iT’s Me – Setiap pemimpin mengalami masa-masa keterasingan, kesepian, bahkan kepedihan penjara. Setidaknya penjara kegelisahan dalam memikirkan rakyat. Maka, bukan seorang pemimpin kalau jiwa dan fikirannya bebas merayakan gegap gempita dunia raya.

Pemimpin pada setiap zamannya adalah pribadi yang gelisah, jiwa yang prihatin. Gelisah karena menanti datangnya masa kemakmuran dan keadilan. Ketidak-adilan yang nyata terlihat di masyarakat adalah penjara bagi seorang pemimpin. Dalam konteks ini, sumber energi yang menguatkan untuk terus memperjuangkan hak rakyat kecil adalah kondisi “terpenjara”. Baik penjara secara konotasi maupun dalam pengertian yang sebenarnya.

Bacalah sejarah para pemimpin besar di dunia, baik dalam latar sejarah sosial maupun spiritual. Seorang utusan Tuhan (nabi), pimpinan pergerakan melawan penjajahan hingga para filsuf, misalnya, adalah jiwa-jiwa yang terpenjara oleh kezaliman yang menimpa umat di sekitarnya. Penjara dalam pengertian inilah yang membuat mereka semua terpanggil untuk turun gunung, mendidik masyarakat.

Presiden Soekarno (1901-1970), misalnya, pada masa hidupnya pernah diasingkan belasan kali di beberapa tempat yang berbeda. Mulai dari Bandung (1929-1931), Flores (1934 -1938), Bengkulu (1938-1942), Padang (1942), hingga Bangka Belitung (1948-1949).

Pada masa penjajahan, tidak hanya Bung Karno yang merasakan ganasnya penjara-pengasingan. Mereka antara lain Pangeran Diponegoro (1785-1855), Cut Nyak Dhien (1848-1908), KH Hasyim Asy’ari (1875-1947), Mohammad Hatta (1902-1980) dan masih banyak lagi. Kesimpulannya, hampir semua para pemimpin rakyat Indonesia yang berani membela rakyat dan melawan penjajahan pernah dipenjarakan, atau setidaknya diburu para penjajah untuk dipenjarakan.

Di belahan dunia lain, pada tahun 1964 Nelson Mandela (1918-2013) dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pemerintah Afrika Selatan. Mandela dianggap membahayakan rezim yang berkuasa, karena gigih berjuang untuk kesetaraan hak asasi manusia dalam berpolitik di negeri itu.

Di India, ada Mahatma Gandhi (1869-1948). Gandhi muda pernah mengalami diskriminasi ras. Kondisi ini membuatnya memutuskan untuk menjadi seorang aktivis politik. Dia bertekad ingin mengubah hukum-hukum yang diskriminatif, memperjuangkan nilai kemanusiaan dan perdamaian.

Perjuangan nyata Gandhi kemudian menginspirasi warga India dan masyarakat dunia untuk berjuang terlepas dari penjajahan dengan cara-cara damai. Sayang, tokoh ini meninggal karena dibunuh oleh orang yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang diperjuangkannya.

Apa hubungan penjara dengan para pemimpin besar di dunia. Lalu bagaimana penjara tidak membuatnya berakhir, tapi justru semakin besar dan dicintai rakyatnya. Saya juga akan menghubungkan hal ini dengan kondisi di tengah masyarakat Indonesia saat ini.

Saya menandai, kebesaran seorang tokoh berawal dari visi dan keberpihakannya kepada rakyat kecil. Di sini, dalam jiwa seorang calon pemimpin bersemayam keprihatinan. Di sisi lain, penjara identik dengan hukuman dan siksaan. Di dalam penjara, seorang tahanan dipaksa prihatin untuk menyesali kesalahan.

Terlepas dari pihak siapa yang sejatinya benar dan salah, ada orang-orang yang berhasil menjadikan masa-masa dalam penjara sebagai proses paling penting, yang menentukan “hidupnya” di kemudian hari. Mandela, misalnya, setelah 27 tahun terkurung di bui, pada tahun 1994 terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan. Dia dicintai oleh rakyatnya hingga meninggal.

Demikian pula Benazir Bhutto, perempuan pertama yang terpilih secara demokratis menjadi Perdana Menteri Pakistan. Pada tahun 1977 dia dijebloskan ke penjara sesaat setelah sang ayah, Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto (1928-1979), dikudeta oleh lawan politiknya, Jenderal Ziaul Haq (1924-1988). Hidup dalam penjara membuat rakyat semakin simpatik kepada Bhutto. Pada 1993 ia terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia
Mahasiswa S3 Heilongjiang University, China
Penulis buku antara lain: 9 Sumber Kecerdasan dan Kebijaksanaan (Jakarta: Penerbit Baca, 2016); Al-Qur’an dan Literasi: Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman (Jakarta: Linus, 2012).
Ali Romdhoni