Featured, Its My Life

Politisasi Logika di Media Sosial

oleh Ali Romdoni

19 November 2018

Seorang pegiat media sosial (medsos) mengunggah tulisan di akun pribadinya, menyalahkan para penumpang pesawat yang naas. Alasannya, menumpang pesawat tidak pernah dicontohkan oleh para Nabi di zaman dulu. Akun lainnya mengejek (memandang sinis) kebiasaan para santri yang gemar mencium tangan sang kiai, dinilainya sebagai tindakan bodoh. Dan, masih ada banyak lagi ‘celotehan’ (tulisan singkat) yang menggunakan alur berfikir serupa.

Apa yang pembaca pikirkan ketika menjumpai logika berfikir yang demikian?

Sepintas, cara berfikir yang demikian terkesan lumrah. Apalagi ditulis di akun pribadi. Tetapi hal itu kemudian terasa mengganggu, karena isinya menyalahkan (merendahkan) orang lain.

Trend saling-menghujat di medsos kemudian melahirkan polarisasi kelompok yang saling berhadapan, yaitu mereka yang suka dan yang benci (sinis, menghina, merendahkan), dan selanjutnya menjadi semacam kekuatan untuk menjatuhkan pihak lain. Hingga di sini, kita harus mulai waspada.

baca juga : Tatacara berpendapat di media sosial

Hal yang menjadi keprihatinan saya, kenapa tradisi berlogika kita mundur jauh ke belakang? Dalam melihat teknologi transportasi udara (pesawat terbang), misalnya. Bukankah hari ini transportasi udara sudah tidak menjadi barang aneh? Mengapa tiba-tiba kita menghubungkannya dengan kehidupan di masa para Nabi?

Kemudian mengenai tradisi para santri mencium tangan para guru dan kiainya, bukankah di dalam keluarga kita juga dikenalkan dengan kebiasaan mencium tangan orang tua? Sebelum keluar rumah, misalnya, kita dididik untuk berpamitan, mencium tangan ayah atau ibu. Pendidikan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan ikatan emosional, antara anak dan orang tua. Di lingkungan pesantren, peran orang tua dijalankan oleh para pengasuh, atau guru kelas.

Bila demikian, sinis mempersoalkan mencium tangan orang yang lebih tua adalah pekerjaan pembual, atau sengaja dilakukan untuk memancing kemarahan satu kelompok. Anehnya, cara berfikir (maaf) sampah ini telah mengundang follower (pengikut) dengan jumlah besar. Ini menjadi kegelisahan tersendiri.

Kesan yang timbul kemudian, masyarakat kita telah mengesampingkan nalar sehat (perenungan) dalam berpendapat. Lontaran gagasan di media massa telah mengabaikan aspek kepantasan, terlepas dari ada atau tidaknya unsur kesengajaan.

Menurut hemat saya, kondisi yang demikian ini bisa terjadi berawal dari kecenderungan masyarakat yang malas membaca latar belakang satu tradisi yang tumbuh subur di tengah masyarakat.

Sebagai generasi yang akan mewarisi keberlangsungan tatanan sosial di masyarakat, sangat perlu bagi kita untuk mau membaca asal-usul pengetahuan yang ada di sekitar. Misalnya, bagaimana Indonesia dibangun oleh para pendiri bangsa ini, dan bagaimana ke depan kita akan menjaganya.

Kita tidak bisa serta-merta mengingkari kronologi dan sejarah lahirnya bangsa Indonesia. Bila kita melihat ke belakang, di sana ada banyak pihak yang terlibat dalam membangun Indonesia, sehingga hari ini kita bisa menikmati keleluasaan hidup di negeri sendiri.

Jadi, sangat naif (tidak masuk akal; konyol) bila kita memaksakan Indonesia menjadi seperti ‘orang lain’, dan anti dengan pengetahuan (kebudayaan) di negeri sendiri. Apalagi berusaha menghasut orang lain untuk membenci saudara sebangsa dan setanah-air. Sikap yang demikian akan menimbulkan kegaduhan dan kegelisahan di masyarakat.

Kegaduhan juga bisa timbul karena kita tidak cermat dalam membaca audiens di depan kita. Kalau kita memiliki tujuan berbagi pengetahuan (pendapat), maka pastikan hal itu untuk tujuan berbagi kebaikan. Di sini kita harus berhitung, apa dampak dari statement yang kita lontarkan ke publik.

Ada baiknya kita merenungi sebuah pesan moral, “…janganlah kita menjadi orang yang lengah, yaitu orang yang enggan menggunakan nalar sehat sebelum berbuat…”.

Benteng pertahanan terakhir ada pada diri kita, kedewasaan berfikir masyarakat. Dalam konteks ini, masyarakat harus memiliki sistem kekebalan (imun) untuk ‘mengalahkan’ logika dangkal yang beredar, atau sengaja diedarkan oleh pihak tertentu melalui media masa. Bila tidak, maka pelan-pelan bangsa kita bertarung sendiri, dan akhirnya rapuh. Bukan karena digilas oleh orang lain dari luar, melainkan oleh anak-anaknya sendiri yang belum bisa berfikir ke depan, bagaimana menjaga Indonesia yang di dalamnya tersimpan jutaan keragaman.

Sebagai generasi muda, kita bisa menggunakan sebagain dari waktu dan energy kita untuk mencari formula dalam merawat keragaman yang kita miliki. Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Ali Romdhoni MA

Lecturer at The Islamic Studies Faculty of

Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia

Ali Romdoni

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.