan yang konon sudah mulai dibangun sejak abad ke-7 SM itu.

Di atas punggung tembok raksasa, para wisatawan berdecak kagum, senang, dan merasa memperoleh inspirasi untuk menyiapkan perjalanan hidup agar lebih baik lagi di masa mendatang.

Tempat-tempat tertentu memang terkadang bisa memantulkan gairah (semangat) kepada setiap pengunjung yang datang. Hal ini bisa karena faktor kecantikan alamnya, nilai historis yang dikandungnya, atau karena untuk mencapainya kita perlu melakukan usaha lebih. Faktor-faktor itu pula yang akan mengantarkan seorang penggemar rekreasi bisa menemukan ‘pencerahan’.

Tidak hanya tempat, muara perjalanan sang pelancong bisa seorang tokoh yang memiliki kejernihan hati dan fikiran di dalam memandang realitas kehidupan. Setelah kita bertemu dan berdialog dengan seorang bijak bestari, misalnya, tiba-tiba diri kita seperti tersadar, atau menemukan jalan keluar bagi masalah yang selama ini kita pendam seorang diri.

Begitulah, rekreasi seyogyanya bukan semata persoalan financial, gaya hidup atau hura-hura. Mengunjungi bekas tempat penting, terlebih yang bernilai sejarah sama halnya membaca literatur, atau menyusuri cerita (napak tilas) satu episode kehidupan kumpulan manusia.

Jejak bersejarah akan mengantarkan kita kepada waktu lampau, masa-masa kejayaan yang pernah dimiliki tempat itu. Di sana kita akan ‘merasakan’ denyut kehidupan masyarakat, harmoni, konflik dan eksistensi satu generasi.

Sementara mengunjungi atau bertemu dengan orang-orang besar (tokoh, figur, seorang waskita), akan membuat kita termotivasi untuk terus belajar. Bertatap muka dengan orang yang lebih dulu sukses, kita bisa belajar langsung dari sikap dan kepribadiannya, terlebih lagi mendengar kisah pengalamannya.

Karena itulah, rekreasi juga terkait dengan kualitas pribadi seseorang, dan akan mempengaruhi cara pandang si pelaku. Dalam kondisi seperti ini pula, piknik memiliki makna dan konteksnya. Orang-orang bilang, mereka yang ‘kurang piknik’ cenderung pesimis dalam melihat kenyataan, mudah emosional dan hambar dalam merasakan kehidupan (semoga kita dijauhkan dari hal itu).

Sementara orang yang memiliki koleksi pengalaman dan gemar berperjalanan lebih berpotensi menjadi pribadi yang siap dalam melewati hari-hari dalam hidup. Suasana di perjalanan akan membekali kita untuk berkesimpulan, bahwa hidup itu memang penuh warna. Kejutan demi kejutan akan selalu datang, mengisi hari-hari kita. Jumlahnya jauh melebihi rumus (nasehat) bijak tentang baik-buruk dan hitam-putih norma di masyarakat.

Namun demikian, mereka yang jarak tempuh perjalanannya tidak lebih jauh dari batas desa di kampung halaman, bukan berarti telah kehilangan kesempatan untuk menjadi lebih bijak. Semua kembali kepada cara merangkai objek-objek yang telah kita temui, informasi yang kita dengar dan literatur yang kita baca.

Di tengah maraknya kegemaran merayakan perjalanan dan kebanggaan bisa mengunjungi tempat-tempat yang diminati khalayak, sangat penting untuk memikirkan ada atau tidak manfaat dari setiap laju perjalanan kita. Derap langkah mendatangi tempat-tempat favorit di muka bumi harus seiring dengan luasnya jangkauan kita dalam membaca dan menyikapi realitas sosial.

Berdasarkan kajian filsafat, melalui proses berfikir pengetahuan telah berhasil mengangkat derajat manusia dari posisi terendah (kebodohan). Namun ‘mengetahui’ bukanlah akhir dari perjalanan (berfikir) manusia. Ada tahapan yang masih harus dicapai, yaitu menjadi bijaksana.

Hingga di sini, ada beragam cara agar kita pelan-pelan tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Misalnya dengan melihat atau peduli terhadap realitas, mengalami satu peristiwa, berempati kepada orang lain, atau membaca dan mendengar kisah orang terdahulu dan saat ini.

Maka dari itu, sayang sekali bila waktu, tenaga dan keuangan yang telah kita keluarkan untuk berperjalanan hanya menghasilkan daftar nama-nama tempat. Apalagi, kalau cuma membuahkan deretan foto selfie dengan background pemandangan yang wah.

Bukan berarti, data perjalanan dan foto-foto kita di satu lokasi sama sekali tidak penting. Sekali lagi, bukan.

Kearifan dalam membaca realitas sosial—sekembalinya kita dari berperjalanan—juga penting, selain cinderamata dan bukti-bukti yang bersifat material.

Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.