iT’s Me- Menjelang perayaan musim semi malam itu, Dewa penguasa Dapur (Zaoshen) terbang ke kayangan (surga). Kepada Sang Penguasa Jagad raya, Zaoshen melaporkan seluruh aktivitas di setiap dapur yang ada di muka bumi selama setahun penuh. Sementara itu, di rumahnya orang-orang dengan khusuk memanjatkan doa kebaikan. Di malam keramat itu mereka juga memasak lebih, kemudian membagikan kepada sanak dan kerabat.

Sejak musim semi berlalu hingga ia kembali datang, Zaoshen ‘menjaga’ dapur. Tiap setahun sekali ia melapor ke langit. Untuk menghormati pengorbanan Dewa Zaoshen yang telah membantu dan melancarkan kerja-kerja di dapur selama ini, mereka membunyikan petasan.

Ledakan petasan yang mengeluarkan kilatan cahaya di malam hari mengiringi kepergian Zaoshen ke langit. Demikianlah salah satu ritual (cara) masyarakat China untuk melahirkan rasa syukur di pergantian musim.

Saya memperoleh penjelasan tentang mercon (petasan)—yang menjadi bagian dalam perayaan penting—ini dalam artikel berjudul “Chunjie Manhua” (artinya, festival musim semi). Membaca kisah yang berhubungan dengan petasan membuat ingatan saya kembali pada masa kanak-kanak, belasan tahun yang lalu.

Di Indonesia, bunyi ledakan petasan biasanya menandai datangnya hari bahagia, seperti lebaran. Hingga saat ini, mercon juga melengkapi kemeriahan acara resepsi pernikahan atau khitanan yang digelar seseorang. Iya, sebagian masyarakat Indonesia masih gemar membunyikan petasan pada hari-hari tertentu.

Bagi saya, simbol-simbol yang dihadirkan dalam perayaan musim semi dengan segala perniknya menarik diamati.

Dalam kebudayaan masyarakat China kuno, pada malam perayaan musim semi bisa dipastikan setiap dapur mengepul. Para ibu memasak makanan khas. Orang tua mendatangkan anak, menantu, cucu, saudara atau teman dekat mereka. Kehadiran anggota keluarga yang tinggal di luar kota membuat perasaan senang dan hati tenang.

Malam itu menjadi momentum bagi tiap-tiap keluarga untuk bersama dalam melahirkan rasa syukur. Mereka lalu memanjatkan doa agar mendapat keberkahan di hari-hari yang akan datang.

Di sini, doa dan harapan tidak hanya dilantunkan melalui kata, namun juga diwujudkan dalam pernak-pernik yang dipersiapakan untuk perayaan. Biasanya, masyarakat China akan memasak kue-kue khas. Di antara kue itu ada yang bernama Nian Gao, sejenis makanan dengan bahan baku beras. Namun, diksi ‘Nian Gao’ juga berarti ‘umur yang panjang’.

Menyantap kue Nian Gao atau menyuguhkannya kepada anggota keluarga dimaksudkan sebagai doa kemuliaan, semoga orang-orang tercinta dikaruniai umur panjang dan senantiasa hidup dalam kesejahteraan.

Pemandangan seperti itulah yang mendorong Dewa Zaoshen terbang ke kayangan. Dengan perasaan gembira Zaoshen mengabarkan kepada Sang Penguasa Alam, bahwa seluruh anggota keluarga di bumi hidup dalam harmoni rumah tangga.

Filosofi Dapur

Dapur sebagai bagian dari bangunan rumah menjadi pusat pengolahan makanan yang akan menjadi sumber energi hidup bagi penghuninya. Bila kebutuhan dapur telah tersedia, maka hampir separuh kebutuhan hidup tercukupi. Artinya, kehidupan bisa terus berjalan.

Kisah Dewa Zaoshen sebagai penghubung setiap dapur dengan wilayah kayangan memberi makna, bahwa kesejahteraan manusia tidak bisa lepas dari anugerah yang melimpah dari penguasa langit, Tuhan. Dewa bertugas memantau dan terus mengabarkan perkembangan manusia kepada Sang Sesembahan di langit.

Kewajiban manusia adalah bersyukur (Jawa: rumangsa), berterima kasih dan menghormati pengorbanan Sang Dewa. Selain itu, bersyukur atas semua anugerah yang telah diterima diekspresikan dengan berbagi kepada sesama, sembari memohon agar kelak diberi anugerah yang lebih baik lagi.

Menurut saya, legenda seperti ini hanya mungkin dimiliki oleh masyarakat yang mengerti pentingnya menjaga keselarasan (harmoni) dengan alam. Manusia harus menjaga hubungan baik dengan Sang Pencipta dan semua mahluk di sekitarnya.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)