itsme.id- Fenomena kita di masa kini sangat dekat sekali dengan yang namanya kedangkalan, secara kostum kita sudah menunjukkan seperti kaum alim tapi secara akal dan pemahaman jauh dari keilmuwan, akibatnya kita hanya memahami apa yang terlihat di permukaan saja tanpa pernah melihat lebih dalam lagi, dan yang paling hebat memberikan kritik.

Beberapa kelompok kita muslim yang takut akan perubahan dan berpendapat kritis, dan bahkan reformasi atau katakanlah membuat paham lain masuk dalam agama sudah merupakan ancaman bagi eksitensi agama tersebut. Disini pemikiran mereka hanya berfokus pada eksistensi dan mempertahankan status quo atau keadaan tetap sebagai­mana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya, biasanya kelompok ini mudah kita temui di lingkungan sekitar kita sebagai kelompok yang menaruh ketundukan yang berlebihan pada pemimpinnya dan seolah-olah sumber kebenaran hanyalah apa yang terucap dan tertulis dari mulut pemimpinnya.

Kemudian kelompok yang tidak serta merta mempertahankan status quo tapi masih membuka ruang untuk masuknya reformasi islam tapi mereka menganggap bahwa tidak perlu sampai adanya penghapusan dari point-point dalam agama yang tidak sesuai dengan zaman. Artinya disatu sisi mereka menjunjung katakanlah toleransi atau pun kemanusian, tapi masih bersekat pada kalangan mereka sendiri dan biasanya masih ada prasangka negatif meskipun tidak di jewatahkan dalam bentuk perbuatan yang kasar terhadap berbagai macam perbedaan disekeliling mereka, singkat kata sebenarnya mereka belum dewasa untuk memahami sepenuhnya agama tapi sudah satu langkap membuka pemikiran meskipun belum total.

Ada juga yang yang berani untuk mengkritik,mereformasi, ataupun merevsi ajaran agama mereka sendiri dan lebih terbuka dengan perbedaan, tidak ada lagi perasaan negatif didalam pikiran mereka tentang perbedaan yang ada hanyalah toleransi yang sudah berada pada level kesalingpengertian dan kesalingmelengkapi tidak seperti dikelompok kedua yang dimana bertoleransi tapi belum tentu sepaham untuk saling pengertian apapun saling melengkapi. Contoh nyata saja di kelompok ketiga mendapatkan pemimpin yang bukan dari agama mereka sudah tidak lagi dipermasalahkan haram atau halalnya karena bagi mereka pemimpin bisa datang dari manapun dan bukan soal agamanya apa, tapi bagaimana kinerja disini kebanyakan mereka tidak berpikir lagi apa dan darimana, lebih kepada bagaimana karena sudah mencapai kedewasaan pengertian. Dikelompok kedua meskipun mereka toleran tapi mereka masih tidak setuju ketika menyangkut soal pemimpin dari non muslim atau mungkin pernikahanan beda agama karena bagi mereka masih ada batasan.

Menurut saya dari kelompok-kelompok itu mungkin kelompok ketiga yang paling bagus, kelompok ketiga juga ada kelemahan yaitu biasanya mereka yang berada pada posisi pemikiran dan pemahaman seperti kelompok ketiga yang sudah terbuka,berani merevisi, berani untuk kritisi, dan bahkan berani untuk mengkaji lebih jauh keyakinan keagamaan mereka sendiri, tapi mereka masih belum berani untuk membagikan secara luas pemikiran mereka kepada khalayak dan cenderung berkumpul dengan kelompok mereka saja, ya akibatnya apapun pemikiran yang mereka hasilkan hanya berputar- putar dan dipahami dikelompok mereka saja. (Adi/Palembang)

Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asy’ari, dari Nabi, beliau bersabda, Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagian mereka menguatkan sebagian yang lain, dan beliau menjalin antara jari-jarinya.

Isi dari tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

https://www.itsme.id/muslim-vs-mukmin/