Its My Faith

Panggung Cak Nun dan Kedaulatan Nalar Kita

oleh Ali Romdhoni

18 December 2017

iT’s Me- Syair “Tombo Ati (Obat Hati)” sangat populer di kalangan masyarakat santri Jawa. Terutama di desa-desa yang berada wilayah pesisir utara, seperti Pati, Kudus, Rembang, Demak (Jawa Tengah), hingga Tuban, Lamongan, dan Gresik (Jawa Timur), masyarakatnya mengenal dengan baik tembang yang konon dicipta oleh Kanjeng Sunan Kalijaga itu.

Di kampung saya, misalnya, “Tombo Ati” lazimnya dilantunkan oleh anak-anak maupun orang tua melalui corong pengeras suara di mushala atau masjid, sesaat sebelum shalat berjamaah didirikan.

Namun semenjak budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dengan diiringi grup musik gamelan Kiai Kanjeng menyanyikan “Tombo Ati” (1996-an), lagu itu tidak hanya berkumandang di acara pengajian. Tidak pula hanya terdengar dari suara anak-anak desa.

Melalui suara khas Cak Nun, tembang berbahasa Jawa itu juga terdengar dari dalam mobil, muncul di televisi, dan disiarkan radio. Bahkan rekaman lagu dalam bentuk kaset dan kepingan video compact disc (VCD) tersedia di pusat-pusat perbelanjaan.

Iya, Cak Nun berhasil membuka mata publik, bahwa di dalam masyarakat kita terdapat pengetahuan, seni dan budaya yang lebih bernilai dari emas dan permata. Sayangnya, di antara kita tidak mau mengerti, atau abai terhadap warisan (peninggalan) para pendahulu.

Sebelumnya, siapa yang peduli atau mengira lagu “Tombo Ati” bisa dilantunkan dengan khidmat, membuat siapa pun yang mendengarnya menarik nafas dalam. Tetapi Emha berhasil membuktikan kekuatan syair karya pujangga bumi Nusantara.

Cara Cak Nun membawakan lagu “Tombo Ati” seperti mengandung daya magis. Kekuatan lirik-lagunya mampu menembus batas-batas strata sosial. Abang becak, sopir, buruh, politisi, pejabat, mahasiswa hingga cendekiawan, semuanya memejamkan mata, bahkan merinding begitu mendengar alunan lagu sarat makna itu.

Tahun 1996 itu saya masih menjadi siswa Madrasah Aliyah Manba’ul Ulum dan bersamaan itu belajar di Pondok Pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah. Di pesantren, saya mendengar nama besar Ainun Nadjib dari sesama santri.

Pernah saya berfikir, orang ini (maksudnya Emha Ainun Nadjib) sebenarnya mengerti ajaran Islam dengan benar, atau tidak. Kalau menguasai kajian keislaman, dari mana dan bagaimana dia belajar?

Maklum, dalam obrolan anak-anak santri, Cak Nun dikabarkan sebagai sosok yang tidak fanatik terhadap keberagamaan seseorang. Ceramah-ceramahnya berisi kritik sosial, dan tidak jarang dengan pedas mengingatkan penguasa.

Tetapi saya segera memperoleh keterangan yang menjadikan kesan saya atas Cak Nun semakin positif. Sekitar tahun 1997, kiai saya, almaghfurlah KH Ahmad Kholil Karim mendatangkan Cak Nun sebagai pembicara di perhelatan yang digelar pesantren. Malam itu, komplek pesantren dan sekitarnya dipenuhi ribuan pengunjung untuk mengikuti pengajian Cak Nun.

Pasca kegiatan itu, di depan beberapa santri, di kediaman beliau, Kiai Kholil menerangkan, “Emha Ainun Nadjib itu telah memiliki ‘kelebihan’ sejak kecil”.

Saya memahami, Kiai Kholil sedang ingin menjelaskan, mengapa santri juga perlu mendapat wawasan dari seorang budayawan dan aktivis sosial seperti Emha. Lebih dari itu, Emha dipilih sebagai pembicara juga atas pertimbangan matang, sebagaimana ketika menghadirkan pembicara berkelas lainnya.

Pada awal tahun 2000 saya mulai membaca profil (biografi singkat) Emha. Saya menemukan informasi, pria kelahiran Jombang, 27 Mei 1953 ini belajar keislaman di pesantren Gontor. Namun belum melewati setiap tahapan hingga jenjang terakhir, Emha muda keburu keluar. Belajar di pondok, kebiasaan dalam memelihara kemandirian berfikir sudah mulai nampak.

Ketika kuliah di Universitas Gajah Mada, Emha tidak kerasan dengan sistem pendidikan formal, yang mengharuskan seorang calon sarjana menapaki setiap tahapan hingga dinyatakan lulus oleh sekelompok penguji. Emha lebih suka menentukan sendiri jenis-jenis pengetahuan yang dianggap penting, sekaligus menempuh cara yang tidak umum dalam memperolehnya.

Pelan-pelan saya mulai mendapatkan penjelasan, mengapa warna pemikiran Cak Nun cenderung melampaui batas umum dan tidak fanatik pada aliran atau tokoh tertentu.

Kegemaran Cak Nun justru memperhatikan hal-hal yang sebenarnya utama namun diabaikan gara-gara mementingkan hal yang remeh. Salah satunya, menemani rakyat kecil ketika mereka dibiarkan oleh ‘lembaga’ yang mengaku sebagai pelindungnya (pemerintah).

