iT’s me – Saya belum pernah masuk ke wilayah Indonesia di daerah paling dalam, terutama yang berbatasan langsung dengan wilayah negara tetangga. Saya mendengar suka-duka menjadi bagian dari masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan dari teman-teman saya yang asli dari daerah tersebut.

Di Kalimantan Barat, misalnya, kawasan itu berbatasan langsung dengan wilayah Negara Malaysia. Menjadi warga masyarakat di daerah itu, khususnya yang berada di dekat garis perbatasan antar negara memiliki tugas ganda. Selain menjadi warga seperti pada umumnya, mereka adalah yang terdepan dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apakah yang demikian itu sederhana? Ternyata tidak.

Berada di wilayah garis perbatasan membuat seseorang bisa mengintip keberadaan ‘rumah tangga’ orang lain. Iya, kalau kondisi kita lebih baik dan sejahtera. Tetapi, kalau ternyata di depan mata terdapat aneka kemudahan dan kita bisa saja memilih menjadi mereka, bukankah yang demikian akan menjadi godaan berat.

Godaan yang saya maksud adalah keragu-raguan. Apakah bertahan menjadi diri sendiri meski dengan berbagai kesulitan. Atau, memutuskan untuk menjadi orang lain yang tampak lebih sejahtera.

Berbicara mengenai tema di atas, saya menemukan pelajaran berharga tentang nasionalisme dan keteguhan menjadi anak Indonesia dalam film berjudul Batas (dirilis Mei 2011). Film berdurasi 115 menit ini disutradarai oleh Rudi Soedjarwo.

Di sini, saya tertarik menceritakan Adeus (Marcell Domits), seorang anak muda yang bertahan menjadi guru dan tinggal di Entikong, kampung kecil di tengah hutan, di daerah Kalimantan Barat. Dari batas wilayah Malaysia, Entikong hanya berjarak delapan kilometer saja.

Menjadi guru anak-anak suku Dayak yang memiliki semangat hebat untuk belajar, Adeus harus berhadapan dengan Otik (Otiq Pakis), penyalur jasa tenaga kerja illegal yang berkedok sebagai pemilik warung. Adeus diancam akan dibunuh, bila masih mengajar anak-anak di sekolahan. Apalagi kalau sampai mendatangkan atau menerima guru bantu dari luar daerah.

Di Entikong, alam pikir masyarakat dikendalikan oleh Otik beserta anak buahnya. Pendidikan tidak dibutuhkan oleh masyarakat Dayak di pedalaman. Hal terpenting bagi mereka adalah keterampilan mengasah mandau, berburu, berladang dan menjadi tenaga kerja di negara orang dengan janji upah yang melimpah.

Adeus memiliki ceritanya sendiri. Berkat bantuan dari berbagai pihak, kelak guru muda yang sempat frustasi ini berhasil menemukan solusi atas permasalahan social dan pendidikan di kampung halamannya.

Dengan memaknai sekolah secara longgar, Adeus berhasil mengajak anak-anak suku Dayak di pedalaman terus belajar, tanpa harus mengganggu waktu mereka untuk membantu orang tua mencari nafkah. Sekolah dilaksanakan di alam luas, di tepi sungai, atau di dekat perkebunan. Terkadang, proses belajar juga diselingi dengan permainan dan berburu binatang.

Iya, dalam Batas, Adeus berhasil menghadirkan sekolahan yang sesuai dengan alam fikir dan adat-istiadat masyarat Dayak. Alam raya, rimba, sungai, kebun dan sawah juga bisa disulap menjadi ruang kelas yang memungkinkan dibuat belajar. Dengan teknik mengajar yang sesuai, anak-anak Dayak bibuat betah belajar.

Cerita di atas memang hanya ada di dalam film Batas. Itu pun mengisahkan Entikong, daerah perbatasan yang mungkin sangat jauh dari tempat tinggal kita. Namun kisah-kisah seperti di atas sangat dibutuhkan untuk mengasah kepekaan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari satu bangsa.

Selanjutnya saya ingin menggaris-bawahi dua hal, sebagai hasil pembelajaran dari kisah di atas. Pertama, tanggung-jawab untuk menjaga anugerah terindah bernama Indonesia.



Ali Romdhoni

Ali Romdhoni

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia
Mahasiswa S3 Heilongjiang University, China
Penulis buku antara lain: 9 Sumber Kecerdasan dan Kebijaksanaan (Jakarta: Penerbit Baca, 2016); Al-Qur’an dan Literasi: Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman (Jakarta: Linus, 2012).
Ali Romdhoni