Its My Faith

Semua Ucapan Nabi adalah wahyu dari Allah?

oleh arpan

21 November 2018

Seringkali ditekankan oleh sekelompok Muslim tertentu bahwa apapun yang dikatakan Nabi adalah wahyu dari Allah. Penekanan demikian biasanya dikemukakan untuk memberikan dukungan diam-diam bagi sumber-sumber di luar Al-Qur’an dan mengesahkan perkataan-perkataanya sebagaimana yang ditangkap oleh para perawi berikutnya. Apa yang seringkali ditemukan dalam penafsiran yang tak berdasar seperti ini adalah kurangnya apresiasi terhadap fakta bahwasanya Rasulullah bukan saja seorang Nabi Allah serta seorang pembimbing spiritual namun beliau juga sekaligus merupakan pemimpin umat (dari bangsa Islami yang baru), seorang suami, seorang ayah, dan juga bertindak dalam berbagai peran multi dimensi lainnya.

Sebagaimana akan kita cermati dari sudut pandang Al-Qur’an, hanyalah ucapan-ucapan Muhammad SAW sebagai Nabi utusan Allah yang absah.

Sayangnya, tidak sedikit ayat-ayat yang diambil sepotong-sepotong dan dicabut dari konteks serta disalahkutip untuk menghimpun sokongan bagi suatu keyakinan demikian.
Salah satu ayat dari Al-Qur’an itu adalah sebagai berikut:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰ
“dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya” Q.S. An-Najm [53]:3.

Tanpa konteks yang tepat, ayat ini menyiratkan seorang manusia yang menjadi nabi secara otomatis tidak punya kemauan sendiri melainkan hanya bicara menyampaikan firman-firman Allah. Bagaimanapun juga, bila konteks ayat tersebut ditelaah lebih lanjut, jelas bahwa ayat tersebut mengacu pada Al-Qur’an dan perkataan Muhammad SAW adalah dalam kapasitas sebagai Nabi utusan Allah.

Fakta bahwa ayat-ayat berikut (Q.S. An-Najm [53]:3) secara eksplisit menyatakan bahwa ia ‘diajari’ oleh suatu kekuatan besar (Q.S. An-Najm [53]:5) yang dilihatnya (Q.S. An-Najm [53]: 11 – 12) yaitu malaikat Jibril, sepenuhnya jelas bahwa ini adalah acuan hanya kepada Al-Qur’an dan semua perkataannya sebagai Nabi utusan Allah. (Harap perhatikan bahwa Allah tidak bisa dilihat (Q.S. Asy Syuura [42]:51).

Oleh karena itu dalam konteks ini, para sahabat Nabi dengan jelas diinformasikan bahwa Nabi tidaklah melakukan tipu daya dan tidaklah berbuat salah dalam bentuk apapun. Namun sebaliknya ia menyampaikan melalui Al-Qur’an yang diwahyukan Allah.

Fakta bahwa ucapan atau tindakan Nabi Muhammad SAW tidak semuanya berdasarkan wahyu dari Allah jelas diketahui dari insiden pelarangan berikut yang dibahas Q.S. At-Tahrim [66]:1.

يٰأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَ تَبْتَغِى مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. At-Tahrim [66]:1.

Bagaimanapun wahyu yang diterima Nabi Muhammad terkait Al-Qur’an tetaplah dilindungi oleh ketetapan Allah.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan pengingat (bahasa Arab: Dhikr) dan sesungguhnya Kami benar-benar menjadi penjaganya (bahasa Arab: Hafizun).” Q.S. Al-Hijr [15]:9.

KESIMPULAN
Pernyataan bahwa semua ucapan dan atau tindakan Nabi merupakan wahyu atau perintah Allah merupakan pernyataan yang tidak ada landasannya dalam Al-Qur’an.
Acuan dalam Q.S. An-Najm [53]:3 sebenarnya bersifat spesifik menurut konteks terkait perkataan-perkataan Muhammad SAW sebagai Nabi utusan Allah yang mengacu kepada Al-Qur’an bahwa ia ‘diajari’ oleh suatu kekuatan agung, (Q.S. An-Najm [53]:5). Ini memang dijaga dan dilindungi oleh Allah Q.S. Al-Hijr [15]:9.

Referensi:
Quranmassage
Quran.com

arpan