Its My Faith

Sampai Dimana Kepatuhan Kita Kepada Utusan Allah SWT?

oleh arpan

6 August 2019

iT’s Me – Banyak Muslim mengutip frase “Ati-Ulllaha Warasula” (Patuhlah pada Allah dan Rasul) saat mengacu kepada kepatuhan tanpa batas yang harus diberikan kepada seorang Nabi atau Rasul. Seringkali frase ini digunakan untuk pembenaran semua sikap tindakan, doktrin, dan praktik dari sumber-sumber di luar Al-Qur’an yang seringkali tidak ada landasannya dalam Al-Qur’an.

Tak ada keraguan bahwa dari studi Al-Qur’an, Nabi perlu dipatuhi dalam hal bimbingan yang diberikannya (Q.S. An-Nuur [24]:51), dalam hal menengahi perselisihan, dalam hal memberikan penilaian, kepemimpinan, dan sebagainya. (Q.S. An-Nuur [24]:51, Q.S. [4]:59, Q.S. [33]:3, Q.S. [49]:14, Q.S. [8]:46, Q.S. [8]:1).

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوۤاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَـٰئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Q.S. An-Nuur [24]:51.

يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلآخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
“Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik sifatnya.” Q.S. An-Nisaa’ [4]:59.

وَتَوَكَّلْ عَلَىٰ ٱللَّهِ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلاً

“dan bertawakallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” Q.S. Al-Ahzab [33]:3.

قَالَتِ ٱلأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوۤاْ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلإِيمَانُ فِى قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ لاَ يَلِتْكُمْ مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئاً إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak akan mengurangi sedikitpun paala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Al-Hujuraat [49]:14.

وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَٱصْبِرُوۤاْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Q.S. Al-Anfaal [8]:46.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ ٱلأَنْفَالِ قُلِ ٱلأَنفَالُ لِلَّهِ وَٱلرَّسُولِ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah: ‘Harta rampasan perang. Katakanlah: ‘Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” Q.S. Al-Anfaal [8]:1.

Kepatuhan ini dituntut dari para pengikut semua Rasul sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an secara kategoris (Q.S. An-Nisaa’ [4]:64).

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ أِلاَّ لِيُطَاعَ بِإِذْنِ ٱللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوۤاْ أَنْفُسَهُمْ جَآءُوكَ فَٱسْتَغْفَرُواْ ٱللَّهَ وَٱسْتَغْفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُواْ ٱللَّهَ تَوَّاباً رَّحِيماً
“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonan ampun untuk mereka tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”Q.S. An-Nisaa’ [4]:64.

“Bagaimanapun juga cakupan ‘kepatuhan’ belum pernah sepenuhnya diapresiasi oleh banyak orang Muslim dan jarang dibahas.”

Al-Qur’an memberikan contoh jelas mengenai ‘ikrar/sumpah/kesetiaan atau baiat yang dituntut seseorang untuk diberikan kepada seorang nabi atau rasul di tengah-tengah mereka. Terdapat suatu contoh saat para perempuan tertangkap, namun ada suatu bagian sangat krusial. Saya menyoroti bagian dengan kutipan bahasa Arab terkait itu.

يٰأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِذَا جَآءَكَ ٱلْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَىٰ أَن لاَّ يُشْرِكْنَ بِٱللَّهِ شَيْئاً وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِينَ وَلاَ يَقْتُلْنَ أَوْلاَدَهُنَّ وَلاَ يَأْتِينَ بِبُهُتَانٍ يَفْتَرِينَهُ بَيْنَ أَيْدِيهِنَّ وَأَرْجُلِهِنَّ وَلاَ يَعْصِينَكَ فِى مَعْرُوفٍ فَبَايِعْهُنَّ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُنَّ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia (bahasa Arab: yibayi’naka), bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesunggunya Allah maha Pengampun lagi maha Penyayang.” Q.S. Al-Mumtahanah [60]:12.

“Tak ada keraguan bahwa dari studi Al-Qur’an, Nabi perlu dipatuhi dalam hal bimbingan yang diberikannya.”

Bagian bahasa Arab yang dicetak tebal dibaca “wala (dan bukan) ya’sinaka (mereka akan mendurhakaimu) fima’rufin (dalam urusan yang benar) atau dalam pernyataan yang lebih cair:
‘bahwa mereka tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang adil (benar/baik)’
‘ma’rufin’ dalam bahasa Arab di konteks ini jelas mengacu kepada apapun yang adil, benar, diakui, dan terhormat.
Poin ini sebenarnya sangat signifikan karena menantang pandangan awam di antara Muslim bahwasanya:
Seorang Nabi atau Rasul harus dipatuhi dalam ketertundukan total, tanpa refleksi, dalam semua hal secara membuta dan tanpa pertanyaan apapun (yang mana hal itu sendiri bertentangan dengan nasihat yang diberikan dalam Q.S. Al-Israa’ [17]:36. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu idak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” Tingkat baiat ini seringkali memberikan jaminan tanpa dasar kepada banyak nabi palsu dan para pemimpin sekte untuk mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya dari para pengikut mereka yang rapuh.
Bahwasanya seorang nabi atau rasul tidak pernah bisa salah yang sama sekali bukan apa yang ditunjukkan dalam contoh-contoh yang disajikan dalam Al-Qur’an berikut:
Contoh:
Q.S. At-Tahrim [66]:1. Nabi ditegur karena melarang sesuatu yang seharusnya tidak dilarang.

يٰأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَ تَبْتَغِى مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” Q.S. At-Tahrim [66]:1.

Q.S. ‘Abasa [80]:1. Nabi bermasam muka (abasa) dan memalingkan diri. Kisah lengkapnya merupakan suatu teguran.

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling” Q.S. ‘Abasa [80]:1.

Q.S. Al-Anfaal [8]:67 – 69. Nabi seharusnya tidak menyandera tahanan perang kecuali beberapa persyaratan telah dipenuhi.

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِى ٱلأَرْضِ تُرِيدُونَ عَرَضَ ٱلدُّنْيَا وَٱللَّهُ يُرِيدُ ٱلآخِرَةَ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
لَّولاَ كِتَابٌ مِّنَ ٱللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَآ أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
فَكُلُواْ مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلاَلاً طَيِّباً وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki akhirat. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranyatidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Al-Anfaal [8]:67 – 69.

Sangatlah luar biasa sulit (kalau bukan mustahil) untuk menyimpulkan apakah contoh-contoh di atas adalah satu-satunya peristiwa yang muncul pada kenabian Muhammad SAW.
Bagaimanapun juga perlu dicatat bahwasanya peristiwa-peristiwa tersebut tidaklah eksklusif terjadi pada Nabi Muhammad SAW namun juga dialami oleh para nabi dan rasul lainnya yang disebutkan contohnya.
Salah satunya adalah kasus yang dialami Nabi Musa AS dimana Nabi Musa AS melakukan salah penilaian saat ia membunuh orang yang seharusnya bisa diajak bicara dan diyakinkan, suatu tindakan yang terjadi saat ia khilaf sebelum datang masa kenabiannya. (Q.S. Asy Syu’araa’ [26]:20 dan Q.S. Al-Qashash [28]:15).

قَالَ فَعَلْتُهَآ إِذاً وَأَنَاْ مِنَ ٱلضَّالِّينَ
“Berkata Musa, ‘Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.” Q.S. Asy Syu’araa’ [26]:20.

وَدَخَلَ ٱلْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلاَنِ هَـٰذَا مِن شِيعَتِهِ وَهَـٰذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَٱسْتَغَاثَهُ ٱلَّذِى مِن شِيعَتِهِ عَلَى ٱلَّذِى مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ قَالَ هَـٰذَا مِنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِينٌ
“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: ‘ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” Q.S. Al-Qashash [28]:15.

Begitu pula Nabi Yunus, yang contohnya juga dikutip sebagai salah satu yang terjadi selama kenabiannya.
Nabi Yunus AS lari dari umatnya dengan angkara dan ia ditegur oleh Allah.

فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُدْحَضِينَ
“kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian” Q.S. Ash Shaaffaat [37]:141 (mud’hadin).

Ia kemudian dimaafkan karena ia orang yang mengagungkan Allah

فَلَوْلاَ أَنَّهُ كَانَ مِنَ ٱلْمُسَبِّحِينَ
“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah” Q.S. Ash Shaaffaat [37]:143.

Kemudian dikutip sebagai seseorang yang menghendaki ‘alamiin’ di Q.S. Al-An’aam [6]:86.

وَإِسْمَاعِيلَ وَٱلْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطاً وَكُلاًّ فَضَّلْنَا عَلَى ٱلْعَالَمِينَ
“dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” Q.S. Al-Anaam [6]:86.

Bagaimanapun juga beberapa tindakan tertentunya disebutkan bukan sebagai sesuatu yang untuk disamai sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-Qalam [68]:48.

فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ
“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” Q.S. Al-Qalam [68]:48.

Peristiwa ini yang menggarisbawahi kesalahan penilaiannya yang fatal tampaknya sedemikian signifikannya sehingga ia disebut sebagai ‘Dhul Nun’ (orang yang berada dalam perut ikan) di Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]:87.

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِباً فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَاتِ أَن لاَّ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّالِمِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap. Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang zalim.” Q.S. Al-Anbiyaa’ [21]:87.

