Its My Life

Putri Campa dan Relasi Nusantara – China

oleh Ali Romdhoni

14 December 2018

Putri Campa dikisahkan sebagai seorang wanita bangsawan nan rupawan. Berita tentang kecantikannya begitu mashur, membuat ia akhirnya diperistri oleh raja ke-14 Majapahit, Bhre Kerta Bhumi atau Raja Brawijaya V. Dari pernikahannya dengan keturunan Raden Wijaya itu, lahir seorang putra bernama Raden Fatah. Anak dari Putri Campa inilah yang kelak bertahta sebagai raja pertama di Kesultanan Demak Bintara, di wilayah pantai utara Pulau Jawa.

Putri Campa meninggal sekitar tahun 1390 Saka. Jejak dan pusaranya berada di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Hingga hari ini, dongeng tentang Putri Campa selalu saja berhubungan dengan pesona dan keanggunan seorang putri.

Putri Campa memiliki nama asli Kianwhie, atau Dewi Kianwhie. Babad Tanah Djawi menyebutnya sebagai Anarawati, atau Dwarawati. Orang-orang memanggil dengan sebutan Putri Campa, konon karena ia bearsal dari negeri Campa. Saat ini, Campa (Champa; Vietnamese: Chăm Pa) adalah Kamboja, atau Thailand, dan ada yang menerangkan bahwa pusat kerajaan Campa (600-an – 1832 M) sesungguhnya berada di Vietnam. Kita masih bisa menjumpai komunitas masyarakat Campa di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Pulau Hainan (China).

Masyarakat Jawa juga menyebut Putri Campa sebagai Putri China. Ini karena Campa merupaka bagian dari China, dan memang memiliki kedekatan dalam budaya dan agama. Atau, mungkin karena paras sang putri yang digambarkan putih-ayu.

Sampai di sini, penulis ingin mengajak pembaca untuk mencermati cerita tentang kehidupan istri raja-raja di Nusantara, sejak Singasari (1222-1292), Majapahit (1293–1527), hingga Kesultanan Demak (1475–1554). Di sana kita akan menemukan ‘fakta’, salah satu istri raja diceritakan sebagai seorang putri dari China, atau juga disebutkan sebagai Putri Campa, atau paling tidak berkerabat dengan Putri Campa.

Artinya, cerita Putri Campa—sebagai istri raja Jawa, atau orang nomor satu dalam istana—muncul hamper di setiap era kekuasaan Jawa (Nusantara). Sosok Putri Campa hadir dan nunggak semi (selalu ada, dan ada lagi; tidak ada putusnya) di dalam rumah tangga istana Raja Jawa.

baca juga : Jejak Peradaban Kuno di Indonesia

Sebagian masyarakat di Jawa Timur (Malang, Kediri, Jombang, Mojokerto dan Tuban), misalnya, mereka beranggapan bahwa salah satu istri Raja Singasari adalah Putri dari China. Cerita lainnya mengatakan, Raja Singasari telah menikahkan seorang anak (kerabat)-nya dengan bangsawan dari Campa.

Sementara bagi penulis, Putri Campa lebih identik era akhir Majapahit. Kemashuran cerita ini hampir tidak bisa dibantah.

Adakah ini lebih disebabkan karena masyarakat kita kurang teliti dalam menandai masa hidup seorang tokoh? Karena cerita tutur tidak memperhatikan detail angka (tahun), akibatnya penggunaan masa pemerintahan sebagai patokan untuk mengingat satu peristiwa menjadi mudah bergeser.

Putri Campa adalah istri seorang raja Jawa. Sementara kerajaan di Jawa berdiri dan tumbang silih-berganti. Singasari, Kediri, Majapahit, hingga Demak, semua diidentifikasi sebagai kerajaan Jawa, kemudian dihubungkan dengan seorang tokoh bernama Putri Campa. Akibatnya, cerita Putri Campa dihubungkan dengan sejarah Singasari hingga Demak.

Namun yang jelas, di dalam rumah tangga kerajaan Singasari telah muncul kisah Putri China. Bahkan hingga episode Demak juga ada hubungan darah (kerabat) dengan Putri Campa—pendirinya merupakan putra dari pasangan Brawijaya dengan Campa.

Apa yang bisa kita temukan dari kisah di atas?

Kehadiran budaya dan konsep pegetahuan China di dalam masyarakat kita begitu terasa. China (Campa) digambarkan hadir di tengah keluarga kerajaan, bahkan kelak melahirkan generasi baru dalam proses pergantian pusat kekuasaan Jawa.

Iya, ibu sultan Demak adalah seorang muslim yang berasal dari negeri Campa, China. Putri Campa-lah yang melahirkan generasi Raja-raja Islam di Jawa.

Apakah ini fakta, atau sebenarnya simbol yang lebih menekankan adanya pengaruh dan saling terkait antara bangsa-bangsa di Nusantara dengan masyarakat di daratan China? Semua menjadi menarik untuk kita renungkan.

baca juga : Sajadah dalam perut ikan : hikmah dari Kisah Nabi Yunus

Namun, membicarakan Nusantara akan selalu menyebut kata China, atau Campa.

Bila kita melihat catatan sejarah tentang migrasi orang-orang dari daratan China (khususnya dari pegunungan Yunan) ke wilayah Nusantara berlangsung sejak 1500 dan 2500 SM. Pada awal tahun Masehi peradaban Campa dan Nusantara sudah saling memberi warna-pengaruh, terutama di sistem perpolitikan (Hussin, 2004).

Riset lain menemukan, proses akulturasi dan hibridisasi kebudayaan Nusantara dan China dipicu oleh migrasi bangsa China ke kepulauan Nusantara yang berulang-ulang sejak abad ke-2 M. Proses ini berpengaruh pada dunia perdagangan, konsep hunian, gaya arsitektur, pertanian, dan di sisi lain menguatkan pengaruh China dalam kehidupan masyarakat Nusantara (Kartakusuma, 2016).

Tahun 1292 M Marco Polo melakukan perjalanan laut dari China menuju Italia, dan singgah di Kota Perlak, Aceh. Di kota itu, Marco Polo menjumpai orang-orang China sebagai penduduk Perlak dan sudah memeluk Islam, selain juga ada orang-orang Persia Muslim (Agus Sunyoto, 2017; Latham, 1958; Kozok, 2015).

Seratus tahun setelah kedatangan Marco Polo, Cheng Ho berkunjung ke Pulau Jawa (1405), dan menjumpai tidak kurang dari 3000 keluarga beretnis China-Muslim telah menetap di Tuban, Gresik dan Surabaya (Agus Sunyoto, 2017).

Terkait teori masuknya Islam di Nusantara, terdapat laporan penelitian, masuknya Islam di Indonesia berasal dari China (Al Qurtuby, 2003)—selain juga ada teori lain yang mengatakan bahwa Islam di Indonesia berasal dari India, dan Timur Tengah (Azra, 2004).

Dengan demikian, komunitas China-Muslim telah memberikan kontribusi penting atas berkembangnya Islam di Nusantara, khususnya Jawa. Eksistensi China-Muslim pada awal perkembangan Islam di Jawa tidak hanya ditunjukkan oleh kesaksian para pelancong asing, sumber-sumber China, teks lokal Jawa, maupun tradisi lisan, tetapi juga didukung oleh peninggalan purbakala di Pulau Jawa (Al Qurtuby, 2003).

Selain disandingkan dengan nama seorang putri kerajaan, dalam konsep pengetahuan kuno, kata China juga muncul pada statement filosofis Jawa (unen-unen) yang mashur. Di sana terdapat ungkapan: “…kelak akan ada satu masa (bakal ono suwijining dino); bangsa Jawa hanya tersisa separuh (wong Jowo gari separo); bangsa China tersisa satu jodoh (wong Chino gari sak jodo).

Adakah semua itu menandakan eratnya hubungan kebudayaan (konsep pengetahuan) di Nusantara dan China? Semua menjadi menarik untuk kita renungkan. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.