iT’s me – Bagi sebagian besar orang, tinggal di kota besar merupakan sebuah tantangan tersendiri. Harus bangun lebih pagi untuk mulai menjalankan segala aktifitas, kalau kata orang bijak “Harus bangun sebelum ayam berkokok di pagi hari.”. Berjuang untuk mencari rejeki, harus dilakukan, bagaimanapun caranya. Tapi, mencari rejeki dengan cara yang halal menjadi sebuah tuntutan yang tak boleh dilupakan. Bagi sebagian orang, profesinya hanyalah sebuah profesi kecil dan tak ada artinya. Diam di perempatan jalan, menunggu rejeki dengan membantu para pengemudi mendapatkan giliran untuk berbalik arah, dengan upah yang tak seberapa, tetapi aku terus semangat untuk melakukannya.

“…dia dituduh menjadi biang kemacetan, bahkan dibentak-bentak oleh pengguna jalan yang merasa dirugikan, dituduh membantu pengguna jalan melanggar rambu-rambu jalan. Akan tetapi, dia tidak menyerah…”

Bagiku, ini seperti sebuah pengabdiannya untuk seluruh anggota keluarganya. Terkadang, hasil yang didapatkan sama sekali tidak memadai, untuk dirinya sendiri bahkan untuk keluarga. Ya, dia terkadang harus membagi hasil yang didapatkan bersama teman-teman seperjuangan. Rela berjemur diteriknya sinar mentari, dan basah disaat hujan deras mengguyur tak jadi penghalang baginya untuk terus berjuang mencari sedikit rejeki untuk dibawa pulang kepada keluarganya.

Pak Ogah, bukan tokoh pemeran dalam film anak Si Unyil, tetapi begitulah orang sering memanggilnya. Terkadang dia dituduh menjadi biang kemacetan, bahkan dibentak-bentak oleh pengguna jalan yang merasa dirugikan, dituduh membantu pengguna jalan melanggar rambu-rambu jalan. Akan tetapi, dia tidak menyerah… Sekali lagi, harapannya untuk tidak hidup dengan mental meminta-minta dan mengharap belas kasihan orang lain, membuatnya untuk terus bertahan. Apapun yang terjadi, dirinya harus pulang ke rumah dengan membawa hasil yang bisa dinikmati oleh keluarganya. Jika ada yang melanggar, mungkin itu hanya segelintir oknum yang tak memiliki rasa taat kepada aturan.

“Kerelaan untuk menolong orang lain, dengan tidak menghiraukan keselamatan dirinya sendiri dan juga berapa besar upah yang akan dia dapatkan, membuatku menaruh rasa hormat kepada mereka..”

Setiap hari, membantu pengguna jalan untuk menemukan jalan terbaik untuk dilalui dirasa bagaikan suatu keberkahan yang luar biasa. Tidak sedikit orang yang menghargai bantuannya, walaupun dengan nilai seadanya. Berapapun jumlahnya, selalu ada ucapan terima kasih yang tulus yang terlontar dari mulutnya, sebagai rasa syukur yang teramat dalam kepada Sang Maha Agung atas rejeki yang diterimanya.

Semangat pantang menyerah, inilah yang selalu bisa kupelajari dari setiap perjumpaan dengan “Pak Ogah”. Kerelaan untuk menolong orang lain, dengan tidak menghiraukan keselamatan dirinya sendiri dan juga berapa besar upah yang akan dia dapatkan, membuatku menaruh rasa hormat kepada mereka. Lebih baik memiliki profesi sederhana seperti mereka, daripada masih penuh dengan kekuatan tetapi memilih untuk hidup meminta-minta sebagai pengemis. Tua, muda, anak kecil, maupun yang sudah dewasa, tidak menjadi permasalahan, selama apa yang dilakukannya adalah hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi banyak orang. Jika kemudian ada yang memberitakan berapa jumlah penghasilannya perbulan, aku tetap bersyukur karena semuanya itu didapatkan dengan tanpa meminta-minta. Semuanya didapatkan dengan perjuangan dan jerih lelahnya.

Aku hanya bisa terus berdoa, agar Sang Maha Pemberi Rejeki terus melimpahkan rejeki kepada semua umatNya yang terus bekerja dan berjuang dengan jujur, tulus, dan ikhlas. Juga kiranya kekuatan dan kesehatan terus diberikan olehNya, supaya mereka bisa terus mengusahakan rejeki untuk keluarga, terlebih lagi agar supaya melalui mereka, semua orang bisa belajar memiliki semangat pantang menyerah dalam menjalani kehidupan ini. #salam