Its NOT Me

Menolak Valentine’s Day? Emang Kamu diajak?

oleh DerielHD

15 February 2019

Lagi rame nih sob, mengenai sekelompok mahasiswa salah satu Universitas di Bogor yang melakukan aksi damai menolak perayaan Valentine’s Day. Jadi ceritanya ada sekolompok Mahasiswa yang tergabung dalam Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus Bogor. Mereka ramai-ramai melakukan aksi damai di Tugu Kujang, Bogor, dengan membawa spanduk dengan berbagai macam tulisan pernyataan penolakan terhadap perayaan hari Valentine.

Gak hanya di Bogor sob. Di daerah lain juga ada aksi serupa. Ada pelajar di Aceh, ada Emak-emak di Bengkulu, di Sampit, dan beberapa daerah lainnya. Semuanya satu suara menolak perayaan 14 Februari sebagai perayaan Hari Valentine dan lucunya, menghimbau pemerintah (gak tahu pemerintah pusat atau pemerintah daerah) untuk memberikan imbauan dan larangan supaya masyrakat tidak merayakan Hari Valentine.

Dikutip dari tribunnews.com, salah satu alasan kuat mengapa Hari Valentine tidak boleh dirayakan di Indonesia yak arena bertentangan dengan ajaran agama dan sudah diharamkan oleh MUI. Yang paling menarik perhatian penulis adalah pernyataan salah seorang peserta aksi damai tersebut, Wendi, yang menyebut Cokelat sebagai symbol kemaksiatan. Waduhh! Kalau sudah begini kasihan para petani cokelat dong? Kasihan penjual cokelat juga.. Jika dikatakan cokelat sebagai symbol kemaksiatan, maka mereka sudah terlibat dalam tindakan maksiat.

Sobat pembaca yang budiman. Tidak salah jika diantara kalian ada yang tidak setuju dengan perayaan Valentine di Indonesia. Benar bahwa tradisi perayaan Valentine’s Day adalah tradisi dari luar. Penulis hanya merasa sedikit lucu jika untuk hal yang seperti ini kalian, para mahasiswa, yang memiliki pemikiran tingkat tinggi, mau turun ke jalan dan panas-panasan supaya rekan-rekan kalian tidak usah merayakan hari Valentine. Betapa mulianya hati kalian. Akan tetapi, Neng, Aa, emak, Babeh, adik-adik sekalian, sama seperti kalian memiliki hak untuk menggelar aksi damai menolak perayaan Valentine di Indonesia atau minimal di daerah kalian, rekan-rekan kalian, anak emak-emak, kakak-kakak kalian, juga memiliki hak untuk merayakan Hari Kasih Sayang sebagai tanda atau kesempatan untuk berekspresi, ya sejauh masih sesuai dengan norma-norma kesopanan yang berlaku di masyarakat dan masih dalam batas-batas kewajaran.

Harus kita ingat bahwa sejauh mata memandang, maka sejauh itu juga kita memiliki kecenderungan untuk menghakimi perilaku orang lain, sementara tanpa kita sadari, kita seringkali melakukan hal yang jauh lebih buruk. Mulia sekali hati kalian untuk melakukan aksi damai dan menolak perayaan hari valentine supaya rekan-rekan kalian tidak sampai melakukan hal maksiat (menurut kalian). Penulis setuju dan bangga. Akan tetapi penulis dan mungkin benyak masyarakat akan lebih bersimpati kepada kalian jika kalian juga menghormati hak-hak dari rekan-rekan kalian yang hendak meramaikan perayana hari kasih sayang ini.

Jika di Turki ratusan ribu bunga telah habis terjual kepada pasangan muda-mudi disana selama Hari Kasih Sayang ini, atau di Afganistan dimana toko-toko cokelat ramai oleh pembeli yang hendak memberikan kejutan kepada orang yang dikasihi, kalian juga memberikan kejutan kepada rekan-rekan kalian dengan melakukan aksi damai dan melarang mereka untuk berekspresi.

Apakah yang melakukan aksi damai tersebut adalah jomblo sejati atau orang yang kurang mendapatkan kasih sayang? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Sejatinya, untuk menyatakan kasih dan sayang bisa dilakukan kapan saja, namun ya gak ada salahnya jika ada satu hari dalam setahun dimana semua orang diseluruh dunia saling berbagi kasih dan memberikan kejutan bagi orang yang mereka kasihi, bisa kepada orang tua, anak, istri/suami, kepada pacar, kepada guru, atau bahkan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan.

DerielHD

National Media Coordinator at PT. International Fokus Media, Aktivis dan Penggiat Media, Penulis