Its NOT Me

Merokok atau enggak, siapa yang harus toleransi?

oleh DerielHD

9 October 2018

Saya rasa hampir semua orang sepakat bahwa asap rokok itu cukup mengganggu. Apalagi bagi sebagian orang yang alergi terhadap asap rokok. Rasanya ya, jika ada orang yang merokok disamping kita, bawaannya pengen nabok aja. Sulit memang untuk merubah kebiasaan merokok seseorang yang sudah berlangsung bertahun tahun, bahkan puluhan tahun. Saya ingat ketika masa-masa SMP dulu, beberapa dari teman saya sudah mulai merokok, dan hingga saat ini usia mereka sudah menginjak kepala tiga bahkan ada yang sudah kepala 4, merokok seolah tak lepas dari aktifitas sehari-hari.

Pertanyaannya, siapa yang harus menahan diri atau bertoleransi? Apakah si perokok atau yang nggak merokok? Pertanyaan ini muncul ketika kami sedang rapat untuk membahas kegiatan yang akan diselenggarakan oleh Yayasan Hidayah Bangsa. Ada panitia yang gak pernah lepas dari yang namanya rokok, setiap memesan ruangan untuk rapat, dia selalu pesennya yang smoking room atau mesennya di luar ruangan supaya dia bisa merokok. Kemudian dengan iseng rekan panitia yang lainnya bertanya, “mengapa kami yang tidak merokok yang harus selalu mengalah?”

baca juga : Harga sebuah pengakuan

Pertanyaan yang saat itu langsung membuat kami semua terdiam. Benar sekali, pada kenyataannya, kita yang tidak merokok memang selalu mengalah, padahal kita adalah korban mereka. Survey membuktikan bahwa yang lebih rentan untuk terkena penyakit yang mematikan atau terkena dampak buruk dari asap rokok justru adalah mereka yang merupakan perokok pasif atau yang menghirup asap yang dihembuskan oleh si perokok. Lantas, kenapa kita harus mengalah? Bukankah itu sama saja dengan kita dengan sengaja memberikan tubuh kita kepada penyakit?

Merokok

Ilustrasi : google

Bagi saya yang seharusya mengalah itu adalah mereka yang merokok, supaya yang sehat tidak menjadi pesakitan seperti mereka. Dan bukankah merupakan suatu hal yang baik jika, demi kesenangan diri sendiri, sanggup untuk membuat orang lain terganggu. Kecuali jika si perokok memang sudah gak punya kepekaan sama sekali atau sudah mati rasa terhadap kemanusiaan.

Hingga saat ini saya masih belum mendengar alasan yang paling masuk akal mengenai mengapa sebagian besar perokok susah untuk berhenti dari kebiasaan buruknya itu. Beberapa orang teman saya yang katanya ingin berhenti malah mengeluhkan betapa sulitnya untuk menghilangkan kebiasaan itu, katanya mulut terasa asam dan pekat hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali merokok.

baca juga : Manusia tanpa hati

Memang ya, yang namanya lepas dari kebiasaan buruk merupakan hal yang sulit dan sangat membutuhkan niat dari pribadi orang itu sendiri. Tidak ada sesuatupun yang bisa diraih dengan cara yang instan, namun jika tujuannya sudah tercapai, saya yakin ada rasa nikmat yang sangat luar biasa bagi orang tersebut.

Jika kemudian ada pertanyaan mengenai siapa yang harus bertoleransi, maka bagi saya, si perokoklah yang harus bertoleransi danmengutamakan kepentingan banyak orang. Jangan karena keegoisan kita hingga akhirnya kita tega mengorbankan kesehatan banyak orang yang masih sehat dan terganggu dengan kebiasaan buruk kita.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis