Its NOT Me

PB djarum mundur, Pupus sudah mimpi anak Indonesia

oleh DerielHD

11 September 2019

Faktanya, PB Djarum sebagai salah satu klub Badminton di Indonesia dibawah naungan Djarum Foundation, telah banyak berjasa bagi dunia bulutangkis Indonesia dengan banyak menyumbang atlit-atlit badminton yang berhasil mengharumkan nama bangsa dengan memberikan medali-medali emas dalam hampir semua cabang yang dipertandingkan.

Misalnya seperti legenda hidup bulutangkis Indonesia seperti Alan Budikusuma, Antonius Budi Ariantho, Ardhi B. Wiranatha, Budi Santoso, Luluk Hardianto, Lim Swie King atau yang lebih dikenal sebagai The King. Kemudian di sector perempuan ada Minarti Timur, Ivana Lie, dan masih banyak lagi, yang mereka semuanya pernah mengharumkan nama Indonesia dengan menjadi juara di kejuaraan Indonesia Open, Thomas cup, hingga meraih medali emas olimpiade yang berlangsung di Barcelona.

Lantas ada apa sehingga PB Djarum “harus” menghentikan Audisi Umum yang memperebutkan Beasiswa yang sudah berjalan sekian puluh tahun lamanya itu?

KPAI, adalah pihak dibalik mundurnya PB Djarum dalam kompetisi penyaringan atlit-atlit muda berbakat untuk menjadi bibit pahlawan olahraga Indonesia. KPAI menuding pihak PB Djarum sebagai pihak sponsos telah mengeksploitasi anak-anak dengan dalih olahraga demi promosi gratis dan mendapatkan keuntungan secara ekonomi. Apa iya?

Jika dibandingkan dengan kinerja KPAI yan hingga saat ini sepertinya tidak kelihatan dan cenderung tutup mata terhadap tindak eksploitasi anak yang bernuansa negatif seperti anak-anak yang dilibatkan dalam demo, kampanye politik, hingga doktrin-doktrin kekerasan yang selama ini terjadi, kemudian kita bandingkan dengan apa yang dilakukan oleh PB Djarum selama ini, ada sebuah perbedaan yang sangat kontras yang terlihat, sehingga bisa kita simpulkan bahwa sepertinya memang ada sesuatu hal yang lain yang kemudian menjadi alasan konflik kedua kubu ini.

KPAI sebagai pihak yang melindungi hak-hak anak Indonesia melarang PB Djarum sebagai pihak penyelenggara kompetisi pencarian bakat badminton untuk menggunakan segala atribut produk terutama produk tembakau, berdasarkan regulasi yang ada. Sementara pihak PB Djarum sebagai klub badminton penyelenggara merasa wajar jika nama mereka dipajang dan digunakan oleh setiap anak yang ikut bertanding. Siapa yang salah atau yang benar? Semoga ada solusi terbaik untuk ini.

Seharusnya ya, kedua pihak ini bisa menemukan jalan tengah untuk permasalahan ini. Apapun ceritanya, kedua belah pihak ini merupakan gerbang menuju masa depan anak Indonesia yang lebih baik. Kecuali jika ada pihak lain yang tidak senang dengan kehadiran PB Djarum yang kemudian membuat KPAI akhirnya harus banting setir dan dengan segala cara berusaha untuk menghentikan audisi pencarian bakat yang selama ini sudah sangat berjasa melahirkan atlit-atlit bulutangkis yang mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Jadi apakah dengan mundurnya PB Djarum sebagai penyelenggara audisi pencariab bakat bulutangkis ini akhirnya memupuskan mimpi anak-anak Indonesia untuk menjadi atlit kelas dunia? semoga saja enggak ya, sobat.. dan Semoga saja pemerintah, dalam hal ini kemendpora ataupun koni, bisa menjadi penengah untuk ikut menyelesaikan permasalahan ini, untuk Indonesia yang lebih baik.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis