Its NOT Me

Seriously, “BOM” takjil?

oleh DerielHD

30 May 2018

Minggu, 13 Mei 2018, akan selalu melekat di ingatan seluruh masyarakat Indonesia. Tentu saja, Karena tepat pada hari itu, serangkaian bom bunuh diri meledak dibeberapa lokasi secara hamper bersamaan. Tiga buah bangunan gereja di kota Surabaya, beberapa kantor polisi di berbagai daerah, dan beberapa ancaman terror bom lainnya. Seluruh Indonesia mengecam aksi nekat dan biadab para teroris tersebut.

Seminggu berlalu, para korban dimakamkan, keluarga yang berduka berusaha memaafkan dan mengikhlaskan kepergian dari orang-orang yang mereka kasihi. Duka mendalam dirasakan, air mata dan kesedihan terus mewarnai kota Surabaya. Ibu Risma yang begitu menyayangi warganya, sampai turun langsung dan mengunjungi hamper seluruh gereja di wilayah sekitar kota Surabaya. Tak tanggung-tanggung, bahkan dirinya sampai dianggap ibu-ibu yang hendak meminta-minta karena penampilannya yang biasa saja, tidak sempat bermake-up ria seperti para wakil rakyat wanita yang duduk sambil membahas UU terorisme.

Bukan hanya itu saja, beberapa rekan meminta saya untuk menulis mengenai phobia yang kemudian menyebar dimasyarakat. Setelah beberapa waktu lalu ada islamophobia, sekarang ada hijab-phobia atau cadar-phobia. Bukan tanpa alasan, tetapi karena tragedi yang terjadi di Surabaya.

Kenyataannya adalah bahwa kejadian yang menimpa masyarakat Surabaya benar-benar melukai perasaan hamper seluruh masyarakat Indonesia, dan perlu waktu yang sangat lama untuk memulihkan dan mengembalikan kepercayaan yang telah ‘meledak’ dan hancur bersama para ekstrimis pelaku bom bunih diri. Ada kekuatiran yang mengganggu hati banyak orang, terutama para korban. Faktanya adalah bahwa kini, kekuatiran itu menjadi ketakutan. Beberapa orang akan menghindar ketika berpapasan dengan mereka yang bercadar, bahkan sebagian akan memandang risih disertai kecurigaan dalam hati.

Hal yang menyedihkan adalah bahwa ketika masyarakat muslim Indonesia berjuang untuk memperbaiki rasa percaya itu, ada sebagian orang yang justru membuatnya semakin rusak. Bagaikan menyiram cuka ke atas luka, mereka menganggap apa yang dilakukan adalah hal yang wajar dan menyenangkan. ‘bom takjil, begitu tulis seorang wanita bercadar di pinggiran jalan raya. Tulisan yang ditulis diatas sebuah kertas putih besar lengkap dengan gambar bom yang sudah menyala dan siap meledak.

Mungkin bagi wanita ini dan rekan-rekannya, ini adalah sebuah gerakan sosial bagi-bagi takjil kepada masyarakat yang lewat, tetapi sebagian masyarakat dunia maya akhirnya mempertanyakan penggunaan kata ‘bom’ yang saat ini cenderung diartikan secara negative. Apalagi sebagian masyarakat masih memiliki trauma tersendiri setelah peristiwa kemarin. Disaat rekan-rekannya yang lain sedang sibuk dengan eksperimen ‘pelukan’ untuk memulihkan rasa percaya para korban, ada oknum-oknum yang justru menghancurkannya lagi. Ingin meraih simpati, tapi tidak memiliki empati. Bukan permintaan maaf, tetapi membagi-bagikan ‘bom’ takjil.

Mengapa harus menggunakan kata itu? Kata yang begitu menyakitkan, bukan hanya untuk pera korban, tetapi juga pada umat islam itu sendiri. Maksudnya apa? Mengejek? Atau hanya untuk menarik perhatian?

Bangsaku, berhentilah menjadi manusia egois. Untuk sekali saja dalam hidupmu, tanggalkan semua atribut agamamu untuk hidup berdampingan dan saling mengasihi sesama. Bukan hanya kepada sesama agamamu, sukumu, atau juga bahasamu, tetapi kepada sesamamu manusia ciptaan Tuhan yang maha kuasa.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis