iT’s Me- Malam itu, aku istri dan anakku berkunjung kerumah keluarga. Sebenarnya sejak sore hari kami di telepon untuk berkunjung, tetapi kami sempatnya malam. Aku dan istri sama sekali belum tahu tempat tinggal mereka yang baru, bahkan kami sempat tersesat. Malam itu pertama kali keluargaku bertemu istri dan anakku, aku pun baru pertama kali berkunjung ke rumah baru mereka, aku hanya tahu rumah lama mereka. Setelah melalui via telepon akhirnya kami bertemu di persimpangan jalan, kami pun bergegas ketujuan. Setelah sampai di rumah keluarga, aku dan om ngombrol sambil duduk santai di ruang tamu, dari urusan pekerjaan sampai urusan politik khusunya pemutaran film PKI. Dari pembicaraan kami, aku kaget saat om bilang bahwa pemutaran film PKI adalah program pemerintah, akhirnya aku coba menjelaskan nahwa PKI adalah isu menjatuhkan pemerintahan sekarang, lalu bagaimana bisa menjadi program pemerintah. Pikirku, mungkin gorontalo terlalu jauh sehingga isu seperti ini melenceng jauh dari yang sebenarnya.

Setelah asik berbincang-bincang, kami pun di ajak ke ruang makan. Mendengar alarm makan, aku benar-benar bersemangat. Kebetulan rumah keluarga yang kami kunjungi adalah suku bugis dan aku masih rindu dengan masakan bugis. Saat di meja makan, aku, istriku dan omah (nenek) ngobrol sambil makan sedangkan tante menemani anak kami. Aku sangat lahap, karena kapan lagi bisa makan masakan bugis. Skill masak istriku yang notabene orang sunda belum sampai kepada cita rasa masakan orang bugis. Jadi, aku harus menerima nasib bahwa selama ini tidak ada satu pun masakannya yang bisa mengobati kerinduanku. Tetapi sebagai suami yang baik, harus tetap menghargai apa yang telah istriku masak. Makan malam pun usai, kami kembali keruang tamu melanjutkan pembicaraan. Tiba-tiba omah bertanya kepadaku dengan bahasa bugis yang artinya, “kenapa istrimu tidak berjilbab?” Kemudian aku jawab, “istriku memang belum berjilbab, sebagai suami aku tidak ingin memaksa dia. Ketika suatu hari dia ingin berjilbab, pasti sudah dia pikirkan matang-matang dan alasannya pun pasti bukan hanya karena cantik dilihat. Tetapi yang lebih subtansial. Dengan begitu, dia mampu bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri. Lagian istriku bukan lagi anak kecil, dia pasti punya alasan kuat yang tidak harus aku bantah.”

Sebagai suami aku selalu menghargai keputusan istri dan aku tidak keberatan jika memang dia belum mau berjilbab. Aku tidak peduli apa kata orang, terserah orang mau menilai apa, asalkan dia masi berpakaian sewajarnya. Tetapi kalau suatu saat dia memutuskan berjilbab, tidak apa-apa juga, selanjutnya saya serahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Banyak hal yang kami bicarakan, sampai saat kami bersiap pulang. Omah sempat masuk kedalam kamarnya dan omah kembali dengan membawa satu buah jilbab panjang, kemudian di pakaikan ke istriku, omah bilang “kamu lebih cantik kalau pakai jilbab dan supaya pulang tidak kedinginan”. Aku senang mendengar perkataanya, meski pun sudah tua, tetapi omah tahu cara tepat mewujudkan apa yang ia pertanyakan. “Beberapa orang terlalu semangat menganjurkan bahkan berlebihan sehingga membuat orang lain justru semakin tidak ingin berjilbab, seharusnya mereka berlajar dari omah” itu kata istriku. Semoga penjelasanku tentang isu PKI bisa membuat om mengerti dan apa yang omah perbuat semoga berkesan bagi istriku, selanjutnya kembali kepada istriku, apakah ingin berjilbab atau tetap seperti biasanya.



Latest posts by arpan (see all)