iT’s me – Beberapa waktu lalu seorang teman menghubungiku via chat di media sosial whatsapp, dia ingin bertemu untuk berbagi karena sedang mengalami masalah rumah tangga dengan istrinya. Kebetulan hari itu aku punya cukup waktu luang sehingga kami membuat janji untuk bertemu di kedai kopi favoritku.

Saat kami bertemu, dia pun bercerita betapa dia sangat kecewa dengan istrinya karena merasa istrinya begitu mengekang dirinya, tidak memahaminya sedikitpun dan sangat cemburu terhadapnya. Misalnya Istrinya tidak senang dia menghabiskan waktu di tempat fitnes dan nongkrong bersama teman-temannya di tempat kopi. Singkatnya dia merasa tidak bahagia lagi dengan pernikahannya saat ini dan sering ada pertengkaran dirumahnya.

Sebagai teman, aku mendengar curhatannya dengan begitu seksama sambil sesekali menyeruput kopi Americano favoritku. Aku memberi ruang seluas mungkin baginya mengeluarkan semua keluh kesahnya tanpa berusaha menyelanya. Namun tiba-tiba aku tersentak dan hampir tersedak kopi yang baru saja aku teguk lantaran kalimat yang dilontarkannya “… Jika begini terus lebih baik saya ceraikan saja dia, lebih baik hidup seorang diri seperti dirimu saat ini…”!!

Hooohhoo, aku kira ini kesempatanku untuk menyelanya dan giliranku untuk berbicara. Aku menatapnya dengan tatapan serius dan berkata “ Oke, sebelum kamu lanjut dengan ucapanmu, biarkan aku beritahu kamu beberapa hal mengenai keadaanku saat ini. Aku ingin memberimu sedikit gambaran daftar sederhana mengenai keseharianku”

Inilah kondisi real keseharianku sejak kepergian almarhumah istriku, yang mungkin tidak seorangpun dari teman-temanku mengetahuinya. Setiap pagi aku bangun jam 04:00 subuh mempersiapkan diri dan segala sesuatu keperluan anak-anakku ke sekolah. Jam 04:30 aku bangunkan anak-anak untuk mandi, sarapan dan bersiap-siap ke sekolah. Aku kadang harus mandikan anak  yang bungsu, menyisir rambut dan mendandaninya. Jam 06:00 aku harus mengantarkan mereka ke sekolah. Disela pekerjaan dan kesibukanku, Aku usahakan selalu ada dirumah menyambut mereka pulang sekolah jam 05:00 sore. Mengecek buku tugas dan mendampingi mereka untuk memastikan semua PR telah dikerjakan. Aku harus memastikan anak-anak sudah tidur pukul 21:00

Dan ini bagian yang paling dramatisnya, saat aku masuk ke kamar untuk bersiap tidur, aku hanya melihat bantal dan guling. Aku kira kamu mengerti apa yang aku maksudkan. Saat weekend, aku harus menemani anak-anak, entah itu bermain, berenang, nonton atau memasak dirumah untuk mereka. Belum lagi kulkas yang mulai kosong yang butuh segera diisi kembali dengan daftar belanjaan yang panjang.

Sampai disitu, aku berhenti dan bertanya kepada temanku, “Itu daftar keseharianku, bagaimana dengan dirimu? Siapa yang lakukan semua itu dalam rumah tanggamu?”.  Temanku hanya menatapku sambil diam seribu bahasa. Aku pun melanjutkan perkataanku. “Dengarkan baik-baik sahabatku. Hentikan omong kosongmu. Kamu masih punya seorang istri yang begitu cantik, yang begitu perhatian padamu bahkan mungkin sedikit berlebih saat ini. Setiap pagi kamu bangun, dia sudah menyiapkan segala sesuatunya untukmu, kamu tinggal menikmatinya. Dia mengurus anak-anakmu, dia memasak untukmu dan anak-anakmu.

Dia mengurus kulkas yang sudah kosong, dia mengurus pakaian olahragamu yang penuh dengan bau keringat. Dia habiskan waktunya menjemput dan menemani anak-anakmu dari sekolah, mengantarkan mereka ke tempat les serta membantu mengerjakan PR mereka, sementara kamu sedang berasyik ria nongkrong bersama teman-temanmu di kedai kopi. Saat malam kamu pulang, kamu tinggal makan karena semua sudah tersaji di meja makan. Dan saat kamu masuk ke kamar, dia sudah menanti dan siap melayanimu disana”.



Mr Ben

Mr Ben

Pekerja Sosial dan Pegiat Media
Kepala Divisi Media Yayasan Hidayah Bangsa
Direktur Utama Fokus Media Group
(PT Internasional Fokus Media, PT Radio Fokus Media Lombok, PT Radio Fokus Media Gorontalo) Komisaris PT Radio Swara panua
Mr Ben