Featured, Its My Faith

Sajadah dalam Perut Ikan: Hikmah Kisah Nabi Yunus

oleh Ali Romdhoni, MA

7 November 2018

Syahdan, Nabi Yunus alaihis salam merasa harus bergabung dengan para penumpang kapal, yang sebentar lagi akan bergerak meninggalkan dermaga. Namun ada yang aneh. Beberapa saat setelah jangkar diangkat, kapal enggan bergerak, dan mogok di lautan lepas. Seluruh penumpang gelisah dan berspekuasi mencari penyebab mogoknya kapal.

Sebagian dari mereka berkeyakinan, bila kapal tidak mau berjalan di lautan, bisa dipastikan di dalamnya terdapat penumpang yang telah lari meninggalkan tuannya. Sebagian yang lain berpendapat datar, kapal mengalami overloading atau kelebihan muatan.

Maka jalan keluar harus ditempuh oleh pihak awak kapal dengan menurunkan salah seorang penumpang. Selain untuk mengurangi kelebihan beban kapal, juga agar jumlah penumpang yang lebih banyak lagi bisa terselamatkan. ‘Nasib’ menghampiri sang utusah Allah, Nabi Yusuf untuk mau tidak mau harus keluar dari kapal. Itu berarti menceburkan diri ke lautan luas.

Perjalanan selanjutnya membawa Nabi Yusuf bertemu dan ditelan raksasa penjaga samudera. Yusuf berada di perut ikan, di dasar lautan. Iya, dalam hitungan detik Nabi Yusuf telah berada dalam kegelapan dan telah kehilangan semuanya: saudara, teman, bahkan berada jauh dari umatnya. Maka hanya ada satu yang tersisa, Tuhan dan pertolongan-Nya yang tidak berbatas.

Mari kita pelajari kronologi sebelumnya, mengapa Nabi Yunus kemudian menghadapi hari-hari gelap di dalam perut ikan. Sebuah riwayat menceritakan, keputusan Nabi Yunus untuk pergi bersama para penumpang kapal didorong oleh perkembangan dakwah pada kaumnya yang tidak kunjung membuahkan progress. Di sisi lain, di sana belum ada petunjuk atau perintah dari Allah agar Nabi Yunus mengambil tindakan baru, selain tetap membersamai umat.

Apa yang bisa kita renungkan ketika membaca kisah teladan Nabi Yunus ini?

Perjalanan hidup terkadang membawa kita seakan menghadapi jalan buntu. Di sana, kita kemudian menganalisis dan melakukan spekulasi untuk melakukan langkah-langkah baru yang dirasa tepat. Dalam kondisi seperti ini, pertimbangan-pertimbangan kita berada di antara rasional dan emosional.

baca juga : Pesantren dan kritik atas tradisi pendidikan kita

Maka, pilihan kita terkadang membawa diri ini kepada keadaan yang terang, tetapi juga sangat mungkin justru menyeret kepada kondisi yang sama sulitnya. Jalan baru yang kita pilih tidak lebih baik, tetapi sebaliknya kita menghadapi persoalan baru. Tetapi, itulah kondisi yang terkadang harus dihadapi manusia.

Bagaimana kita melewati hari-hari gelap itu. Kita bisa belajar dari kisah Nabi Yunus selanjutnya.

Dikisahkan, di dalam perut ikan, pertama-tama Nabi Yunus merasakan dirinya di dalam masjid. Maksudnya, Nabi Yunus menggunakan keadaan yang sulit itu hanya untuk mengingat dan meratap kepada Allah. Nabi Yunus dikaruniai oleh Tuhan untuk senantiasa ingat kepada Allah. La ilaha illa anta, Subhanaka inni kuntu minazh zhalimin (artinya, “Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau. Sungguh, aku termasuk orang yang zalim”).

Itu bekal pokok dan satu-satunya, bahkan ketika semua yang dimiliki Nabi Yunus hilang diambil oleh Allah.

Sebuah keajaiban kemudian terjadi. Meskipun semuanya telah hilang, tetapi dengan kesadaran adanya kekuatan yang maha kuat, Allah azza wa jalla, Nabi Yunus tetap memiliki energi dan pelan-pelan bergerak menuju cahaya terang.

Inilah keluasan hidup. Tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada kata akhir, selagi kita memiliki keyakinan untuk bertahan. Keyakinan itu tidak lain adalah kesadaran atas keberadaan Tuhan di dekat kita.

baca juga : Mawas diri

Namun demikian, yang terjadi pada Nabi Yunus itu tidak dating begitu saja. Kenapa dalam kondisi yang gelap dan sulit itu Nabi Yunus menemukan Tuhan-nya. Jawabnya, karena dalam kondisi apapun, sebelunya, Nabi Yunus adalah orang yang selalu bersandar dan berdoa kepada Allah. Artinya, dalam diri Nabi Yunus telah memiliki kebiasaan untuk selalu bersandar dan berdoa kepada Allah.

Jadi, bukan karena mengalami kesulitan kemudian Nabi Yunus merapat kepada Tuhan-nya, tetapi Nabi Yunus memang membiasakan diri selalu berdoa kepada Allah ketika dalam kondisi lapang sebelumnya.

Maka, tidak aneh ketika Nabi Yusuf menghadapi kesulitan, hal pertama yang dia lakukan adalah menghadirkan Allah pada setiap ruang dan waktu di depannya. Di sini, hampir tidak ada bedanya antara rongga perut ikat dan lantai masjid yang jauh dari kerumunan manusia.

Dari sini kita bisa belajar, perjalanan hidup memungkinkan membawa seseorang kepada keadaan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Tetapi, tetaplah bertahan dan teruslah berjalanlah.

Saya juga mencatat nasehat para bijak, tantangan di depan kita kelak akan mendidik untuk mengakui bahwa diri ini belum berarti apa-apa. Dengan melakukan evaluasi diri dan membuat catatan perjalanan masa lalu, kita terus belajar dan berusaha menjadi yang lebih baik.

Ini juga bisa dimaknai, bahwa proses demi proses yang kita lalui adalah sementara. Tetapi, ada hal yang harus kita ingat, apa pun dan di mana pun proses perjalanan kita, semuanya semacam lelaku menuju kondisi hari esok yang cerah. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.