Its My Life

Sebuah Analogi Dari Sepotong Arang

oleh Mr BeN

22 November 2017

iT’s me- Ini adalah kisah yang saya alami beberapa tahun lalu. saat itu saya menghadiri sebuah acara seminar dengan tema pembentukan karakter. Kebetulan yang menjadi salah satu pembicara adalah teman saya. Saat memasuki ruang seminar, sang pembicara yang tak lain adalah teman saya itu menenteng sebuah kantong plastik hitam yang katanya berisi oleh-oleh dan ingin dibagikan kepada kami semua. Agar adil katanya, kami diminta untuk menutup mata masing-masing saat mengambilnya dari dalam kantung plastik.

Seluruh peserta dilarang untuk membuka mata hingga ada instruksi darinya. Dia pun berkeliling dan meminta kami mengambil hadiah yang ada. Dengan sambil menerka-nerka, kami pun secara bergiliran mengambil hadiah tersebut. Saat tiba pada giliran saya, pertama kali yang saya rasakan adalah sesuatu yang bentuknya tak beraturan dan keras. Kami semua semakin penasaran sambil bertanya-tanya dalam hati hadiah macam apakah ini sampai-sampai kami semua harus menutup mata saat mengambilnya.

Setelah semua peserta sudah mendapatkan hadiah masing-masing, kami diminta menggenggamnya erat-erat sambil diangkat keatas dan membuka mata kami. Betapa terkejutnya kami, ternyata hadiah yang dimaksud adalah sepotong arang sementara tangan kami telah menjadi kotor. beberapa peserta malah terlihat wajah dan baju mereka ada noda hitam akibat tidak sengaja tersentuh tangan mereka yang menggenggam arang tersebut.

Seketika seisi kelas seminar menjadi riuh karena tidak menyangka hadiah yang dinanti ternyata hanyalah sepotong arang hitam yang kotor. Sang pembicara kemudian mulai berbicara…”saya tidak berharap kalian menyukai hadiah yang saya berikan”. ini memang hanyalah sepotong arang yang hitam pekat dan kotor namun suka atau tidak, sadar ataupun tidak, setiap kita hidup dengan benda ini”. katanya sambil meminta kami terus mengamati arang itu. Kami pun semakin penasaran dibuatnya.

“Arang ini adalah gambaran hati kita saat ini”, lanjutnya! “Oh, ternyata ini sebuah analogi” gumamku dalam hati.

Apa yang anda lihat dari arang ini? Hitam, kotor, keras namun mudah patah. Selain itu jika anda menggenggam arang ini, tanganmu akan menjadi kotor dan semua benda yang akan anda sentuh akan menjadi kotor pula. saat anda menyalami teman anda yang tangannya bersih, dengan seketika tangan teman anda pun akan menjadi kotor. tangan yang telah dikotori akan mengotori tangan yang lain, demikian seterusnya. itulah arang – itulah hati kita.

Jika hatimu hitam dan kotor maka kamu tidak hanya membuat hidupmu saja menjadi buruk tapi kamu berpotensi untuk mengotori hati/hidup orang lain. Kata-katamu bisa saja dengan mudah melukai orang lain, karena yang keluar adalah kata-kata kotor, kasar, hambar dan penuh tipu daya serta tidak memiliki kepekaaan. kamu akan menjadi orang yang mudah tersinggung, marah dengan emosi yang meledak-ledak serta selalu menyulut permusuhan. Atau mungkin sebaliknya kamu akan menjadi orang yang tidak memiliki gairah, dingin, kaku dan apatis.

Pribadi yang hatinya kotor akan menangis ketika sesamanya tertawa, sebaliknya ia tertawa ketika sesamanya menangis. Segala hal dalam dirinya baik itu pikiran, perkataan dan perbuatan akan selalu memancarkan hal yang buruk sebab dari hatilah terpancar kehidupan.

Hati adalah sumber pancaran kehidupan anda. Jika hatimu bersih maka hidupmu akan bersih tapi jika hatimu kotor maka hidupmu akan kotor.

Nabi Daud.as dalam Syairnya pernah menulis “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”. Pun Rasulullah.saw dalam hadistnya berkata, “ Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal darah itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati manusia. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sampai di titik ini semua mulai jelas bagi kami. saya pribadi mulai menyadari dan sedikit merenung seperti apa hati saya saat ini. kotor kah, bersih kah atau sama seperti arang ini. Ternyata tidak sulit mendeteksinya karena semua bisa terlihat dari apa yang saya pikirkan, ucapkan dan lakukan setiap hari. Ternyata segala sendi kehidupan saya adalah pancaran dari kondisi hati saya.

Jika demikian, bagaimana caranya agar hati yang bagaikan arang hitam, kasar dan yang mudah patah ini bisa menjadi putih, halus dan lembut? Untuk pertanyaan ini, sang pembicara kemudian mengeluarkan sejumlah alat peraga seperti sabun cuci, pemutih, cat dan air. ia kemudian meminta beberapa peserta maju kedepan untuk mencoba memutihkan arang yang ada dengan cara mencucinya menggunakan sabun dan pemutih namun tetap saja arang tidak menjadi putih. Bahkan ketika di cat putih sekalipun, itu hanya menutupi bagian luarnya saja tapi sebenarnya arang itu tetaplah hitam.

