iT’s me- Ini adalah kisah yang saya alami beberapa tahun lalu. saat itu saya menghadiri sebuah acara seminar dengan tema pembentukan karakter. Kebetulan yang menjadi salah satu pembicara adalah teman saya. Saat memasuki ruang seminar, sang pembicara yang tak lain adalah teman saya itu menenteng sebuah kantong plastik hitam yang katanya berisi oleh-oleh dan ingin dibagikan kepada kami semua. Agar adil katanya, kami diminta untuk menutup mata masing-masing saat mengambilnya dari dalam kantung plastik.

Seluruh peserta dilarang untuk membuka mata hingga ada instruksi darinya. Dia pun berkeliling dan meminta kami mengambil hadiah yang ada. Dengan sambil menerka-nerka, kami pun secara bergiliran mengambil hadiah tersebut. Saat tiba pada giliran saya, pertama kali yang saya rasakan adalah sesuatu yang bentuknya tak beraturan dan keras. Kami semua semakin penasaran sambil bertanya-tanya dalam hati hadiah macam apakah ini sampai-sampai kami semua harus menutup mata saat mengambilnya.

Setelah semua peserta sudah mendapatkan hadiah masing-masing, kami diminta menggenggamnya erat-erat sambil diangkat keatas dan membuka mata kami. Betapa terkejutnya kami, ternyata hadiah yang dimaksud adalah sepotong arang sementara tangan kami telah menjadi kotor. beberapa peserta malah terlihat wajah dan baju mereka ada noda hitam akibat tidak sengaja tersentuh tangan mereka yang menggenggam arang tersebut.

Seketika seisi kelas seminar menjadi riuh karena tidak menyangka hadiah yang dinanti ternyata hanyalah sepotong arang hitam yang kotor. Sang pembicara kemudian mulai berbicara…”saya tidak berharap kalian menyukai hadiah yang saya berikan”. ini memang hanyalah sepotong arang yang hitam pekat dan kotor namun suka atau tidak, sadar ataupun tidak, setiap kita hidup dengan benda ini”. katanya sambil meminta kami terus mengamati arang itu. Kami pun semakin penasaran dibuatnya.

“Arang ini adalah gambaran hati kita saat ini”, lanjutnya! “Oh, ternyata ini sebuah analogi” gumamku dalam hati.

Apa yang anda lihat dari arang ini? Hitam, kotor, keras namun mudah patah. Selain itu jika anda menggenggam arang ini, tanganmu akan menjadi kotor dan semua benda yang akan anda sentuh akan menjadi kotor pula. saat anda menyalami teman anda yang tangannya bersih, dengan seketika tangan teman anda pun akan menjadi kotor. tangan yang telah dikotori akan mengotori tangan yang lain, demikian seterusnya. itulah arang – itulah hati kita.

Jika hatimu hitam dan kotor maka kamu tidak hanya membuat hidupmu saja menjadi buruk tapi kamu berpotensi untuk mengotori hati/hidup orang lain. Kata-katamu bisa saja dengan mudah melukai orang lain, karena yang keluar adalah kata-kata kotor, kasar, hambar dan penuh tipu daya serta tidak memiliki kepekaaan. kamu akan menjadi orang yang mudah tersinggung, marah dengan emosi yang meledak-ledak serta selalu menyulut permusuhan. Atau mungkin sebaliknya kamu akan menjadi orang yang tidak memiliki gairah, dingin, kaku dan apatis.

Pribadi yang hatinya kotor akan menangis ketika sesamanya tertawa, sebaliknya ia tertawa ketika sesamanya menangis. Segala hal dalam dirinya baik itu pikiran, perkataan dan perbuatan akan selalu memancarkan hal yang buruk sebab dari hatilah terpancar kehidupan.

Hati adalah sumber pancaran kehidupan anda. Jika hatimu bersih maka hidupmu akan bersih tapi jika hatimu kotor maka hidupmu akan kotor.

Nabi Daud.as dalam Syairnya pernah menulis “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. Pun Rasulullah.saw dalam hadistnya berkata, “ Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal darah itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati manusia. (HR. Bukhari dan Muslim).