“Seandainya mencaci maki bukanlah suatu moral yang buruk, maka orang pertama saya cacimaki adalah mereka yang membuang sampah dengan membabibuta.”

iT’s me – Perasaan ini mulai tumbuh saat usia saya masih ABG (baca : Pemuda) “24”. Bermula perjalanan ke jakarta dengan kenderaan pribadi seseorang yang tidak akan saya sebutkan namanya, sembari menikmati perjalanan dan menahan dinginya hembusan ac mobil, tanpa sengaja saya melihat dan memperhatikan setiap sudut dalam mobil, menghembuskan nafas dan mulai berkata dalam hati “jorok juga yang punya mobil”, segala macam sampah berserakan. Opini semakin menumpuk di kepala saya. Di sela sela perjalana tiba- tiba orang tersebut menceritakan pegalamanya ketika berada di luar negri, dia menceritakan betapa bersihnya bandara di sana, dia juga menggambarkan kalau orang orang di sana sangat tertib dan memiliki kesadaran yang besar dalam menjaga lingkungan tempat mereka berpijak. Sambil medengarkan ocehanya, untuk yang ke dua kalinya hati saya berkata ” ya ya aya, terus kenapa di sini sampah di mobil kamu berserakan “.

Setelah kurang lebih empat jam perjalanan pulang balik di tambah satu jam macet, akhirnya kami sampai di rumah dengan selamat, barulah dia membersihkan sampah yang berserangan di dalam mobilnya dan membuang ketempat sampah. Disitulah saya baru mengerti kenapa dia tidak melakukan seperti penampakan yang sering terjadi di jalanan di mana pengendara dengan mudah membuang sampah tanpa memperhatikan di sekitar mereka, pejalan kaki dengan cuek melemparkan pembungkus makanan mereka dan berpikir seolah olah tidak ada manusia yang melihatnya.

Kita bisa melihat pengendara mobil pribadi, angkutan kota, motor dan pejalan kaki tanpa memikirkan berapa lama sampah non organik yang mereka buang dengan membabibuta akan di hancurkan oleh alam, mereka lebih tidak rela mengotori kenderaan pribadi atau kantong celana mereka dari pada menyelamatkan bumi yang mereka pijak. Bukankah lebih berkeprimasusiaan ketika berkendara sampah tersebut di tumpuk dulu dalam mobil seperti yang dilakukan orang yang saya ceritakan tadi, atau saat berjalan alangkah baiknya pembungkus makanan, tisu atau botol minuman di simpan dulu ke dalam kantong celana, andai kata tempat tersebut belum meliki tempat sampah, anda tidak akan kehilangan wibawa kalau melakukan seperti yang saya maksut. Terlebih sadis mereka melemparkan puntung rokok yang masi  menyala keluar  saat berkendara, melihat hal itu, untuk kesekian kalinya dalam hati saya berkata” I…ih jahat,Dasar tidak berkeprimanusiaan”. Ingin rasanya berteriak dan bilang “Kamu sampah di atas sampah”, tapi apalah daya kerap kali tidak kesampaian karena kenderaan mereka lebih lejit dari motor saya.

Begitu pentingnya sehingga bukan hanya Go green yang mengkampanyekan hal ini, tapi Allah pun turut mengkampanyekan dalam Q.S. Ar-Rum ayat 41-42 ,

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). (41)
Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (42)

Apakah ini kurang ampuh untuk menyadarkan kita? jika sampai saat  ini  masih acuh tak acuh dengan hal tersebut, maka bisa saya katakan kalau memang pada dasarnya hati kita pun sudah di penuhi sampah sehingga tidak peduli dengan apa yang di kampanyekan Tuhan sang pencipta alam ini. Kesenangan kita membuang sampah non organik menandakan hatika kita sedang kotor dan tidak lama lagi membusuk. Sahabatku, kebiasaan hiduplah yang  menentukan  bersih dan tidaknya hati kita.