Its NOT Me

Politik Saling serang, siapa menang dan siapa kalah?

oleh DerielHD

21 November 2018

Sekali lagi, penulis sebenarnya malas menulis politik apalagi mengenai politik. Semua sudah memuakkan, bagaikan makan bubur tiga kali sehari selama satu tahun penuh. Bosan, jenuh, dan memuakkan. Membayangkan saja membuat saya mual. Apalagi melihat para elite politik yang mulutnya sampai mengeluarkan busa membicarakan keberhasilan dan keburukan pemerintah tapi hati dan pikirannya membayangkan hal yang lebih ‘hot’.

Bagi saya, lebih menyenangkan rasanya duduk sambil makan klapertart buatan istri sambil nonton pertandingan Timnas Indonesia yang berlaga di ajang Piala AFF 2018, ya meskipun menyaksikan mereka sudah tidak segreget dulu ketika kaka Boas masih muda dan enerjik. Tapi itu lebih baik, bagi saya.

baca juga : Busuknya politik dan oknum di dalamnya

Akan tetapi ya sobat, saya rasa perlu bagi kita semua untuk sedikit membahas mengenai ajang pertarungan politik di negeri ini. Ya, bagi saya, penulis, politik di negeri ini bukan hanya sekedar persaingan untuk mendapatkan jabatan atau kedudukan atau apalah namanya itu. Politik di negeri ini sudah menjadi ajang ‘tarung bebas’ antara para elite yang terlibat didalamnya.

Lha jika bicara mengenai pertarungan pastilah ada dua pihak yang berlawanan dan pastinya, akibat dari pertarungan kedua kubu ini, ada juga pihak yang menjadi korbannya. Katakanlah kedua pihak yang bertarung adalah mereka yang haus akan kedudukan dan kekuasaan, apakah salah satu dari anatara mereka yang kalah bisa dikatakan sebagai korbannya? Saya rasa tidak bisa karena bagi saya, penulis, korban yang sebenarnya adalah masyarakat yang tidak tahu menahu akan pokok permasalahannya dan tanpa sadar sedang dibodoh-bodohi oleh mereka yang punya kepentingan.

Sadar atau tidak, perebutan kekuasaan hanya akan berujung pada jatuhnya korban dan sakit hati yang berkepanjangan. Sama dengan menyaksikan film Tersanjung yang gak slesai-slesai meskipun alur ceritanya membosankan dan sama sekali tidak memberikan manfaat. Atau film seri india yang menghantui dunia penyiaran Indonesia dari pagi hingga pagi lagi.

baca juga : Agama dan politik pasca pilkada jakarta

Perasaan muak itu sudah ada, dan akan semakin menumpuk jika para elite politik tidak menghentikan sikap ‘sok pintar’ mereka dan mulai memberikan didikan yang benar mengenai cara berpolitik, terutama kepada kami kaum Xenials dan Milenials. Jangan sok sibuk sendiri dengan dalih mengunjungi seluruh pasar di seluruh Indonesia untuk membandingkan harga bahan pokok dan bilang tempe sudah setipis kartu ATM, 100 ribu dapat apa, atau uang 50 ribu sudah gak dapat apa-apa. Atau sibuk bertahan dengan data-data yang sebenarnya tidak bisa masuk ke otak mmasyarakat pemilih kelas menengah kebawah yang bahkan untuk membeli paket data saja mereka masih nitip ke anaknya yang suka mark up anggaran pulsa orang tua.

Benar memang jika politik itu busuk, dan bau busuk itu akan menempel di baju mewah para elite yang terlibat didalamnya, dan baunya itu juga gak akan hilang meskipun sudah dicuci dengan deterjen paling mahal yang ada dimuka bumi ini atau dengan deterjen yang punya teknologi ngucek sendiri.

Intinya adalah, siapapun kalian yang sedang bertarung memperebutkan kekuasaan negeri ini, berhentilah melibatkan kami dalam segala macam urusan dan tetek-bengek politik kotor yang sedang kalian mainkan. Kalau mau bertarung, bertarunglah secara adil, berikan data-data yang benar dari sumber terpercaya, berikan dan paparkan program apa yang menjadi landasan kalian untuk menarik minat kami supaya memilih kalian. Buktikan kepada kami bahwa kalian memang layak untuk dipilih dan memegang kendali penuh atas seluruh Bangsa Indonesia.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis