iT’s me – Kopi, siapa yang tidak mengenal tanaman yang satu ini. Sejak dahulu, kopi merupakan salah satu komoditi ekspor dari Indonesia, Robusta, Arabica, itulah kedua jenis kopi yang sangat dikenal hingga saat ini. Dan kemudian ditemukan jenis kopi yang lain, Kopi Luwak, yang cara pengolahannya terkasan aneh bagi sebagian besar penikmat kopi, namun menjadi kopi dengan nilai termahal di dunia. Benar, menyeruput secangkir kopi sudah menjadi tradisi turun-temurun bagi sebagian masyarakat dunia. Hampir diseluruh pelosok benua, menjadikan minuman yang satu ini sebagai salah satu minumn untuk mengawali hari. Di Desa ataupun di kota-kota besar, semuanya mencintai mainuman yang satu ini.

Saya contohnya, sebagai penikmati kopi, saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi setiap hari sebelum memulai aktifitas. Terkadang mencampurnya dengan sedikit gula, kadang dengan sedikit susu sugar. Selalu ada cara bagiku untuk menikmati secangkir kopi setiap pagi. Bahkan rela merogoh kocek yang cukup banyak untuk menjadi anggota disebuah rumah kopi yang cukup terkenal, hanya demi menikmati nikmatnya minuman kopi berkualitas. Ada sebuah kebanggan tersendiri ketika benar-benar menjadi sebuah penikmati kopi, dibanding dengan orang yang hanya menikmati kopi sebagai pemuas dahaga atau mencari sensasi “wong sugih”. Memang, jaman dahulu, kopi hanya bisa dinikmati oleh orang-orang dari kalangan bangsawan atau raja-raja dikarenakan harganya yang cukup mahal, akan tetapi seiring perkembangan jaman, kini semua kalangan masyarakat sudah bisa menikmatinya.

Apakah dengan mengeluh mengenai pahitnya hidup ini kemudian bisa membuat kita lupa dengan segala permasalahan yang kita hadapi? atau dengan mengeluh kemudian rasa pahit itu segera hilang bagitu saja?

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk memiliki kebiasaan minum kopi. Mungkin karena tuntutan pekerjaan, atau juga karena lingkungan dan pergaulan yang dikelilingi oleh para pencinta kopi. Akan tetapi, justru dari kopi, aku bisa belajar banyak hal, salah satunya tentang bagaimana memaknai kehidupan dan setiap persoalan yang terjadi didalamnya. Kemana saja aku pergi dan berada, selalu aku mendengar mengenai pahitnya hidup yang harus dilalui. Seolah-olah, perjalanan hidup yang begitu pahit bisa membuat orang menyerah dan mundur dari perjuangan dan perjalanan yang dia mulai. Well sobat, hal ini juga berlaku bagi anda yang baru pertama kali menikmati secangkir kopi berkualitas, tanpa gula, atau tanpa bahan tambahan lainnya. Rasanya pahit tak terhingga. Bahkan membekas dilangit-langit mulut selama beberapa menit. Dari pengalaman saya, itulah yang terjadi. Hampir-hampir aku mengurungkan niat dan membatalkan rasa kecintaan kepada kopi ini. Pikirku, mengapa orang-orang suka meminum minuman yang satu ini, padahal rasanya sama sekali tidak enak.

Seperti seorang barista atau pembuat dan peracik kopi, Sang Maha Pengasih, Tuhan, sudah meracik kehidupan kita dengan begitu indah, bahan demi bahan sudah ditakar sedemikian rupa untuk melengkapi proses hidup ini.

Pernah aku bertanya kepada kakek dan nenek saya mengenai alasan mengapa mereka sangat gemar meminum kopi di pagi hari, dan dengan santainya mereka menjawab, kopi membuat mereka lebih bersemangat untuk beraktifitas. ya, setiap pagi mereka selalu duduk di teras depan rumah kami dan menikmati secangkir kopi “tubruk”, kopi asli hasil olahan sendiri, sambil mengamati kebun kami yang berada didepan rumah. Melihat mereka, seolah permasalahan hidup ini sirna hanya dengan secangkir kopi pahit yang nikmat.