iT’s Me- Bersuka-cita dalam menyambut hari raya Idul Fitri merupakan hal yang wajar. Terlebih lagi saat ini ketika—dengan bantuan teknologi informasi—kita bisa terlibat atau sekedar melihat kegiatan orang lain, dan di tempat yang berbeda. Saat-saat seperti ini pikiran kita akan cepat terbawa arus suasana yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Maka, berhari-raya Idul Fitri dengan menjalani ritual yang umum dilakukan oleh masyarakat kita merupakan kepuasan yang sempurna. Kebahagiaan ini tidak akan tergantikan oleh event lain, dan hampir mustahil bisa ditemukan di hari-hari yang lain di luar hari raya. Benar demikian, bukan.

Tetapi meskipun demikian, bukan berarti kita akan membiarkan diri ini kehilangan sisi lain, makna terdalam dari hari raya Idul Fitri. Dalam artikel ini saya akan mengulas pesan-pesan yang baik dimengerti oleh setiap orang yang merasa ikut senang dengan datangnya hari raya Idul Fitri.

Kita semua mengetahui dan juga bisa menyaksikan, sebelum hari raya Idul Fitri tiba umat Islam yang akan merayakannya diharuskan menjalani serangkaian ibadah. Mulai dari berpuasa Ramadhan, menjalani ibadah shalat sunnah di malam harinya, bertadarus al-Quran, memperbanyak bersedekah, menghadiri majelis ilmu, dan lain sebagainya.

Serangkaian ibadah wajib dan sunnah tambahan itu harus dijalani oleh umat Islam. Ini belum termasuk ibadah wajib yang pada hari-hari sebelumnya memang sudah rutin dijalankan, seperti shalat wajib lima waktu, dan lainnya. Apa artinya ini semua. Menurut hemat saya, serangkain ibadah tersebut tidak lain adalah tahapan yang harus dicapai oleh seorang manusia beriman sebelum memasuki hari raya Idul Fitri.

Artinya, ibarat perjalanan, untuk bisa mencapai kilometer Idul Fitri terlebih dulu harus melewati kilometer-kilometer sebelumnya. Menjalankan serangkaian ibadah selama Ramadhan bertujuan untuk menyucikan diri, membangun fondasi kesiapan mental dan spiritual, sebelum seseorang memasuki dimensi baru yang tingkatannya lebih tinggi.

Seorang hamba Tuhan akan berhenti atau mengurangi perilaku yang bisa mengantarkan manusia melakukan perbuatan tercela. Asupan makanan, misalnya, yang merupakan faktor utama penghasil energi manusia akan dikendalikan sedemikian rupa.

Pada siang hari berhenti memberi asupan makanan pada tubuh. Hanya pada malam hari dia akan makan dan minum. Itupun akan digunakan dengan sepenuhnya untuk bermunajat (beribadah; memohon ampun) kepada Allah.

Demikian pula aktifitas lain yang bisa membangkitkan potensi manusia untuk melakukan keburukan, semuanya akan ditekan. Menghujat, membenci, bergosip, menghasut dan sejenisnya, semuanya ditinggalkan. Kajian ilmu tasawuf menyebut proses di atas sebagai takhalli, yaitu membersihkan atau mengosongkan diri dari perbuatan dan sifat buruk.

Setelah semua potensi buruk ditanggalkan, selanjutnya seorang hamba Tuhan akan memenuhi hari-harinya dengan perbuatan mulia. Melahirkan rasa sayang terhadap anggota keluarga, berbagi kebahagiaan kepada sesama, dan berbagai pekerjaan mulia lainnya akan menghiasi diri seorang hamba yang saleh.

Tahapan ini, dalam kajian tasawufnya dikenal sebagai tahalli, yaitu menghiasi diri dengan amal baik. Maksudnya, bila seorang hamba ingin berhasil mencapai predikat sebagai manusia sempurna maka harus membiasakan diri hidup sesuai ajaran agama.

Ketika tahapan takhalli dan tahalli sudah dilakukan oleh seorang salik (musafir di jalan Tuhan), maka dia berpotensi sampai pada dimensi tajalli. Secara sederhana, tajalli berarti pencerahan batin. Tajalli merupakan kondisi seseorang yang telah berhasil menghadirkan dimensi ‘ketuhanan’ dalam diri. Di sini, setiap gerak-gerik seorang salik telah berkesesuaian dengan ketentuan Tuhan.

Kembali lagi kepada perbuatan mulia yang dilakukan menjelang Idul Fitri, semua itu dilakukan untuk memperoleh ampunan dari Allah. Semua proses ibadah di atas tidak lain adalah sebagai tebusan atas kesalahan kita sebagai manusia di hadapan Tuhan. Dalam proses ini seorang hamba Tuhan menjalin hubungan lebih ‘intim’ dengan sang pencipta, Allah Azza wa Jalla.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia
Mahasiswa S3 Heilongjiang University, China
Penulis buku antara lain: 9 Sumber Kecerdasan dan Kebijaksanaan (Jakarta: Penerbit Baca, 2016); Al-Qur’an dan Literasi: Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman (Jakarta: Linus, 2012).
Ali Romdhoni

Latest posts by Ali Romdhoni (see all)