Featured, Its My Faith

Pesantren dan Kritik atas Tradisi Pendidikan Kita

oleh Ali Romdhoni, MA

24 October 2018

Refleksi Hari Santri Nasional 2018

Rumah kami dan gotakan (bilik) pesantren hanya berjarak kurang lebih sembilan meter. Dari beranda rumah, saya bisa melihat kegiatan keseharian para santri, dan hal-hal yang berhubungan dengan pesantren yang diasuh oleh seorang kerabat dekat di kampung halaman.

Saat itu, pada pertengahan tahun 1980-an, terminologi santri belum dibicarkan oleh masyarakat di media sosial (medsos), seperti sekarang ini. Meskipun bagi kalangan masyarakat bawah, seperti keluarga saya, pesantren adalah satu-satunya konsep yang tergambar di pikiran ketika akan memberikan pendidikan lanjutan bagi anak-anaknya.

Sebagai bocah yang belum genap berumur enam tahun, kala itu saya belum mengerti identitas lingkungan di sekitar. Namun karena tinggal berdekatan dan beberapa kali dalam sehari melakukan kegiatan bersama, saya bisa menyaksikan para santri yang bangun pagi-pagi, shalat berjama’ah, mengaji al-Qur’an dan kitab kuning, berdiskusi kelompok, hingga memasak nasi dengan sambal atau lalapan seadanya.

baca juga : Gus Mus dan Nasihat di Tahun Politik

Pemandangan yang demikian begitu membekas dalam memori pikiran saya, hingga hari ini.

Ada juga seorang santri yang memilih tetap terjaga hingga larut malam untuk mempelajari kitab. Setelah merebahkan badan beberapa saat, kemudian bangun lagi menjelang shalat subuh untuk lebih dulu mengisi air di kulah (semacam bak mandi) berukuran tiga kali lima meter yang akan digunakan para santri lain berwudhu dan memenuhi berbagai kebutuhan lain.

Sesekali bapak saya bercerita perihal faedah santri yang terjaga di malam hari, dan hubungannya dengan ketajaman nalar dalam mencerna pelajaran. Juga mengenai keberkahan kesederhanaan hidup seorang santri. “…Yang demikian itu akan mempengaruhi keberhasilan seorang santri kelak, ketika sudah pulang ke rumah…,” kata bapak.

Sampai akhirnya, saya dikirim oleh orang tua untuk belajar di pondok pesantren Al-Ma’ruf dan Madrasah Manba’ul Ulum Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah.

Di pesantren baru ini saya segera bisa beradaptasi, baik dalam bersosialisasi dengan sesama santri maupun terkait dengan regulasi keseharian di pesantren. Hal yang perlu saya perhatikan adalah kurikulum dan standar yang harus dicapai oleh peserta didik.

Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat Tsanawiyah dan Aliyah, saya minta nasehat kepada pengasuh pesantren untuk memperkaya kajian ilmu-ilmu keagamaan yang sudah saya peroleh. Saya akhirnya diarahkan ke pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Berbekal restu orang tua, saya bisa merasakan pendidikan di pesantren untuk ke sekian kalinya.

Di pesantren ini, melalui seorang teman se-bilik saya mengetahui buku-buku yang mendeskripsikan dunia pesantren secara kritis. Saya ingat, saat itu saya membaca buku Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat (1999) dan buku NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru (1994)—keduanya tulisan Martin Van Bruinessen. Saya juga mengetahui, beberapa santri senior di pesantren Al-Anwar telah memiliki kebiasaan menulis artikel di koran dan menerbitkan tulisan keislaman di jurnal ilmiah.

Dari sini saya kemudian termotivasi untuk kuliah di perguruan tinggi agama Islam. Saya masuk di Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (sekarang menjadi Universitas Islam Negeri) Walisongo Semarang. Di lingkungan kampus saya menemukan lebih banyak lagi hasil penelitian tentang dunia pesantren, selain juga artikel pendek dan tulisan di jurnal ilmiah. Pelan-pelan saya semakin mengerti, bahwa dunia pesantren telah menarik perhatian para sarjana dari berbagai penjuru.

baca juga : Gaya komunikasi presiden dan kembalinya sejarah santri

Oleh para cendekiawan kita, pesantren juga dikaji di lingkungan akademik dan diwacanakan ke publik secara luas, misalnya oleh Abdurrahman Wahid, Nurcholis Madjid, Zamakhsyari Dhofier dan intelektual lainnya. Iya, pesantren menjadi subjek penelitian dan dikaji dari berbagai sudut pandang. Pesantren telah lazim menjadi tema diskusi di ruang kuliah hingga seminar.

Hari ini, dengan kemudahan teknologi medsos, pesantren dan kaum santri juga memenuhi pemberitaan, diskusi hingga sekedar saling lempar komentar di akun pribadi seseorang. Terminologi santri dan pesantren secara dinamis dipakai di ruang lingkup yang lebih luas. Kata santri tidak hanya disematkan kepada mereka yang belajar di pesantren bertahun-tahun. Santri juga digunakan oleh simpatisan atau masyarakat yang mengagumi atau bergaul dengan lingkungan pesantren.

Begitu juga dengan kata pesantren telah disandingkan dengan dunia yang selama ini tidak berhubungan dengan pesantren pada konsep awalnya. Munculah nama pesantren wirausaha, pesantren bisnis, hingga pesantren virtual. Inilah laju perkembangan waktu. Tidak ada yang bisa mencegah atau mendorong ke belakang keadaan ini.

Ada yang terlewatkan di sini, bahwa pesantren dan proses melahirkan seorang santri memiliki tahapan yang tidak bisa ditawar, atau sekedar dipadatkan sekalipun. Di satu sisi, terminologi pesantren yang digunakan secara longgar menunjukkan lembaga ini semakin diminati oleh masyarakat. Tetapi di sisi lain, ketika orang mulai beramai-ramai merayakan popularitas pesantren justru pesantren (dalam konsep awal) mulai ditinggalkan. Pesantren semakin jauh dari tradisi pesantren.

Bila hari ini pesantren diterima kalangan luas, itu tidak lain karena proses di dalamnya sudah terbukti melahirkan para santri handal. Bila proses itu ditinggalkan, mungkinkah hasilnya akan tetap sama?

Keberhasilan pesantren dalam mendidik para santri tidak lepas dari keteladanan dan konsistensi sang kiai dalam merawat santri. Sikap disiplin dalam melaksanakan sisitem pendidikan, serta orientasi civitas akademika di dalamnya juga menjadi faktor penentu.

Saya kemudian ingat nasehat seorang kiai sepuh, kenapa pesantren bisa menjadi rebutan generasi penerusnya. Ketahuilah, yang diperebutkan itu bukan pesantren, tetapi benda yang bersifat material. Pesantren sejatinya bukan itu, tetapi kesediaan seorang alim (berilmu) untuk mendidik santri, serta kepercayaan masyarakat untuk menyerahkan anaka-anak mereka agar diberi pendidikan. Dua hal ini tidak bisa diwariskan, atau diwarisi, tetapi harus dibangun oleh setiap dari mereka yang ingin mendarmakan hidup pada santri melalui pesantren.

Wallahu a’lam bis-shawab.

 

 

Ali Romdhoni MA
Lecturer at The Islamic Studies Faculty of
Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.