“Bagaimanapun juga ini tidak mengecualikan kesalahan-kesalahan penilaian, contoh-contoh yang sudah disebutkan sebagaimana dalam kutipan ayat-ayat Al-Qur’an.”

Suatu julukan serupa, temannya ikan (sahibi-i-huti), digunakan untuk menyebutnya saat contoh khusus itu digunakan agar jangan diikuti.

فَٱصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلاَ تَكُن كَصَاحِبِ ٱلْحُوتِ إِذْ نَادَىٰ وَهُوَ مَكْظُومٌ
لَّوْلاَ أَن تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِّن رَّبِّهِ لَنُبِذَ بِٱلْعَرَآءِ وَهُوَ مَذْمُومٌ
فَٱجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَجَعَلَهُ مِنَ ٱلصَّالِحِينَ
“Maka bersabarlah kamu (hai Muhamad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan (bahasa Arab: sahibi-i-huti), ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapatkan nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Namun Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” Q.S. Al-Qalam [68]:48 – 50.

Oleh karena itu, ‘ikrar/kesetiaan’ kepada seorang Nabi sampai pada titik yang dianggap adil dan benar serta sesuai dengan apa yang diajarkannya dari Kitab Suci (bahasa Arab: ma’rufin). Tentu saja, seorang Nabi tidak akan pernah melakukan hal buruk yang disengaja. Ini jelas dari ayat-ayat yang mana Allah berfirman bahwa dia tidak memilih orang-orang yang membawa pada kesesatan untuk menjadi para pembantunya.

مَّآ أَشْهَدتُّهُمْ خَلْقَ ٱلسَّمَاوَاتِ وَٱلأَرْضِ وَلاَ خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَا كُنتُ مُتَّخِذَ ٱلْمُضِلِّينَ عَضُداً
“Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.” Q.S. Al-Kahfi [18]:51.

Bagaimanapun juga ini tidak mengecualikan kesalahan-kesalahan penilaian, contoh-contoh yang sudah disebutkan sebagaimana dalam kutipan ayat-ayat Al-Qur’an di atas. Oleh karena itu tanggung jawab terakhir tetap sepenuhnya ada pada insan agar mengikuti nasihat terbaik saat mengambil nasihat dari seorang rasul atau nabi utusan Allah. Lagipula kesempurnaan hanyalah milik Allah.

ٱلَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ ٱلْقَوْلَ فَيَـتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُوْلَـٰئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَاهُمُ ٱللَّهُ وَأُوْلَـٰئِكَ هُمْ أُوْلُو ٱلأَلْبَابِ
“yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (bahasa Arab: Albabi).” Az-Zumar [39]:18.
Tentu saja Al-Qur’an sepenuhnya jelas bahwa ilham Nabi (Al-Qur’an itu sendiri) dilindungi. Lebih lanjut lagi, Nabi tetaplah teladan terbaik dari umatnya. Bagaimanapun juga Nabi juga diminta berpartisipasi di syura atau majelis-majelis dengan umatnya untuk membahas dan memutuskan persoalan.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka (bahasa Arab: watamiru), dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadanya.” Q.S. Ali ‘Imran [3]:159.
KESIMPULAN
Dalam beberapa hal cukup menenteramkan bahwasanya Allah tidak pernah menuntut hamba-hamba-Nya untuk tunduk tanpa tanya kepada siapapun selain pada-Nya. Bahkan tidak kepada para nabi maupun rasul.

Setiap orang harus selalu menjunjung tinggi pemikiran kritis, peniliaian insani, dan kemampuan membedakan yang baik dari yang buruk dan yang benar dari yang salah.
Batas kepatuhan pada Nabi Allah adalah ‘ma’rufin’ (sampai pada poin apa yang dianggap benar dan adil). Kalau saja banyak ‘para pengikut’ mempertanyakan ‘para pemimpin keagamaannya/alirannya/spiritualnya, serta menilai amalan-amalan maupun ajaran-ajaran mereka dengan sebaik-baik mungkin dan tidak mengikuti taqlid buta kepada mereka, mungkin mereka tidak akan sepenuhnya sepakat.
Sebagai catatan kritis, Jika Al-Qur’an mengajukan cakupan yang jelas mengenai batas ‘kepatuhan’ terhadap nabi dan rasul, maka terlebih lagi kepada pemimpin atau tokoh agama yang ada saat ini.

Baca juga:
Mengikuti Teladan Nabi?
Memahami Istilah ‘Sunnah’ dari Perspektif Alqur’an
Apa itu Wasilah dari Perspektif Alqur’an
Syirik menurut Alqur’an
REFERENSI
(1) Quranmassage
(2) quran.com

arpan