Its My Life

Perempuan Berpakaian Tertutup Itu Memaksa Tak Tersentuh

oleh arpan

8 December 2018

Ini adalah kejadian nyata. Tulisan ini tidak bermaksud menodai perasaan perempuan-perempuan muslimah berpakaian tertutup, saya pribadi tidak pernah persoalkan hal tersebut. Bagi saya hak siapa saja mau berpakaian seperti apa, kenyamanan perempuan dalam berpakaian pasti berbeda-beda. Cerita ini di awali ketika saya dan dua teman saya ( iman  sabri ) dalam perjalanan menuju gorontalo, setelah beberapa hari kami sibuk memberikan bantuan di kulawi kabupaten sigi Sulawesi tengah. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Bis yang kami tumpangi berhenti di Rumah Makan. Berhubung saya sangat lapar, saya dan dua teman bersiap turun melalui pintu belakang.

Bagi kalian yang  sering berpergian dengan bis antar kota, yang bentuknya agak panjang dan lebar, tentu tahu kalau barisan kursi sebelah kiri dan kanan memiliki jarak cukup luas dan saat kita ingin keluar maka kita berjalan di tenga-tengah yang notabene jalur keluar masuk penumpang bis. Kebetulan di kursi ketiga dari belakang sebelah kanan ada perempuan dengan busana tertutup (Syar’i) duduk di pinggir. Saya dan dua teman saya bersiap  keluar melalui pintu belakang, tampa sengaja saya melihat perempuan itu dengan ekspresi serius menghindarkan pakaiannya yang menutup dirinya agar tidak tersentuh laki-laki dengan  ekspresinya yang menurut saya berlebihan, seolah-olah merasa kalau mereka yang melewatinya akan menyentuh dia dan pakaiannya.

Jarak antara kursi kiri dan kanan jauh, bahkan berjalan di tengah-tengah pun belum tentu tersentuh. Melihat itu saya geleng-geleng kepala, bukan karena pakaiannya atau karena karena hanya matanya yang terlihat. Tetapi cara yang merut saya kurang peka kepada sesama, semoga saja itu hanya pikiran saya. Bapak-bapak yang duduk paling belakang pun senyum sambil geleng-geleng kepala melihat cara perempuan itu melihat kami yang ingin melewatinya. Tiba giliran saya melewati perempuan itu, saya mulai sedikit improfisasi. Dengan bercanda saya berjalan perlahan dan berhati-hati  mepet ke kiri, supaya bayangan saya tidak menyentuh pakaian perempuan itu. Melihat tingkah saya, entah apa yang ada dipikirannya.

Dari kejadian ini saya berpikir bahwa bukan soal  pakaian, tapi cara meyikapi dan kepekaan kepada sesama manusia bahkan kepada lawan jenis. Karena zaman sekarang, saya bahkan orang-orang sudah harus menerima penampampilan manusia lainnya, seperti apapun itu,  khususnya perempuan. Terkadang pemicu suudzon bukan karena apa yang kita pakai, tetapi bagaimana kita bersikap kepada sesama manusia dalam memposisikan apa yang menurut kita harus dan tidak seharunya. Sekali lagi saya tekankan bahwa saya tidak memiliki maksud negative, saya berharap ada pelajaran yang bisa di petik. Ingat! Kita makhluk sosial. Dari kejadian nyata ini, kesimpulan saya bahwa mungkin perempuan itu sedang terbawa suasana dan larut  pada pahamnya. Tidak semua permempuan berpakaian tertutup seperti kisah ini, mungkin kebetulan saja saya menemukan yang sedikit lain dari yang lainnya. Dan pasti perempuan dengan pakain terbuka pun memiliki kisahnya sendiri. Salut untuk perempuan-perempuan yang tetap istiqamah hijrahnya, secara berpakaian!

arpan