Featured, Its My Faith

Nasehat yang Menagih

oleh Ali Romdhoni, MA

15 October 2018

Pernahkah Anda merasa bahwa prinsip-prinsip kebijaksanaan (wisdom; value) yang kita pegang—dan bahkan telah dinasehatkan kepada orang lain—perlu direnungkan kembali? Mungkin selama ini kita meyakini satu rumus kehidupan, tetapi perjalanan waktu berbicara lain. Keadaan kemudian mendidik (memaksa) kita untuk meninjau ulang prinsip-prinsip yang kita yakini selama ini.

Saya pernah mengalami hal demikian, bahkan sampai membuat setengah putus asa. Karena kuatir tidak bisa menjadi contoh yang baik, saya enggan berbagi nasehat kebaikan ke orang lain. Jangan-jangan, wisdom yang kita ceramahkan akan berbalik menyindir diri sendiri.

Kegelisahan di atas akhirnya saya ceritakan kepada seorang figur yang saya hormati. Saya merasa terhibur karena tokoh alim ini menguatkan, bahwa menyampaikan kebaikan harus terus dilakukan. Kita bisa memulai dengan niat menebar kebaikan, kemudian lanjutkan dengan berharap kepada Allah agar mengarahkan dan melindungi langkah kita. “… Bila kerja-kerja ini tidak dilakukan, maka akan ada proses saling mengingatkan di tengah kehidupan ini yang hilang,” demikian nasehatnya.

Saya pun teringat dengan nasehat seorang bijak bestari, bahwa kebenaran memiliki banyak jalan dan rupa. Satu prinsip (rumus kehidupan), misalnya, bisa cocok untuk dipedomani oleh seseorang namun belum tentu berhasil bila dijalankan oleh yang lainnya.

Hal yang bisa dijadikan pelajaran di sini, kita tidak boleh mencemooh orang lain karena jalan dan keadaan yang mereka hadapi belum sebaik kita saat ini. Setiap orang memiliki bagian jalan kehidupan dengan dinamika masing-masing yang unik. Karena itu, seyogyanya kita tidak merasa paling benar di hadapan orang lain.

Apakah juga karena hal ini, seorang ulama kesohor di Kalimantan, misalnya, enggan memberikan ceramah di hadapan publik tanpa kitab atau buku pegangan. Pembelajaran kepada masyarakat yang selalu menantinya dilaksanakan dengan membacakan hikmah yang telah dinasehatkan oleh para ulama zaman dulu, yaitu orang-orang yang sudah teruji kebaikan dan komitmennya dalam menjalankan perintah Allah hingga akhir hayat.

Guru Zaini Martapura sebenarnya sedang mengajarkan sikap cerdas. Dengan membacakan kitab di depan audien, kita tidak sedang menggurui orang lain. Kegiatan pembelajaran yang kita lakukan hanya sebatas menyampaikan ajaran dari para pendahulu.

Pilihan sikap yang demikian juga dilakukan untuk menjaga diri agar terhindar dari motivasi yang kurang baik (riya; pamer), atau merasa punya ilmu, yang justru akan menyulitkan kita di hari kemudian.

Di sana juga ada kisah-kisah teladan dari para pujangga Muslim jaman dulu yang tidak berkenan mempublikasikan manuskrip yang telah selesai ditulis. Kitab-kitab itu baru beredar di masyarakat setelah sang penulis wafat. Maka, pihak keluarga dan para anak didiknya yang akhirnya menerbitkan karya sang guru atas dasar wasiat yang sudah diterima sebelumnya.

Ini adalah contoh kehati-hatian seorang ulama dalam menjaga motivasi berbagi ilmu pengetahuan agar tidak bercampur dengan orientasi sesaat. Lalu bagaimana kita membaca keteladanan di atas untuk menyikapi kondisi saat ini?

Setiap jaman memiliki kisah dan tantangannya sendiri. Laju perkembangan teknologi media saat ini telah memungkinkan siapa pun untuk menyebarkan informasi dengan sangat mudah dan cepat. Lahirlah ribuan bahkan jutaan analis, komentator, hingga penceramah ilmu agama yang sewaktu-waktu bisa menyampaikan berita di akun media sosial.

Arus informasi yang terbit setiap saat sangat deras. Public pembaca pun sampai kewalahan dalam menyimak berita. Di sisi lain, user tidak memiliki waktu yang cukup untuk memilah dan menguji kualitas konten informasi dan juga integritas sang pembawa berita. Ini tentu menjadi kegelisahan tersendiri.

Kondisi ini mau tidak mau harus difahami para cerdik pandai. Bagaimana pun, informasi dari para penulis berkualitas dan bertanggung-jawab harus lebih berlipat jumlahnya. Sumber infromasi dan pengetahuan di media massa harus didominasi oleh author yang paham bahwa seorang penulis (pembawa berita; penasehat) akan dimintai pertangung-jawaban atas setiap kata yang disampaikan ke publik. Jumlah penulis dengan kriteria ini harus lebih banyak lagi mengisi konten artikel dan berita di jagat media sosial.

Namun demikian, personal integrity harus dimiliki seorang penulis, termasuk para tokoh rujukan di masyarakat. Meskipun belum bisa mengikuti secara total, keteladanan sikap para ulama di atas bisa menjadi semacam renungan. Begitu pun ketika saya menuliskan pemikiran ini, sesungguhnya saya meniatkan untuk berbagi kebaikan, sembari terus belajar menjadi pribadi yang berguna. Wallahu a’lam bis-shawab.

Ali Romdhoni, MA

Lecturer at the Islamic Studies faculty of Wahid Hasyim University Semarang, Indonesia. Living in Harbin, China.