Its My Faith

Sepotong Doa dalam Kue

oleh Ali Romdhoni, MA

6 November 2017

iT’s Me- Menjelang perayaan musim semi malam itu, Dewa penguasa Dapur (Zaoshen) terbang ke kayangan (surga). Kepada Sang Penguasa Jagad raya, Zaoshen melaporkan seluruh aktivitas di setiap dapur yang ada di muka bumi selama setahun penuh. Sementara itu, di rumahnya orang-orang dengan khusuk memanjatkan doa kebaikan. Di malam keramat itu mereka juga memasak lebih, kemudian membagikan kepada sanak dan kerabat.

Sejak musim semi berlalu hingga ia kembali datang, Zaoshen ‘menjaga’ dapur. Tiap setahun sekali ia melapor ke langit. Untuk menghormati pengorbanan Dewa Zaoshen yang telah membantu dan melancarkan kerja-kerja di dapur selama ini, mereka membunyikan petasan.

Ledakan petasan yang mengeluarkan kilatan cahaya di malam hari mengiringi kepergian Zaoshen ke langit. Demikianlah salah satu ritual (cara) masyarakat China untuk melahirkan rasa syukur di pergantian musim.

Saya memperoleh penjelasan tentang mercon (petasan)—yang menjadi bagian dalam perayaan penting—ini dalam artikel berjudul “Chunjie Manhua” (artinya, festival musim semi). Membaca kisah yang berhubungan dengan petasan membuat ingatan saya kembali pada masa kanak-kanak, belasan tahun yang lalu.

Di Indonesia, bunyi ledakan petasan biasanya menandai datangnya hari bahagia, seperti lebaran. Hingga saat ini, mercon juga melengkapi kemeriahan acara resepsi pernikahan atau khitanan yang digelar seseorang. Iya, sebagian masyarakat Indonesia masih gemar membunyikan petasan pada hari-hari tertentu.

Bagi saya, simbol-simbol yang dihadirkan dalam perayaan musim semi dengan segala perniknya menarik diamati.

Dalam kebudayaan masyarakat China kuno, pada malam perayaan musim semi bisa dipastikan setiap dapur mengepul. Para ibu memasak makanan khas. Orang tua mendatangkan anak, menantu, cucu, saudara atau teman dekat mereka. Kehadiran anggota keluarga yang tinggal di luar kota membuat perasaan senang dan hati tenang.

Malam itu menjadi momentum bagi tiap-tiap keluarga untuk bersama dalam melahirkan rasa syukur. Mereka lalu memanjatkan doa agar mendapat keberkahan di hari-hari yang akan datang.

Di sini, doa dan harapan tidak hanya dilantunkan melalui kata, namun juga diwujudkan dalam pernak-pernik yang dipersiapakan untuk perayaan. Biasanya, masyarakat China akan memasak kue-kue khas. Di antara kue itu ada yang bernama Nian Gao, sejenis makanan dengan bahan baku beras. Namun, diksi ‘Nian Gao’ juga berarti ‘umur yang panjang’.

Menyantap kue Nian Gao atau menyuguhkannya kepada anggota keluarga dimaksudkan sebagai doa kemuliaan, semoga orang-orang tercinta dikaruniai umur panjang dan senantiasa hidup dalam kesejahteraan.

Pemandangan seperti itulah yang mendorong Dewa Zaoshen terbang ke kayangan. Dengan perasaan gembira Zaoshen mengabarkan kepada Sang Penguasa Alam, bahwa seluruh anggota keluarga di bumi hidup dalam harmoni rumah tangga.

Filosofi Dapur

Dapur sebagai bagian dari bangunan rumah menjadi pusat pengolahan makanan yang akan menjadi sumber energi hidup bagi penghuninya. Bila kebutuhan dapur telah tersedia, maka hampir separuh kebutuhan hidup tercukupi. Artinya, kehidupan bisa terus berjalan.

Kisah Dewa Zaoshen sebagai penghubung setiap dapur dengan wilayah kayangan memberi makna, bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa lepas dari anugerah yang melimpah dari penguasa langit, Tuhan. Dewa bertugas memantau dan terus mengabarkan perkembangan manusia kepada Sang Sesembahan di langit.

Kewajiban manusia adalah bersyukur (Jawa: rumangsa), berterima kasih dan menghormati pengorbanan Sang Dewa. Selain itu, bersyukur atas semua anugerah yang telah diterima diekspresikan dengan berbagi kepada sesama, sembari memohon agar kelak diberi anugerah yang lebih baik lagi.

Menurut saya, legenda seperti ini hanya mungkin dimiliki oleh masyarakat yang mengerti pentingnya menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam. Manusia harus menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta dan semua mahluk di sekitarnya.

Bila saya hubung-hubungkan lebih lanjut, kisah Dewa Dapur mengandung ajaran bahwa kedermawanan akan melahirkan keakraban, kerukunan, kesejahteraan dan persaudaraan. Kondisi ini akan menguntungkan satu masyarakat (bangsa).

