Featured, Its My Faith

Sejarah dan Kebohongan

oleh Ali Romdhoni

27 December 2018

Sejarah berbicara tentang legenda tokoh, bercerita peristiwa di luar nalar, atau menegaskan ketidak-mungkinan yang benar terjadi. Sejarah kemudian menjadi semacam rumus (pedoman) bagi para petualang, dan sesekali menjadi sumber kebanggaan bagi sebagian orang, juga menjadi sumber kebencian bagi sebagian yang lain.

Iya, sejarah tidak ubahnya kitab tentang orang-orang, dan kehidupan. Kata kuncinya, “pahami sejarah, maka dengan mudah engkau membaca dunia.”

Namun, terkadang sejarah nampak sangat kabur (dengan beragam tafsir), kemudian menjadi terang, dan bisa kembali multi-tafsir. Orang kemudian berfikir, sejarah bisa disampaikan seperti kemauan seorang sejarawan. Tetapi jangan lalai, sejarah telah memiliki cara sendiri untuk menyampaikan pesan ‘kebenaran’ kepada manusia. Ini hanya persoalan waktu.

Pelajari jejak orang-orang—yang telah berbuat banyak pada kehidupan—yang untuk sementara senyap dari gempita sejarah. Ketika waktunya tiba, seluruh pernik yang menutupnya tersingkap. Jadilah mereka aktor satu-satunya dalam sejarah.

Saya, misalnya, menandai, sejak duduk di bangku sekolah dasar sangat sedikit (atau tidak pernah) mendengar berita keterlibatan para kiai dan santri pondok pesantren dalam peperangan melawan penjarah (penjajah) kekayaan negeri ini. Ketika waktunya tiba, dimulai sekitar tahun 1990-an akhir, terbit buku-buku yang menegaskan peran kiai dan santri dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan akhirnya juga di-launching film yang bertema kepahlawan orang-orang pesantren.

Publik pun beramai-ramai mengabarkan hal ini, di antaranya menulis di akun pribadi dan lainnya. Mereka merasa belum afdal bila tidak menyimak dan membicarakan kontribusi orang-orang pesantren. Mulai dari petinggi prajurit, sejarawan, hingga kaum muda, dan bahkan negara pun akhirnya mengamini gemuruh suara rakyat yang meneriakkan jasa para kiai dan santri.

Jangan lupa, sebelumnya, hampir sepanjang usia kemerdekaan bangsa Indonesia, sejarah seakan bungkam terhadap kontribusi masyarakat pesantren. Ini hanya contoh kecil.

Episode sejarah juga pernah berkisah tentang Siti Jenar (1426-1517 M) yang ‘menyimpang’ dari ajaran Islam. Sampai akhirnya terbit hasil penelitian yang mengemukakan Siti Jenar sebagai sosok yang baru dan berbeda, yang ternyata seorang egaliter, merakyat, namun mampu bersikap kritis terhadap kebijakan penguasa kala itu. Kemudian menjadi jelas, Siti Jenar adalah seorang pahlawan bagi rakyat kecil.

Memang demikian, terkadang sejarah menjauh dari seorang nama besar. Atau, di sana ada tangan-tangan jahil yang sengaja menyembunyikan (memanipulasi) sejarah untuk maksud tertentu. Namun bersamaan dengan itu juga ada orang-orang yang melacak fakta.

Mereka berfikir, argument bisa saja dibangun, termasuk dengan menyebarkan kabar bohong ke permukaan. Para pelaku peristiwa pun dilenyapkan dari lembaran sejarah.

Tapi jangan salah, manusia adalah makhluk yang aktif. Manusia pada zamannya akan menangkap keganjilan sejarah (palsu). Dari merekalah kelak kebenaran sejarah akan terkuak. Tanpa anggaran, tanpa komando dan tanpa paksaan, mereka akan berjalan menuruti kegelisahan untuk menemukan kebenaran sejarah.

Inilah yang saya maksud bahwa sejarah memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan pesan kepada anak manusia. Buka, misalnya, catatan Ibnu An-Nadim (w. 995 M) dalam kitab Al-Fihris yang menceritakan mimpi Khalifah al-Makmun (786-833 M) didatangi filsuf Aristoteles (384-322 SM). Kehadiran tokoh filsafat Yunani itu kelak membuahkan pengaruh besar dalam dunia ilmu pengetahuan pada masa-masa yang lebih baru.

Seorang kolega saya dari Semarang, Jawa Tengah terlebih dahulu ‘bertemu’ dengan Kiai Ageng Selo (hidup tahun 1400-an), sampai kemudian dia melakukan riset tentang tokoh yang melahirkan raja-raja Kesultanan Mataram (dibangun 1588 M) di bagian selatan Pulau Jawa itu.

Apa artinya semua itu?

Benar, orang tidur pun akan dihampiri sang empunya sejarah—untuk membisiskkan satu peristiwa kebenaran. Ah, membohongi sejarah hanya akan menghabiskan energi sendiri. Bukankah demikian?

Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.