Its NOT Me

Mulut manis, hati pahit, menuju kekuasaan

oleh DerielHD

21 September 2018

Lucu.. ada ada saja cara orang untuk meraih kekuasaan. Mulai dari memanfaatkan situasi, kata-kata yang menurut mereka kurang bagus karena terselip lidah, memprovokasi pemilih milenial, hingga memanfaatkan perasaan emak-emak yang katanya saat ini sedang tersiksa. Seolah tebal muka, buta mata dan hati, hingga tak punya rasa malu, beberapa dari orang yang ingin berkuasa saling klaim bahwa kelompok milenial dan emak-emak sangat mendukung mereka karena program yang mereka bawa di peperangan politik 2019 jauh lebih baik dan bisa menyelesaikan segudang permasalahan bangsa ini.

Tak mengherankan jika kemudian banyak dari antara mereka yang tampil di stasiun tipi dan di depan orang banyak dengan muka tembok, tanpa rasa malu, memainkan lidah mereka untuk mendapatkan sorakan dan pujian dari pendukung mereka masing-masing. Yah bukanlah sebuah hal yang aneh lagi, mengingat dari sejak jaman Nabi, orang-orang seperti ini sudah banyak sekali yang bermunculan ke permukaan bumi. Mereka bagaikan jamur yang menjalar dan tumbuh dimana-mana. Ddibutuhkan anti jamur yang cukup kuat untuk menagkal semua serangan mereka.

artikel terkait : Jangan sesat! Doa yang benar harus disertai dengan usaha

Kini, karena sangat ingin sekali, (pake banget) untuk berkuasa, emak-emak akhirnya menjadi nilai jual yang sangat menjanjikan. Kenapa? Karena katanya emak-emak yang paling mengerti akan kebutuhan hidup dalam rumah tangga. Tempe semakin tipis, sudah setipis ATM. Harga bahan pokok sudah semakin tidak terjangkau, malahan kalo bawa uang 100 ribu kita hanya akan membawa pulang cabe ama bawang aja. Ada emak-emak di Sumatera Utara yang katanya hanya makan keong, dan mereka semua, katanya, satu suara untuk tidak lagi mendukung pemerintah yang ada saat ini di pemilu nanti. Itulah emak-emak yang hidup di bagian bumi yang datar sono.

Berbanding terbalik dengan Ibu-ibu yang menamakain diri sebagai Ibu-ibu Bangsa. Mereka menolak untuk disebut sebagai emak-emak karena karena mungkin kalo disebut emak-emak itu lebih terkesan hanya tahu mengurus rumah tangga saja, dan sudah mentok sampe disitu tanpa ada usaha yang lain. Ya mereka dengan semangat berkeliling pasar-pasar tradisional untuk membuktikan apakah benar uang 100 ribu sudah tidak ada artinya? Apakah benar tempe sudah setipis kartu ATM? Adan apakah memang saat ini ekonomi sudah semakin sulit? Hasilnya, ya sobat bisa liat sendiri di di YouTube, dimana banyak sekali video pembuktian yang berseliweran.

Kita sedang bicara masalah mental sob! Memang, jika sobat ingat mengenai janji pemerintah untuk menyediakan 10juta lapangan pekerjaan untuk anak bangsa? Tentu saja lapangan pekerjaan itu sudah tersedia, cuman kalo kita hanya duduk dan bersantai di dalam rumah dan menghabiskan makanan yang sudah dimasak emak dengan susah payah karena ekonomi yang makin sulit, maka kita tetap saja akan menjadi pengangguran. lapangan pekerjaan sudah tersedia, tapi kalo sobat gak kompeten ya perusahaan pasti mikir juga, iya kan? Atau okelah ada lapangan pekerjaan yang tersedia, tapi elu maunya pekerjaan yang langsung enak, jadi bosnya misalnya, ya susah dong. Sampe disini paham?

artikel terkait : Gus Mus, nasihat di tahun politik

Mau siapapun pemerintahnya tapi kalo kaliannya yang malas, meskipun lapangan pekerjaan itu berlimpah, kalian akan tetap jadi pengangguran.

Itu hanya beberapa contoh isu yang saat ini akan digoreng sedemikian rupa oleh mereka yang bernafsu untuk menguasai bangsa ini. Saya rasa kitalah yang harus lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Berharap kepada mereka yang mulutnya manis namun hatinya penuh tipu muslihat hanya akan membuat kita tertipu dan menggigit jari pada akhirnya. Jangan mau dibohongi, apa mau nasib bangsa kita ini sama seperti jekardeh?

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis