Its My Faith

Nikmat Allah Tak Hanya Untuk Agama Islam

oleh arpan

17 September 2017

iT’s me – Banyak kalangan sering mengutip potongan ayat berikut untuk mendukung pandangan bahwasanya Islam sebagai suatu agama yang disempurnakan setelah kedatangan Nabi Muhammad saw dan Allah mencukupkan nikmat-Nya (ni’mah) khususnya di titik ini serta khusus hanya untuk umat Muslim.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلْدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنْزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُواْ بِٱلأَزْلاَمِ ذٰلِكُمْ فِسْقٌ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلأِسْلاَمَ دِيناً فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“…Pada hari ini telah Aku sempurnakan (bahasa Arab: Akmultu) Agamamu untukmu, dan Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah aku ridai Islam sebagai agamamu…” (Q.S. Al-Maa’idah [5] ayat 3)

Pandangan eksklusifitas dari ‘nikmat’ (ni’mah) sebenarnya tidak ditemukan landasannya dalam Al-Qur’an.

Nikmat yang sama juga dicukupkan bagi Nabi Yusuf as, keluarga Nabi Yakub as, iskhaq as, dan Ibrahim as serta mereka semua yang menganut agama Islam

وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ ٱلأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَآ أَتَمَّهَآ عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (Yusuf untuk menjadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya (ni’mah) kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Iskhaq. Sungguh Tuhanmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (Q.S. Yusuf [12] ayat 6)

Sebagaimana tercatat dalam ayat di atas, nikmat Allah (ni’mah) bukanlah suatu acuan khusus pada mimpi atau interpretasi Nabi Yusuf.as karena nikmat serupa telah dikaruniakan kepada keluarga Nabi Yakub as, sebagaimana juga dikaruniakan kepada Nabi Ibrahim as dan Nabi Iskhaq.as.

Karenanya, nikmat (ni’mah) pasti memiliki arti yang lebih luas.

Nabi Muhammad saw dan para Muslim yang baru

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلْدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنْزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِ وَٱلْمُنْخَنِقَةُ وَٱلْمَوْقُوذَةُ وَٱلْمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلاَّ مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُواْ بِٱلأَزْلاَمِ ذٰلِكُمْ فِسْقٌ ٱلْيَوْمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَٱخْشَوْنِ ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلأِسْلاَمَ دِيناً فَمَنِ ٱضْطُرَّ فِى مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“…Aku cukupkan (bahasa Arab: wa-atmantu) bagimu (bahasa Arab: alaykum) nikmat-Ku (ni’mati)…” (Q.S. Al-Maa’idah [5] ayat 3).

Yusuf, Keluarga Yakub, Ibrahim, dan Iskhaq as.

وَكَذٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِن تَأْوِيلِ ٱلأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَآ أَتَمَّهَآ عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِن قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“…dan menyempurnakan (bahasa Arab: wa-yu timmu) nikmat-Nya (ni’matahu) kepadamu…” (Q.S. Yusuf [12] ayat 6).

APA ITU NIKMAT?
Poin pertama yang perlu dicatat dalam konteks narasi Al-Qur’an adalah ‘Islam’ tidak pernah menuntut kesempurnaan. Islam, secara hakiki, selalu sempurna secara keseluruhan dan merupakan agama yang disyiarkan oleh semua Nabi.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحاً وَٱلَّذِيۤ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُواْ فِيهِ كَبُرَ عَلَى ٱلْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ٱللَّهُ يَجْتَبِيۤ إِلَيْهِ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِيۤ إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ

“Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama (bahasa Arab: Din) yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa…” (Sebagian terjemahan dari Q.S. Asy-Syuura [42] ayat 13).

Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Arab di masa kenabian Muhammad saw sudah memiliki agama yang mereka anut dan jalankan. Diduga beberapa bagian agama ini bersinggungan dengan Islam. Demikian pula agama orang-orang Arab kuno.

Bagaimanapun juga, dengan ‘menyempurnakan’ agama orang-orang Arab yang tidak sempurna melalui proses menghilangkan doktrin-dokrin asing, praktik-praktik bid’ah, serta cara-cara yang tidak selaras dengan Islam, ia membersihkan agama dan menyempurnakannya dengan mengembalikannya pada ‘sistem’ yang telah diturunkan kepada semua orang beriman sebelum mereka, yaitu Islam.

Al-Qur’an menawarkan diri sebagai suatu ‘furqan’ (25:1), suatu kriteria yang membedakan antara yang benar dan yang salah serta suatu alat tamyiz atau kecakapan membedakan mana yang baik dan buruk.

Panduan tamyiz bagi orang-orang yang beriman inilah yang selalu dijanjikan (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 38, Q.S. Thaaha [20] ayat 123, Q.S. Ad-Dukhaan [44] ayat 3 sampai 5) yang mencukupkan nikmat (ni’mah).

قَالَ ٱهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعاً بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَىٰ

“Dia (Allah) berfirman, ‘Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka (ketahilah) barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Q.S. Thaaha [20] ayat 123).

Karenanya, jelas bahwa pencukupan nikmat dan pemberian panduan ke agama yang benar (Islam) tidaklah eksklusif ataupun khusus hanya pada Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Allah mencukupkan nikmat-Nya pada para Nabi dan umat-umatnya sebelum Nabi Muhammad saw yang juga memilih Islam sebagai agamanya.

KESIMPULAN
Berbeda dengan keyakinan umum umat Muslim, Islam bukanlah agama baru dan juga bukan diawali oleh kenabian Nabi Muhammad saw. Sebaliknya Islam kembali ditegakkan sebagai agama yang sama yang mengilhami semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Serupa dengan hal itu, nikmat Allah tidak dicukupkan hanya pada umat Muslim di masa Nabi Muhammad saw saja namun juga dikaruniakan Allah ke banyak Nabi dan umat sebelum Nabi Muhammad saw.

REFERENSI:
1) Quran.com
2) quransmessage

arpan