Cak Nun hadir dan menemani masyarakat Indonesia dalam beberapa bentuk. Melalui tulisan-tulisannya (puisi, esai, naskah drama, cerita pendek, makalah dan buku), lirik lagu, hingga datang langsung ke perkumpulan orang dari berbagai latar belakang.

Untuk hadir di tengah kerumunan dan berteman dengan orang dari berbagai golongan, Cak Nun membutuhkan energi besar. Pembawaan, cara dan muatan bicara Cak Nun harus tahan dalam berbagai situasi, ruang, dan waktu.

Saya sampai pada kesimpulan, Cak Nun adalah pribadi yang meminati kajian dalam beragam tema. Untuk mencapai hal itu, Cak Nun memangkas birokrasi yang berpotensi mengganggu bagi pencapaiannya terhadap pengetahuan tertentu. Cak Nun, misalnya, tidak begitu tunduk dengan standar kurikulum di sekolah, atau pengetahuan (kesimpulan) hasil kerja masyarakat akademik sekalipun.

Cak Nun mungkin membaca karya ilmiah itu, tetapi dia memilih menentukan sendiri jalan berfikir dan cara mengambil kesimpulan.

Saya menandai, hingga hari ini hampir tidak ada yang berubah dari kegiatan Cak Nun dalam membersamai masyarakat. Kalau ada yang berubah, itu adalah audiennya yang dari waktu ke waktu didominasi anak-anak muda (sekitar usia mahasiswa).

Saya juga ingin menegaskan, materi ceramah dan teknik penyampaian Cak Nun khas. Analisisnya atas persoalan bangsa Indonesia yang kompleks hampir belum pernah dipikirkan oleh orang lain sebelumnya. Ini pula yang menjadi misteri bagi saya. Dari mana jalur keilmuan (sanad) Cak Nun dalam memperoleh segala informasi yang dia sampaikan ke publik selama ini.

Di atas panggung, Cak Nun memiliki strategi unik dalam menciptakan ruang dialog, dan mempertahankan ribuan pasang mata tetap betah menatapnya. Jangan tanya bagaimana dia mengelola forum, melayani para penanya, atau orang yang tiba-tiba muncul di panggung. Ada saja trik untuk membatasi daminasi yang kurang perlu.

Cak Nun memberi ruang kepada tokoh setempat, atau siapa pun yang ingin menyampaikan pengetahuan baru kepada hadirin. Setiap yang hadir bisa berbicara di panggung Cak Nun, tetapi magnet utama tetap orasi Emha. Tampak, gaya manggung Cak Nun didukung materi pengetahuan yang kaya, selain kemampuan akting dan public speaking yang mumpuni.

Daya tarik orasi Cak Nun juga terdapat pada intonasi suara dan gestur yang serasi. Dari posisi duduk hingga cara memegang mikrofon, semua menjadi pemandangan khas di panggung-panggung Cak Nun.

Di depan ribuan jamaah, Cak Nun jarang berdiri. Kebiasaannya adalah setengah berdiri dengan menjadikan lutut sebagai penyangga badannya. Lebih sering lagi, Emha duduk dengan kedua kaki tepat di bawah pantat—mirip ketika seorang duduk tahiyat awal (iftirasy)—dan berjarak hanya dua meteran dari audiens.

Grup musik Kiai Kanjeng menyempurnakan panggung-panggung Cak Nun, mengisi jeda, dan membahasakan pesan-pesan berharga dengan tanpa menggurui. Melalui musik pula, berbagai khazanah seni dan kebudayaan khas Indonesia dikenalkan kepada pengunjung.

Emha menguasai beragam cengkok lagu daerah. Mulai dari Jawa, Madura, Melayu, hingga Arab, China dan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan di gereja. Ketika membacakan ayat suci atau berdoa, suara Cak Nun lembut menyentuh kalbu namun sesekali mengeluarkan hentakan seperti sedang merapal mantera.

Tidak jarang Cak Nun menawarkan analisis yang melawan kebenaran orang banyak. Mengenai Nabi Muhammad yang ‘berkemungkinan’ memiliki hubungan keturunan dengan bangsa Jawa, misalnya. Atau kekhasan karakter bangsa Indonesia yang berpotensi menjadi penyumbang bagi harmoni bangsa-bangsa di dunia.

Bila Anda menyimak penjelasan Emha, tentu sulit mencari celah kelemahan analisisnya.

Menurut saya, melalui panggung-panggungnya, Cak Nun sedang mengajari (mengajak) rakyat Indonesia untuk memiliki kedaulatan, dalam berfikir dan bertindak. Kita boleh menyikapi kondisi di sekitar kita, asalkan mengetahui duduk perkaranya.

Kalau pun belum mengerti tetapi harus segera bersikap, maka minimal memiliki dasar (alasan) dan bertanggung-jawab atas tindakan kita. Pasca itu, kita harus terus mencermati yang terjadi, dan mengapa bisa demikian.

Di tengah kondisi bangsa Indonesia yang didera pertarungan internal dan serangan budaya (pengetahuan) dari berbagai penjuru yang bahkan tidak kita sadari, tawaran berfikir Cak Nun bisa menantang kewarasan nalar kita.

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni