Its My Faith

Mengklarifikasi Kembali ‘Industri Budaya’

oleh arpan

14 April 2018

Teks mengenai Industri Budaya pertama kali muncul dalam buku Dialectic of Enlightenment pada tahun 1944. Dalam tulisan itu Adorno dan Horkheimer ‘membantai’ habis logika di balik produksi kultur lewat media massa terutama film dan radio. Dalam ‘Culture Industry Reconsidered’, Adorno secara tergas memisahkan ‘budaya massa’ dengan ‘industri budaya’. Alasannya, agar tidak ada kesalahmengertian bahwa massa sendiri secara spontan dapat melahirkan kebudayaan, bentuk kompetorer dari kesenian populer.

Pembedanya jelas: industri budaya menciptakan budaya untuk dikonsumsi massa dan hingga titik tertentu menentukan sifat konsumsi itu sendiri. Dalam hal ini massa adalah obyek kalkulasi; sebuah tempelan dari kerja mesin, dimanfaatkan untuk menduplikasi, memperkuat, dan mempertahankan mentalitas. Dalam teks ini Adorno mengesahkan kembali bahwa budaya industri memperhatikan massa semata-mata untuk tujuan produksi dan reproduksi. ‘Massa ,,, adalah ideologi industri budaya’ (Adorno 1963: 99).

Industri budaya memiliki karakteristik berupa munculnya struktur bentuk yang serupa antara satu produk dengan produk lainnya. Dengan menggunakan teknik-teknik industrial kontemporer dan standarisasi ‘gaya’, similaritas produk budaya dimungkinkan berjalan sesuai dengan pertimbangan profit. Komoditas industri budaya ini melibatkan sistem produksi dan distribusi yang dalam perancangannya mampu menghasilkan keuntungan lebih dari esensi produk yang dihasilkan. Namun dalam memahami ‘industri’ ini Adorno mengingatkan untuk tidak memaknainya terlalu harafiah sebagai proses produksi saja, karena kuncinya ada pada standarisasi dan rasionalisasi teknik distribusi. Industrial dalam hal ini bersifat sosiologis, sebagai inkorporasi bentuk-bentuk industri meskipun sebenarnya tidak ada yang dihasilkan (seperti rasionalisasi kerja kantoran). Dalam industri budaya, teknik sedari awal adalah distribusi dan reproduksi mekanikal, dan selalu eksternal terhadap obyeknya.

Adorno kemudian menekankan bahwa posisi mencurigai pengaruh industri budaya harus dilakukan dengan serius tanpa ‘cultured snobbism’ (kesongongan berbudaya). Karena melihat budaya dengan peran sosialnya, kritik sering dianggap mengabaikan pertanyaan soal kualitas, kebenaran/kepalsuan, dan nuansa estetika industri budaya. Namun, menurut Adorno, justru percampuran antara estetika dengan aspek komunikatif residual ini membuat seni, sebagai sebuah fenomena sosial, berada di posisi yang salah. Ketika seni tidak ditempatkan dalam konstitusi massa, dan hanya dilihat secara ‘obyektif’ terhadap dirinya, ia malah mempertahankan karakter monopolinya. Di sisi lain, Adorno juga menolak respon terhadap industri budaya yang sekadar ‘produk itu tidak memiliki seni sama sekali’. Kritik semacam itu hanyalah argumen ideologis semata, menghindari tanggung jawab sosiologis di mana praktik bisnis itu terjadi. Pertimbangan-pertimbangan seperti ini bukanlah kritik serius!

Menurut saya, di sinilah poin penting sikap Adorno dalam melihat industri budaya dan kesenian. Adorno tidak sedang berusaha mencari analisis sosial yang obyektif mengenai fenomena ini. Justru, pertanyaan terhadap industri budaya lahir dari perspektif relasi antara industri budaya tersebut dengan kemungkinan tranformasi sosial; ia harus dipahami melalui perspektif potensi dampak terhadap kebebasan utuh, entah itu mewujudkan atau menghalangi (Bernstein 1991: 2). Dalam hal ini Adorno tidak peduli apakah sebuah budaya itu berkualitas estetis ‘tinggi’ atau ‘rendah’; selama dia berada dalam logika ‘industrial’ ia harus ditantang secara dialektis. Sebuah kebudayaan, baik itu eksterior maupun interiornya, harus dilihat baik secara filosofis dan sosiologis; ‘gaya’ dan ‘teknik’ dalam sebuah produk perlu dibuat transparan sebagai sebuah fungsi dan proses sosial.

from: Mansur Abadi [email protected]Anggota World allience religious peace (Warp ) international

arpan