Memang kecenderungan manusia adalah mencoba mencari solusi dengan berbagai trik dan intrik yang mereka anggap benar namun hanya bertujuan untuk mengelabui orang lain. Ada yang bahkan mencoba mengubah penampilan semata dengan berbagai pakaian dan atribut yang lebih agamawi agar lebih terkesan religius. Sebenarnya mengubah penampilan menjadi lebih religius dan mengubah gaya hidup adalah tidak salah namun jika itu dilakukan dengan motivasi yang salah maka hati akan tetap kotor bahkan menjadi lebih hitam lagi.

Cara yang benar agar arang menjadi putih, halus dan lembut adalah harus dibakar dengan api. Ya, arang yang dibakar akan berubah menjadi abu. Abu itu putih, halus dan lembut sehingga sangat mudah dibentuk dan memiliki banyak manfaat. Di daerah pedalaman, kita masih jumpai abu akan digunakan untuk menggosok atau membersihkan bagian peralatan masak yang hitam. Kita sering mendengar istilah ‘abu gosok’ karena memang abu digunakan untuk membersihkan peralatan yang kotor.

Sama dengan arang tadi, hati yang kotor, keras dan mudah patah hanya bisa menjadi putih bersih, halus dan penuh kelembutan jika dibersihkan dengan cara yang benar. Hal benar yang dapat dilakukan adalah mendekatkan diri kepada Sang Penguasa hati yaitu Allah SWT. Hati yang keras dapat disebabkan karena dosa atau pun ada luka dan kepahitan dari peristiwa hidup yang dialami. seseorang yang pernah mengalami pengalaman traumatis bisa membuat hatinya menjadi dingin, kaku dan keras. Olehnya kita dapat dengan rendah hati datang dan memohon kepada Allah dengan hati yang terbuka mengizinkan Ruh-Nya yang suci menyelidiki setiap hati kita agar dibersihkan dari segala kekotoran dosa maupun luka yang ada. karena hanya Allah yang mampu melembutkan hati yang keras.

Jika hati telah dimurnikan melalui proses “pembakaran” Allah, maka hati akan menjadi halus dan penuh kelembutan. kita akan memiliki perasaan yang halus yang mudah tersentuh dan peka terhadap segala keadaan yang ada. Kita akan menangis bersama mereka yang menangis dan tertawa bersama mereka yang tertawa. Hidup kita akan penuh dengan cinta dan kasih sayang, selalu sabar dalam menanggung segala sesuatu. Tidak ada trik dan intrik dalam setiap tutur kata maupun tindakan kita, sebaliknya kita akan penuh dengan ketulusan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.

Sama seperti abu yang dapat membersihkan peralatan yang telah bernoda hitam/kotor, pribadi yang telah dibersihkan hatinya akan mampu membawa pengaruh yang baik terhadap orang lain. Tutur katanya pun penuh dengan kelembutan sehingga setiap orang yang mendengarnya dapat merasakan keteduhan. Ia bisa menguasai dirinya dalam segala hal bahkan dalam keadaan yang tersulit dan masuk dalam titik terendah kehidupan ini sekalipun sehingga ia masih bisa merespon dengan bijak. Ia cepat dalam memaafkan dan tidak pendendam, penuh dengan etika dan sopan santun serta tidak sombong. kehidupannya dapat menjadi teladan bagi banyak orang.

Jika kita sedikit merenung soal proses awal penciptaan manusia, maka manusia pada dasarnya hanyalah seonggok tanah yang hitam dan kering. Namun ketika Allah meniupkan Ruh-Nya pada seonggok tanah hitam nan kering yang telah dibentuk itu maka terciptalah sebuah makhluk yang begitu mulia nan sempurna sampai-sampai para malaikatpun diminta untuk sujud kepadanya – itulah manusia, itulah fitrah kita yang sesungguhnya. Manusia secara fitrah adalah mahkluk yang sangat mulia ketika Ruh Allah menguasainya. Maka sudah saatnya ketika kini kita dikotori dengan segala hal yang kotor dan menjijikan, mintalah Allah untuk memurnikan kita dengan Ruh-Nya yang suci yang membawa kita kembali pada fitrah yang sesungguhnya.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (QS. Al-Hijr (15):28-29)

Ingat bahwa fitrah kita bukanlah seonggok tanah kering yang hitam dan kotor, tapi sesungguhnya adalah insan yang begitu mulia dari semua mahkluk yang ada. Kita butuh “tiupan Ruh Allah” untuk kembali ke Fitrah. Saatnya Back to Fitrah.

Saatnya bakar arangmu sambil ditemani suguhan nasyid menyejukkan dari Snada berikut ini :

[youtube id=”9kxKHPfpWgU”]

Mr BeN

Dirut PT. Internasional Fokus Media (Group) Ketua Yayasan Ekual Akses Indonesia Kepala Divisi Media Yayasan Hidayah Bangsa