Keberadaan legenda dewa penguasa dapur juga mengingatkan saya pada tradisi masyarakat Arab kuno. Saya membaca pengertian ‘dapur’ dalam paradigma masyarakat Arab ini ketika belajar di pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, Grobogan, Jawa Tengah pada akhir 1990-an.

Dalam literatur tata bahasa Arab (nahwu), misalnya, syair-syair Arab kuno sering ditampilkan oleh sang penulis (mu’allif) sebagai contoh penerapan satu kaidah ilmu nahwu. Di antara syair-syair legendaris itulah terdapat bait yang merekam tradisi masyarakat Arab lama dan khususnya yang berhubungan dengan konsep ‘dapur’.

Dalam logika masyarakat Arab kuno, rumah seorang dermawan digambarkan dalam konsep rumah dengan kondisi dapur yang selalu memproduksi abu (arang tungku). Sementara dapur tanpa abu digunakan untuk menunjuk seorang pemilik rumah yang kikir.

Rumah yang di dapurnya terdapat abu bekas kayu bakar menandakan si pemilik rumah sering (senang) menerima tamu. Sang tuan rumah harus memasak makanan dan minuman lebih untuk menyuguhi para tamunya. Karena alur berfikir yang seperti ini, maka bila dapur penuh abu menandakan si pemiliknya adalah seorang dermawan.

Sebaliknya, orang kikir tidak terlalu senang dengan kedatangan seorang tamu. Kalaupun ada tamu yang datang, si tuan rumah tidak memberi suguhan. Karena itu, dapur menjadi sepi dan dingin. Jangankan makanan, abu bekas memasak saja tidak ada.

Tentu logika berfikir seperti di atas akan diprotes oleh masyarakat sekarang. Dalih yang diajukan, misalnya, bisa saja seseorang memberi suguhan kepada para tamu dengan memesan kepada pemilik warung terdekat, dan lain sebagainya.

Makna Petasan

Simbol-simbol dalam pernik perayaan musim semi semakin menarik diuraikan, terlebih lagi bila kebudayaan itu juga muncul di tengah masyarakat Indonesia. Di tambah lagi, pada kenyataannya masyarakat kita juga gemar bermain simbol.

Petasan, misalnya. Dalam kebudayaan masyarakat China, petasan muncul antara lain pada perayaan musim semi. Sementara di Indonesia, petasan sangat digemari terutama menjelang perayaan lebaran dan acara penting lainnya.

Tetapi petasan yang digunakan masyarakat China tradisional untuk menghormati pengorbanan Dewa Zaoshen, sang penguasa dapur, bagi saya ini adalah kisah menarik.

Petasan yang menimbulkan bunyi ledakan disertai dengan percikan api dan asap, mengingatkan saya kepada Dewa Petir (kilat, halilintar) yang bisa mendatangkan hujan dan menjadi symbol bagi kesuburan dan kesejahteraan. Masyarakat China kuno menghormati Dewa Petir sebagai simbol hujan yang airnya dinanti oleh para petani.

Relasi petasan dan Dewa Dapur (Zaoshen) ini juga mengingatkan saya pada penyebutan Dewa Petir dalam beberapa mitologi. Misalnya, Dewa Indra (dewa cuaca dan raja kayangan dalam mitologi Hindu), Dewa Zeus (dewa langit dan petir dalam mitologi Yunani), Dewa Yupiter (dewa langit dalam mitologi Romawi), Dewa Thor (dewa petir dalam mitologi Nordik), serta Dewa Seth (dewa gurun, badai, dan petir dalam mitologi Mesir kuno).

Begitulah kebudayaan.

Mengkaji kebudayaan bisa membuka mata kita dan menemukan ketersambungan antar bangsa-bangsa yang hidup di muka bumi ini. Dalam pemahaman saya, kebudayaan adalah intisari pengetahuan. Kebudayaan juga bisa berarti rumah atau wujud dari pengetahuan.

Pengetahuan identik dengan manusia. Ia merupakan bekal bawaan yang diberikan oleh Tuhan.

Pengetahuan yang dimiliki masyarakat tertentu akan terpancar dalam perilaku keseharian, ritual, dan dalam batas yang lebih longgar akan ditampilkan dalam bentuk perayaan-perayaan. Karena perayaan merupakan perwujudan dari pengetahuan, maka di dalam detail rangkaiannya terdapat simbol-simbol sebagai bahasa pesan yang ingin disampaikan kepada audiens.

Hampir mirip dengan tradisi masyarakat kita di Indonesia, para leluhur bangsa China juga mengajarkan pengetahuan kepada generasi penerusnya melalui simbol. Ajaran kehidupan itu dikemas apik dalam kisah. Sepintas, kisah-kisah itu seperti mustahil, namun bila direnungkan di dalamnya mengandung pelajaran berharga.

Bagaimana dengan kisah-kisah yang ada di tengah masyarakat kita?

Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.