itsme.id – Bak film action tahun ’80-an, si Kaya terus melenggang bebas dan terhindar dari kasus hukum yang terus menghantamnya. Terjangan peluru, ranjau darat, hingga granat yang dilemparkan ke arahnya seolah ‘menghindar’ dengan sendirinya agar tidak mengenai badan si Kaya. Bahkan si Kaya bisa menghindar dengan alasan sakit parah supaya tidak datnag menghandiri pangilan pihak yang berwajib untuk mempertanggung jawabkan kasus kejahatan yang menimpanya.

Ah, hebat bener si Kaya. Jika melihat fakta sejarah kehidupan si Kaya, memang dia adalah orang yang Kaya sejak lahirnya. Foto waktu si Kaya yang berusia muda sempat beredar dan memang terlihat gaya jagoannya saat itu, dengan kancing baju yang tidak sampai ke atas memperlihatkan belahan dada hasil olahraga, celana kaki kuda yang tren dikalangan borjuis jaman itu, sedikit perhiasan di leher dan pergelangan tangan, bahkan katanya, si Kaya memiliki pesawat pribadi seharga hamper 300 Milyar rupiah. Memang nampak bahwa si Kaya sudah memiliki karakter ‘jagoan’. Salut buat kehebatan si Kaya .

Sedangkan si Miskin yang selalu menjadi tumbal dalam setiap apapun yang dikerjakan. Mencari hidup hanya dengan mengambil kayu kering untuk dijadikan kayu bakar, dan kemudian mencari cacing untuk digunakan sebagai obat, si Miskin terkena pasal berlapis atas kasus kejahatan pencurian dan harus mendekam dipenjara karena tidak memiliki uang untuk membayar pengacara berkelas seperti si Kaya.

Dua sisi yang berbeda. Seandainya saja si Kaya mau membagi sedikit kesaktiannya untuk si Miskin, mungkin si Miskin juga bisa mengelak dari kasus kejahatannya seperti film action ditahun ’80-an. Sayangnya si Kaya hanya sayang kepada dirinya sendiri. Akhirnya toh si Miskin harus menjalani proses hukum yang menjeratnya, tanpa harus melalui proses pra-peradilan seperti yang si Kaya lakukan.

Dari dua kisah yang berbeda ini kita bisa belajar, bahwa kelebihan keKayaan terkadang membawa manusia pemiliknya itu menjadi untouchable sedangkan si Miskin, sudah pasti harus menjalani proses hukum dan mendekam di dalam enjara untuk mempertanggung jawabkan kelakuannya. Akan tetapi, dari cerita si Miskin kita juga bisa belajar bahwa lari dari permasalahan dengan berbagai macam alasan bukanlah sebuah pilihan. Jika kemudian si Miskin berani menghadapi dan menjalani proses hukum, setidaknya dia menunjukkan bahwa dia masih memiliki hati nurani dan niat baik untuk bertangung jawab dan menyelesaikannya.

Posisi si Kaya ada dimana? Ya, si Kaya ada di sudut kota keegoisan yang dibangun untuk dirinya sendiri, sedang duduk diam dan terus berpikir alasan apalagi yang akan diberikan jika seandainya suatu hari nanti Tuhan meminta pertanggung jawaban dari dirinya. Karena pada akhirnya nanti, masing-masing dari kita semua harus menghadapi pengadilan akhir untuk mempertanggung jawabkan semua apa yang kita lakukan di dunia ini. kita akan menghadap Sang Pencipta, dan disana nanti, tidak ada lagi pengacara untuk membela kita dan membantu kita memenangkan pra-peradilan. (DerielHD)

*cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama dan jalan cerita, itu untuk kepentingan pendidikan kepada generasi penerus bangsa.



DerielHD

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media
DerielHD

Latest posts by DerielHD (see all)