iT’s Me– Selama ini saya melihat umumnya orang tua mendidik anaknya dengan ketakutan terhadap Allah dengan gambaran yang sangat menyeramkan, mereka lupa hal itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka dalam bersosial. Begitu juga orang tua saya, sejak kecil mereka memperkenalkan sifat sifat Allah yang Maha Menghukum. Memang benar Allah akan memberikan ancaman kepada manusia yang tidak taat kepada perintahNya, tapi sebaiknya orang tua tidak menjadikanya sebagai proritas utama. Jika sifat-sifat Allah maha menakutkan yang pertama di ketahui oleh anak maka secara fisikologis ia akan kehilangan spirit Tuhan yang Maha Pengampun, Maha pengasih dan Penyayang, dampak yang paling buruk adalah sang anak mulai melihat orang lain dengan spirit awal yang di tanamkan kepadanya. Contoh, ketika ia melihat orang lain tidak sama dengan yang di ajarkan orang tuanya atau tidak persis sepertinya, ada kemungkinan ia akan menjaga jarak, ada kalanya ia akan coba untuk mengajari orang lain dengan kepolosanya. Nuansa ini berpengaruh besar terhadap mental kedewasaanya kelak.

Baca juga : Kisah Masa Kecil Tentang Islam

Dahulu bapak ibu saya mengajarkan, “jangan lupa sholat ya nak, sholat itu wajib, mengaji harus rutin, kalau kau kamu tidak sholat nanti kamu di bakar Allah, kalau tidak rajin baca Qur’an Allah celupkan ke air panas mendidih. Pokoknya kamu masuk neraka, mama bapak juga masuk neraka”. Sebagai seorang anak yang tidak ingin menjadi durhaka kepada kedua orang tuanya, perkataan itu sangat melekat di benak saya. Memang orang tua saya tidak mengajarkan untuk menggurui orang lain, tapi kebiasaan menggurui dengan sendirinya muncul ketika melihat orang lain tidak melakukan seperti yang orang tua saya ajarkan, sehingga saya menganggap mereka pasti tempatnya di neraka. Rasa ibah kepada mereka semakin tinggi, saya tidak ingin mereka di hukum Allah di neraka, dengan spontan saya mengingatkan mereka, bermaksud baik tapi sebenarnya itu menyakiti perasaan mereka.

Ternyata cara mendidik seperti itu masih terus berlanjut sampai sekarang, saya melihat beberapa anak masih mengalami seperti apa yang saya pernah alami. Padahal menurut saya hal itu sangat fatal, kemungkinan dewasa kelak hati dan pikirannya akan keras dan anarkis terhadap sesama manusia. Selain itu, jika anak di asupi dengan sifat Tuhan yang Maha Melaknat, maka ia bisa menjadi manusia yang kaku dalam beragama dan bersosial, ia juga akan bersikap “keras” terhadap orang lain yang tidak seiman.

Dalam hal ini saya tidak bermaksud menyalahkan orang tua saya atau orang tua pada umunya, karena saya pun paham bahwa apa yang mereka ajarkan kepada anaknya adalah ajaran yang ia dapatkan dari orang tua mereka juga.

Oleh karena itu, Sudah saatnya memutuskan mata rantai cara mendidik seperti ini. Jika orang tua mendidik anak dengan Kasih Sayang Tuhan, maka ia juga bisa tumbuh menjadi manusia yang santun, lemah lembut dan memiliki tenggang rasa terhadap sesama.

Sebaiknya kita tidak lagi menggunakan cara cara mendidik seperti yang saya sebutkan. Karena bagi saya sudah saatnya mendidik anak dengan mengenalkanya sifat cinta Allah kepada semua ciptaanya. Kemungkinan apa yang saya maksud tidak lebih baik, setidaknya saya mulai memikirkan masa depan anak dan keluarga saya kelak untuk tidak melihat manusia lainya sebagai sumber dosa, ataupun sebagai penyebab seseorang masuk kedalam neraka, yang paling penting adalah mereka terhindar dari jangkauan teroris santoso, yang baru saja merekrut belasan anak muda yang masih labil dalam bepikir.