Its My Life

Menjadi Indonesia adalah Panggilan

oleh Ali Romdhoni

3 August 2017

iT’s me – Saya belum pernah masuk ke wilayah Indonesia di daerah paling dalam, terutama yang berbatasan langsung dengan wilayah negara tetangga. Saya mendengar suka-duka menjadi bagian dari masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan dari teman-teman saya yang asli dari daerah tersebut.

Di Kalimantan Barat, misalnya, kawasan itu berbatasan langsung dengan wilayah Negara Malaysia. Menjadi warga masyarakat di daerah itu, khususnya yang berada di dekat garis perbatasan antar negara memiliki tugas ganda. Selain menjadi warga seperti pada umumnya, mereka adalah yang terdepan dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apakah yang demikian itu sederhana? Ternyata tidak.

Berada di wilayah garis perbatasan membuat seseorang bisa mengintip keberadaan ‘rumah tangga’ orang lain. Iya, kalau kondisi kita lebih baik dan sejahtera. Tetapi, kalau ternyata di depan mata terdapat aneka kemudahan dan kita bisa saja memilih menjadi mereka, bukankah yang demikian akan menjadi godaan berat.

Godaan yang saya maksud adalah keragu-raguan. Apakah bertahan menjadi diri sendiri meski dengan berbagai kesulitan. Atau, memutuskan untuk menjadi orang lain yang tampak lebih sejahtera.

Berbicara mengenai tema di atas, saya menemukan pelajaran berharga tentang nasionalisme dan keteguhan menjadi anak Indonesia dalam film berjudul Batas (dirilis Mei 2011). Film berdurasi 115 menit ini disutradarai oleh Rudi Soedjarwo.

Di sini, saya tertarik menceritakan Adeus (Marcell Domits), seorang anak muda yang bertahan menjadi guru dan tinggal di Entikong, kampung kecil di tengah hutan, di daerah Kalimantan Barat. Dari batas wilayah Malaysia, Entikong hanya berjarak delapan kilometer saja.

Menjadi guru anak-anak suku Dayak yang memiliki semangat hebat untuk belajar, Adeus harus berhadapan dengan Otik (Otiq Pakis), penyalur jasa tenaga kerja illegal yang berkedok sebagai pemilik warung. Adeus diancam akan dibunuh, bila masih mengajar anak-anak di sekolahan. Apalagi kalau sampai mendatangkan atau menerima guru bantu dari luar daerah.

Di Entikong, alam pikir masyarakat dikendalikan oleh Otik beserta anak buahnya. Pendidikan tidak dibutuhkan oleh masyarakat Dayak di pedalaman. Hal terpenting bagi mereka adalah keterampilan mengasah mandau, berburu, berladang dan menjadi tenaga kerja di negara orang dengan janji upah yang melimpah.

Adeus memiliki ceritanya sendiri. Berkat bantuan dari berbagai pihak, kelak guru muda yang sempat frustasi ini berhasil menemukan solusi atas permasalahan social dan pendidikan di kampung halamannya.

Dengan memaknai sekolah secara longgar, Adeus berhasil mengajak anak-anak suku Dayak di pedalaman terus belajar, tanpa harus mengganggu waktu mereka untuk membantu orang tua mencari nafkah. Sekolah dilaksanakan di alam luas, di tepi sungai, atau di dekat perkebunan. Terkadang, proses belajar juga diselingi dengan permainan dan berburu binatang.

Iya, dalam Batas, Adeus berhasil menghadirkan sekolahan yang sesuai dengan alam fikir dan adat-istiadat masyarat Dayak. Alam raya, rimba, sungai, kebun dan sawah juga bisa disulap menjadi ruang kelas yang memungkinkan dibuat belajar. Dengan teknik mengajar yang sesuai, anak-anak Dayak bibuat betah belajar.

Cerita di atas memang hanya ada di dalam film Batas. Itu pun mengisahkan Entikong, daerah perbatasan yang mungkin sangat jauh dari tempat tinggal kita. Namun kisah-kisah seperti di atas sangat dibutuhkan untuk mengasah kepekaan kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari satu bangsa.

Selanjutnya saya ingin menggaris-bawahi dua hal, sebagai hasil pembelajaran dari kisah di atas. Pertama, tanggung-jawab untuk menjaga anugerah terindah bernama Indonesia.

Proses panjang sejarah telah membawa kita menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Hal ini tidak bisa kita pungkiri lagi. Maka, hanya dengan mencitai dan membangun Indonesia kita akan semakin bermartabat di tengah masyarakat bangsa-bangsa lain di dunia.

Dalam Batas, Adeus memilih mendengarkan panggilan nuraninya untuk menjaga dan merawat tanah tumpah darahnya. Meskipun orang lain menjanjikan ada ‘surga’ di rumah tetangga, Adeus merasa memiliki tanggung-jawab menjaga rumahnya sendiri. Bahkan ketika ancaman menghadang, dia tetap bertahan menduduki tanah kelahiran.

Adeus memilih terus mengajar anak-anak. Dengan satu harapan, kelak mereka bisa berfikir bagaimana bertahan dan mengelola negerinya sendiri, tanpa harus bergantung kepada siapa pun.

Panggilan untuk berbakti kepada tanah air memang misteri. Menurut pengalaman saya, mencintai negeri sendiri lahir dari kelembutan dan kejernihan fikiran. Berangkat dari kesadaran telah memperoleh anugerah dari Tuhan yang Maha Kuasa, seseorang kemudian terpanggil untuk mencintai negaranya, berbakti dan membangun masyarakatnya.

Terkait dengan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini yang terus disibukkan dengan masalah domestik, mungkin sebagian dari kita merasa kecil hati. Sampai kapan kondisi bangsa Indonesia akan terus seperti ini. Masyarakat terbelah menjadi pro-kontra, suka-tidak suka, dan seterusnya.

Berada dalam situasi yang demikian, acuh terhadap kondisi yang terjadi di tengah masyarakat tidak akan menjadikan kita lebih baik. Maka tidak ada pilihan lain, kita harus tampil menjadi bagian dari orang yang mengurangi banyaknya persoalan itu. Bermula dari diri sendiri, kita harus mengajak generasi muda untuk terus belajar dan tidak mengulangi lagi kesalahan dari para pendahulunya.

Kedua, keinginan untuk melakukan kebaikan ternyata bukan tanpa rintangan. Niat baik dan idealisme terkadang mengundang tantangan tersendiri.

Dalam Batas, Adeus adalah satu-satunya pemuda Entikong yang memiliki cita-cita dan upaya membangun masyarakat. Bukannya mendapat dukungan, orang-orang di sekitarnya justru yang menjadi penghambat. Tetapi, itulah perjalanan dalam kehidupan. Wallahu a’lam bis-shawab.

 

Ali Romdhoni

Peneliti, penulis buku dan penggemar jalan-jalan. Dosen FAI Universitas Wahid Hasyim Semarang, Indonesia. Sedang studi doktoral di Heilongjiang University, China. Pengurus Cabang Istimewa NU Tiongkok. Bisa disapa lewat facebook: 'Dhoni' Ali Romdhoni atau twitter: @kata_dhoni