Featured, Its My Faith

Rahmat Allah Lebih Besar dari Amarah-Nya, Harusnya Kita Juga!

oleh Mr Ben

23 February 2018

iTs me –Pernahkah kamu mendoakan mereka yang mencurangimu, mengkhianatimu ataupun menjahatimu agar mereka mendapatkan hidayah dan rahmat Allah serta bertobat menjalani hidup yang lebih baik? Seberapa sering kamu benar-benar memaafkan dan mendoakan mereka agar hal baik terjadi atas mereka? Ataukah sebaliknya kamu mendoakan agar hal buruk segera menimpa mereka setimpal dengan perbuatan mereka kepadamu atau bahkan lebih buruk dari itu?

Atau pernahkah kamu mendengar sebuah ceramah dan doa yang penuh dengan spirit pembalasan agar Allah segera melaknat mereka yang dianggap melanggar? Saya beberapa kali mendengar dan menyaksikan hal itu diberbagai kesempatan termasuk di media sosial seperti youtube.

Terkait hal ini, mengutip sebuah nasehat dari Isa Almasih dalam Bible, Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia  dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:43-44)

Kontras dengan nasehat diatas, pada umumnya, tak sedikit dari kita lebih cenderung membalas sebuah perbuatan jahat dengan perbuatan jahat pula. Manusia memang lebih condong mengikuti hukum gigi ganti gigi dan mata ganti mata ketimbang hukum kasih sayang dimana mengutamakan memaafkan dan mendoakan hal baik terjadi.

Kecenderungan sifat kita yang mudah marah, suka membalas dan menghukum tersebut akhirnya membuat kita cenderung melihat Allah dari murka-Nya, azab-Nya, hukuman-Nya ketimbang kasih sayang dan pengampunan-Nya yang begitu luas.

Tentu kita pernah mendengar dalam berbagai kesempatan,  kata-kata seperti laknat Allah, murka Allah, hukuman Allah, azab Allah, siksaan Allah, neraka jahanam, dan lain sebagainya, sering disampaikan dengan begitu lantang oleh para penceramah atau pengkhotbah. Sayangnya ini seringkali kontras dengan pemahaman kontekstual terhadap murka-Nya dengan ampunan-Nya yang sangat luas serta kasih sayang-Nya yang sangat besar bagi makhluk-makhluk-Nya.

Tuhan kita Maha Pengasih dan Maha Pengampun
Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi.’ Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah.’ Dia telah menetapkan atas Diri-Nya hukum kasih sayang. (bahasa Arab: Kataba ala nafsihi i-rahma). Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman ” Q.S. Al-An’aam [6]:12.

Pernyataan ‘Dia telah menetapkan atas Diri-Nya hukum’ (bahasa Arab: Kataba ala nafsihi) adalah kuncinya. Pernyataan ini hanya muncul dua kali di dalam Al-Qur’an dan dalam keduanya mengacu pada ampunan-Nya (bahasa Arab: Rahmah)

Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: ‘Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Al-An’aam [6]:54.

Allah Maha Adil dan IA adalah Tuhan yang Maha Pengampun
Ampunan Allah jelas tersampaikan dalam ayat berikut. Kebaikan seseorang diganjar pahala dalam jumlah yang berlipat-lipat. Sedangkan di sisi lain kejahatan hanya dihukum sebatas besarnya kejahatan yang dilakukan tersebut. Meskipun demikian terhadap kejahatan masih dibukakan pintu taubat.

Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” Q.S. Al-An’aam [6]:160.

Ampunan Allah ditegaskan lagi
Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman ‘Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki namun rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” Q.S. Al-‘Araaf [7]:156.

Jujur saja, kadang saya begitu miris dengan ceramah-ceramah atau khotbah-khotbah yang selalu menitik beratkan pada murka Allah ketimbang rahmat Allah yang penuh ampunan. Ketika seseorang berbuat hal yang melanggar, kita dengan mudah sering melontarkan kata-kata penuh tendensi kemarahan seperti semoga Allah melaknatnya, semoga Allah meng-azab nya dengan siksaan yang berat, dan lain sebagainya ketimbang kata-kata penuh harapan pengampunan untuk tobat seperti semoga dia segera mendapatkan hidayah dari Allah, semoga Allah mengampuninya, dan lain sebagainya.

Kita terlalu terfokus pada sebuah hukuman ketimbang sebuah pengampunan, sebuah pembalasan ketimbang sebuah maaf. Bahkan ketika kita memaafkan seseorang yang mencurangi kita, terkadang kita dipandang sebagai orang bodoh. Padahal jika kita mencermati ayat-ayat diatas, harusnya kita mengedepankan sifat-sifat dari Allah yang penuh kasih sayang dan memaafkan.

Sebenarnya Allah menciptakan kita dari kekosongan. Dia lah yang merahmati kita, Dia lah yang memelihara kita. Dia lah yang membimbing kita, dan Dia pula lah yang mengampuni kita dan memberikan rahmat-Nya. Allah terus memberikan ampunan-Nya bila kita bertobat dengan baik kembali ke jalan yang benar. Ia melipat gandakan amal baik kita, namun hanya menghukum kejahatan sesuai dengan besarnya kejahatan yang diperbuat, tidak kurang, tidak lebih.

Akhirnya, bila kita tetap dihukum untuk menerima murka Allah setelah rahmat dan ampunan-Nya yang sedemikian besar, maka jelas-jelas kita telah gagal.

**Terimakasih atas sambutan hangat dari teman-teman barista starbucks rest area Vimalla Bogor saat saya mampir dan menyelesaikan tulisan ini*** 

Mr Ben

Berawal dari mendirikan sebuah Lembaga Penyiaran Swasta, sejak saat itu visi terus berkembang | Pendiri dan CEO Fokus Media Group | cyberlabpro | itsme.id | SajaddahFM | SajaddahLive | PanuaFM | SorbanFM | Hidayah Bangsa Fondation | Seorang Penikmat Kopi Hitam |