iT’s Me- Syair “Tombo Ati (Obat Hati)” sangat populer di kalangan masyarakat santri Jawa. Terutama di desa-desa yang berada wilayah pesisir utara, seperti Pati, Kudus, Rembang, Demak (Jawa Tengah), hingga Tuban, Lamongan, dan Gresik (Jawa Timur), masyarakatnya mengenal dengan baik tembang yang konon dicipta oleh Kanjeng Sunan Kalijaga itu.

Di kampung saya, misalnya, “Tombo Ati” lazimnya dilantunkan oleh anak-anak maupun orang tua melalui corong pengeras suara di mushala atau masjid, sesaat sebelum shalat berjamaah didirikan.

Namun semenjak budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dengan diiringi grup musik gamelan Kiai Kanjeng menyanyikan “Tombo Ati” (1996-an), lagu itu tidak hanya berkumandang di acara pengajian. Tidak pula hanya terdengar dari suara anak-anak desa.

Melalui suara khas Cak Nun, tembang berbahasa Jawa itu juga terdengar dari dalam mobil, muncul di televisi, dan disiarkan radio. Bahkan rekaman lagu dalam bentuk kaset dan kepingan video compact disc (VCD) tersedia di pusat-pusat perbelanjaan.

Iya, Cak Nun berhasil membuka mata publik, bahwa di dalam masyarakat kita terdapat pengetahuan, seni dan budaya yang lebih bernilai dari emas dan permata. Sayangnya, di antara kita tidak mau mengerti, atau abai terhadap warisan (peninggalan) para pendahulu.

Sebelumnya, siapa yang peduli atau mengira lagu “Tombo Ati” bisa dilantunkan dengan khidmat, membuat siapa pun yang mendengarnya menarik nafas dalam. Tetapi Emha berhasil membuktikan kekuatan syair karya pujangga bumi Nusantara.

Cara Cak Nun membawakan lagu “Tombo Ati” seperti mengandung daya magis. Kekuatan lirik-lagunya mampu menembus batas-batas strata sosial. Abang becak, sopir, buruh, politisi, pejabat, mahasiswa hingga cendekiawan, semuanya memejamkan mata, bahkan merinding begitu mendengar alunan lagu sarat makna itu.

Tahun 1996 itu saya masih menjadi siswa Madrasah Aliyah Manba’ul Ulum dan bersamaan itu belajar di Pondok Pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah. Di pesantren, saya mendengar nama besar Ainun Nadjib dari sesama santri.

Pernah saya berfikir, orang ini (maksudnya Emha Ainun Nadjib) sebenarnya mengerti ajaran Islam dengan benar, atau tidak. Kalau menguasai kajian keislaman, dari mana dan bagaimana dia belajar?

Maklum, dalam obrolan anak-anak santri, Cak Nun dikabarkan sebagai sosok yang tidak fanatik terhadap keberagamaan seseorang. Ceramah-ceramahnya berisi kritik sosial, dan tidak jarang dengan pedas mengingatkan penguasa.

Tetapi saya segera memperoleh keterangan yang menjadikan kesan saya atas Cak Nun semakin positif. Sekitar tahun 1997, kiai saya, almaghfurlah KH Ahmad Kholil Karim mendatangkan Cak Nun sebagai pembicara di perhelatan yang digelar pesantren. Malam itu, komplek pesantren dan sekitarnya dipenuhi ribuan pengunjung untuk mengikuti pengajian Cak Nun.

Pasca kegiatan itu, di depan beberapa santri, di kediaman beliau, Kiai Kholil menerangkan, “Emha Ainun Nadjib itu telah memiliki ‘kelebihan’ sejak kecil”.

Saya memahami, Kiai Kholil sedang ingin menjelaskan, mengapa santri juga perlu mendapat wawasan dari seorang budayawan dan aktivis sosial seperti Emha. Lebih dari itu, Emha dipilih sebagai pembicara juga atas pertimbangan matang, sebagaimana ketika menghadirkan pembicara berkelas lainnya.

Pada awal tahun 2000 saya mulai membaca profil (biografi singkat) Emha. Saya menemukan informasi, pria kelahiran Jombang, 27 Mei 1953 ini belajar keislaman di pesantren Gontor. Namun belum melewati setiap tahapan hingga jenjang terakhir, Emha muda keburu keluar. Belajar di pondok, kebiasaan dalam memelihara kemandirian berfikir sudah mulai nampak.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan.
Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia.
Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China.
Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni
Ali Romdhoni