Its NOT Me

Setelah Saracen, Kini MCA. Jangan ditiru!

oleh DerielHD

6 March 2018

itsme.id – Setelah penyebaran hoax oleh kelompok bernama Saracen, kini muncul lagi berita mengenai kelompok baru bernama MCA. Berita mengenai penyerangan pemuka agama mulai viral. Seakan menular, peristiwa penyerangan itu menyebar dari satu daerah ke daerah lainnya. Panik! Mungkin itu yang dirasakan oleh warga di sekitar lokasi penyerangan. Para pemuka agama juga mungkin merasa takut, jangan-jangan mereka akan menjadi korban selanjutnya. Akan tetapi, apakah berita ini bisa dibuktikan kebenarannya?

Itsme.id melihat, dari beberapa pemberiitaan di media massa, baik surat kabar maupun media televisi, sudah banyak sekali pemuka agama yang menjadi korban penyerangan atau korban kekerasan. Dan pelakunya? Orang gila, atau yang mengaku orang gila (orang gila kok ngaku). Berita ini semakin menarik karena ditambah dengan “promosi” melalui media sosial. Begitu cepat berita ini menyebar, bak sel kanker yang menggerogoti tubuh manusia, terus menyebar dan menaburkan isu provokasi yang luar biasa. Dan akhirnya yang menjadi korban adalah mereka yang menggunakan media sosial hanya untuk stalking, kepo, update status gak jelas, dan share informasi yang belum tentu benar.

Kasihan melihat bagaimana masyarakat awam menjadi korban dari gerakan provokasi yang massif. Dengan berhasilnya aparat kepolisian mengungkap dalang dibelakang pemberitaan hoax mengenai penyerangan pemuka agama, ini merupakan sebuah terobosan baru dalam dunia penegakan keadilan. Dari berbagai penelitian, ternyata terungkap bahwa semua berita mengenai penyerangan pemuka agama adalah berita bohong atau hoax yang sengaja dikarang untuk menciptakan kegaduhan ditengah damainya toleransi beragama di Indonesia. Contohnya, dikutip dari laman kompas.com, dengan ditangkapnya seorang oknum dosen wanita berinisial TAW, yang menyebarkan berita mengenai dibunuhnya seorang muajin di majalengka, yang katanya muajin itu diserang oleh orang gila. Kemudian dengan terungkapnya rekayasa penyerangan Marbot masjid di Garut, yang ternyata si marbot ini hanya minta diperhatikan karena tunjangan kerja sebagai marbot yang tak bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Dan masih banyak lagi kasus-kasus lain yang sedang menunggu untuk diungkap kebenarannya. Dalam hal ini, kita perlu mengapresiasi kinerja pihak kepolisian. Mari kita nantikan bersama bukt dari janji polisi untuk mengungkap siapa actor dibalik para penyebar kebohongan ini.

MCA yang merupakan sebuah komunitas yang seharusnya menjaga nama baik kelompok yang didukungnya, justru menjadi sarana penyedia jasa yang, hanya karena ingin memenuhi kebutuhan hidup (mungkin), rela dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin memecah belah persatuan bangsa ini. Sebenarnya sederhana saja, jika MCA dan para kroninya tidak senang dengan kedamaian bangsa ini, kenapa mereka tidak keluar dari Indonesia dan pindah saja ke pulau terpencil dan bikin negara sendiri? Kan bisa lebih nyaman, daripada sudah memiiliki kewarganegaraan namun masih merasa “menumpang” di negara ini tapi kemudian mau mengacaukan kedamaian yang sudah terjalin puluhan tahun. Akibatnya? Kini MCA dan kelompok-kelompok kecilnya seakan “lari” tunggang langgang mendengar langkah kaki pihak Kepolisian yang hendak meringkus mereka. Admin ditangkap, akun-akun media sosial berganti nama, kegarangan “auman” singa putih yang garang seakan berubah menjadi nyanyian singa putih yang lucu dan imut, yang rindu akan belaian kasih sayang.

Sebagai warga negara yang baik, sudah seharusnya kita ulai belajar untuk lebih bijaksana. Gunakanlah media sosial dengan bijak, jika ingin memanfaatkan media sosial untuk mendapatkan uang, carilah sesuatu yang halal untuk dijual, yang bisa memberi manfaat bagi banyak orang tentunya. Bijaklah dalam menerima informasi di media sosial, teliti kebenarannya, baru kemudian kita membagikannya kepada orang lain, karena jika tidak, siap-siap saja untuk membukakan pintu bagi aparat kepolisian yang menjemputmu untuk mempertanggung jawabkan perilaku burukmu di media sosial. #salambijak (DerielHD)

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis